Lewati ke isi

Tulisan

20 Tahun Perjuangan Masyarakat Adat: Merayakan AMAN & HIMAS 2019

“Hidup Masyarakat Adat! Hidup!
Masyarakat Adat, Bangkit Bersatu! Berdaulat!
Bangkit Bersatu! Mandiri!
Bangkit Bersatu! Bermartabat!”

Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi, meneriakkan seruan-seruan perjuangan tersebut. Suaranya lantang. Air mata mengalir dari matanya. Suka dan duka dua puluh tahun perjuangan Masyarakat Adat menyatu dalam kata-kata yang ia ucapkan.

Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang hadir mewakili Presiden Jokowi, tampak terpukau. Saya merasa ia dapat menangkap semangat perjuangan sekaligus kritik yang disampaikan Sekjen AMAN atas nama Masyarakat Adat kepada pemerintah. Sebab hingga saat itu, pemerintah belum sepenuhnya hadir bagi Masyarakat Adat. RUU Masyarakat Adat belum juga disahkan dan banyak komunitas masih mengalami diskriminasi di wilayahnya sendiri.

Seluruh Masyarakat Adat dari berbagai wilayah Nusantara yang hadir menjawab seruan Sekjen AMAN. Kepalan tangan dan air mata menyatu di dalam teriakan. Dua puluh tahun perjuangan bersama AMAN menjadi ruang refleksi bagi mereka pada saat itu.

Pada Senin, 9 Agustus 2019, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, ratusan Masyarakat Adat dari berbagai wilayah Nusantara dan dari luar negeri berkumpul. Melalui pidatonya, Sekretaris Jenderal AMAN menjaga api perjuangan mereka tetap menyala.

“Hotu, Iyaya, I Yayat U Santi,” serta berbagai salam khas Masyarakat Adat menggema hari itu.

“Memperteguh Tekad – Memperkuat Akar – Memperluas Solusi” tertulis besar pada latar panggung utama.

Pada 9–11 Agustus 2019, ratusan Masyarakat Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul di TIM. Mereka datang untuk merayakan dua puluh tahun AMAN sekaligus memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS), bersama AMAN dan perwakilan Masyarakat Adat dari Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Deputi IV Sekjen AMAN Bidang Sosial dan Budaya, Mina Susana Setra, menjadi ketua kegiatan besar tersebut.


Perayaan dua puluh tahun AMAN dan HIMAS 2019 diisi dengan berbagai kegiatan: pameran produk serta kerajinan Masyarakat Adat, pertunjukan seni budaya, pekan film Masyarakat Adat, pameran foto, lokakarya seni Masyarakat Adat, sajian kuliner, dan permainan tradisional. Seluruh kegiatan berpusat di TIM.

Panggung kebudayaan berlangsung meriah. Tarian, syair, puisi, pantun, dan musik dari berbagai komunitas Masyarakat Adat menjadi pusat perhatian. Kegiatan yang dimulai pada malam hari berlangsung hingga hampir tengah malam. Semua orang bergembira. Panggung budaya hanya berlangsung pada malam pertama dan ketiga. Malam kedua ditiadakan karena bertepatan dengan malam menjelang Idul Adha. Pada malam itu, seorang laki-laki naik ke panggung, mengambil mikrofon, lalu mengajak umat Islam dan bahkan mereka yang bukan Muslim di sekitar panggung untuk merayakan malam takbiran bersama. Beberapa orang spontan naik ke panggung. Seseorang mulai memainkan gendang. Yang lain melantunkan pujian dan bergantian mengucapkan “Allahu Akbar”.

Malam itu saya merasa melihat Indonesia yang sesungguhnya. Banyak orang dari latar etnis, agama, dan kepercayaan yang berbeda berkumpul dan merayakan bersama saudara-saudara Muslim. Saya berpikir, mungkin di dalam komunitas Masyarakat Adat, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan yang menyatukan.


Pertunjukan kebudayaan tidak hanya diisi oleh Masyarakat Adat dari Indonesia. Komunitas dari luar negeri juga tampil. Masyarakat Adat dari Taiwan, misalnya, menghidupkan malam pertama melalui pertunjukan mereka. Walaupun sebagian besar penonton tidak memahami lirik yang dinyanyikan, kegembiraan terlihat jelas dari ekspresi mereka.

Panggung budaya juga tidak hanya menghadirkan musik yang lembut. Musik bertempo cepat, bahkan dengan nuansa rock & roll, dimainkan terutama oleh Pemuda Adat. Salah satunya adalah Fery Sape dengan alat musik sape yang kadang dipadukan dengan loop beat cepat. Ada pula Tindoki, band dari Toraja yang memadukan musik tradisional dan modern. Penampilan mereka menarik perhatian banyak orang meskipun liriknya menggunakan bahasa Toraja. Musik itu menyampaikan pesan yang jelas: bentuk musik dapat berubah mengikuti zaman, tetapi nilai dan identitas tempat musik itu berasal tidak boleh hilang.


Permainan tradisional dilaksanakan pada siang dan sore hari. Kegiatan ini terutama dipimpin anak-anak dari Sekolah Adat di berbagai wilayah Nusantara, walaupun banyak pemuda dan tetua ikut bermain. Permainan masa kecil yang masih diingat oleh generasi yang tumbuh hingga 1990-an dimainkan kembali. Ada pula permainan tradisional khas berbagai komunitas. Permainan itu masih hidup—belum berubah menjadi benda atau artefak masa lalu. Ia tetap menjadi bagian dari kebudayaan hidup Masyarakat Adat dan anak-anak kampung di berbagai wilayah Nusantara.

Pameran produk Masyarakat Adat ditempatkan di pondok-pondok beratap daun sagu yang berjajar rapi dari pintu masuk hingga kawasan dekat panggung budaya. Kain tenun, pakaian, kerajinan tangan, madu, kopi, ukiran, kalung, gelang, dan berbagai produk lainnya dipamerkan. Masyarakat Adat dan pengunjung memenuhi kawasan ini—membeli sekaligus bertukar informasi mengenai produk. Di luar manfaat ekonomi, terjadi pula pertukaran pengetahuan.

Lokakarya seni Masyarakat Adat juga berlangsung di pondok-pondok tersebut, meskipun beberapa kegiatan memiliki ruang tersendiri. Tato, ukiran, tenun, dan berbagai kerajinan dapat dilihat dan dicoba pengunjung. Saya menghabiskan cukup banyak waktu menyaksikan demonstrasi tato dari komunitas Masyarakat Adat Mentawai. Seorang perempuan adat dari Brasil menerima tato Mentawai. Ia tampak bangga setelah memilih desain dan mendiskusikannya dengan seniman. Bagi saya, bagian pentingnya adalah percakapan mengenai makna antara seniman dan peserta. Perayaan ini bukan proses satu arah.

Pekan Film Masyarakat Adat dan pameran foto berlangsung di gedung yang sama. Pemutaran film dilakukan di teater kecil TIM dan dikelola Indonesia Nature Film Society (INFIS). Setelah proses kurasi yang panjang, puluhan film mengenai Masyarakat Adat diputar selama tiga hari. Diskusi mengenai persoalan Masyarakat Adat dan percakapan dengan pembuat film menjadi bagian dari program. INFIS memiliki pengalaman dalam film mengenai alam dan kebudayaan, termasuk komunitas Masyarakat Adat, sehingga AMAN bekerja sama dengan mereka.

Pameran foto juga ramai dikunjungi. Foto-foto menampilkan kehidupan Masyarakat Adat—alam, kebudayaan, tokoh, ritual, kegiatan, dan komunitas. Pameran juga menghadirkan dokumentasi perjuangan AMAN sejak 1999, profil para pendirinya, dan peta wilayah adat. Foto-foto tersebut menjadi ingatan penting yang diharapkan dapat menyentuh setiap orang yang melihatnya.

Kuliner Masyarakat Adat tersedia sejak hari pertama hingga hari terakhir, dari pagi sampai malam. Berbagai makanan tradisional dari Nusantara disiapkan di sebuah dapur bersama yang besar. Laki-laki dan perempuan dari komunitas Masyarakat Adat bergantian memasak. Hidangan daging, sayuran, dan berbagai rasa lahir dari dapur tersebut. Walaupun dapurnya sederhana, di sanalah kehidupan berlangsung. Rasa dan pengetahuan menjadi identitasnya. Makanan disajikan kepada ratusan orang, dan semua tampak senang—terutama karena dapat menikmati makanan dari berbagai wilayah Nusantara di satu tempat.

Makanan tidak hanya memberi kepuasan fisik; bagi sebagian orang, makanan juga memberi kepuasan emosional.

Selain kegiatan-kegiatan tersebut, seminar dan lokakarya juga dilaksanakan. Salah satunya diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) dan Weaving Ties (ALDEA Foundation – Ecuador) dengan tema Indigenous Communication Networks and Modern Technology. Kegiatan berlangsung pada 10–11 Agustus 2019 di TIM.

Lokakarya tersebut melibatkan Pemuda Adat dari berbagai wilayah Nusantara serta peserta dari Brasil, Ekuador, dan Meksiko. Saya ikut hadir mewakili BPAN dan berbicara mengenai Smartphone Movement—gerakan yang digagas Pemuda Adat untuk menggunakan smartphone sebagai alat advokasi. Melalui smartphone, kami dapat membuat film, desain grafis, dan tulisan yang kemudian dibagikan secara real-time melalui media sosial. Perangkat itu juga digunakan untuk menjaga dan mempelajari kembali bahasa-bahasa lokal yang mulai menghilang.

Pada malam terakhir, panggung kembali menjadi pusat perayaan. Masyarakat Adat dari luar negeri menyampaikan apresiasi mereka terhadap kegiatan besar tersebut.

“Siapa lagi kalau bukan kita”—sebuah lagu yang akrab di kalangan Pemuda Adat—menambah kegembiraan malam penutupan. Pemuda Adat dari berbagai wilayah naik ke atas panggung dan menyampaikan pesan lagu tersebut dalam bahasa mereka masing-masing. Penonton melompat, berteriak, dan bergembira bersama. Seolah kelelahan dari bertahun-tahun perjuangan menghilang untuk sesaat. Tawa dan kegembiraan menutupi sementara luka dan kehilangan yang dialami Masyarakat Adat.

Namun perayaan dua puluh tahun AMAN dan HIMAS 2019 menjadi tonggak baru—sebuah ruang refleksi sekaligus pijakan untuk melanjutkan perjuangan menjaga wilayah adat dan keberadaan Masyarakat Adat pada masa depan.

I Yayat U Santi
Kalfein M. Wuisan
Pemuda Adat Minahasa