Tulisan
Gerakan Media Digital dari Kelelondey


Nama panggilannya Quin. Kedengarannya hampir seperti Harley Quinn, tokoh dari semesta DC Comics. Tetapi Quin yang satu ini sangat berbeda. Bukan hanya karena namanya hanya memiliki satu huruf “n”; sikap dan karakternya juga jauh berbeda. Ia rendah hati dan penuh sopan santun. Dan yang paling penting, ia adalah manusia nyata, bukan tokoh fiksi.
Nama lengkapnya Joaquin Esther Rumagit. Ia adalah seorang anak muda Minahasa dari Kampung Walewangko, Langowan.
Sejauh yang saya ketahui saat itu, Quin Rumagit adalah pembuat film perempuan termuda di Sulawesi Utara yang saya kenal—mungkin juga salah satu yang termuda di Indonesia. Usianya baru 13 tahun. Namun bagi saya, film-filmnya luar biasa. Setelah menonton video dan film yang dibuatnya, saya merasa sangat terinspirasi. Saya yakin, dengan hadirnya orang-orang seperti Quin, masa depan film di Sulawesi Utara dan Indonesia akan cerah.
Saya pertama kali melihat karyanya ketika ayahnya, Donny Rumagit, meminta saya menilai sebuah film pendek yang dibuat Quin. Film itu sangat singkat. Saya tahu betul betapa sulitnya membuat film pendek, terutama film yang hanya berdurasi sekitar satu menit. Saya terkejut. Eksekusinya sangat baik; sebagai karya audiovisual, pengerjaannya matang. Ternyata video tersebut dibuat untuk kompetisi Remaja Teladan GMIM 2021, dan ia meraih juara tiga. Namun dari gagasan dan konsep yang dibawanya, bagi saya ia pantas menjadi yang terbaik.
Saya menyaksikan karya Quin lainnya secara langsung pada Minggu, 18 Juli 2021, ketika tiga film karya peserta Sekolah Media Digital PUKKAT pertama diluncurkan. Selama kegiatan, Quin ditemani adiknya, Daniel Rumagit. Walaupun baru berusia sembilan tahun, Daniel tampak sangat antusias. Dalam sesi teori dan praktik, ia menyimak dengan serius. Ia mengajukan pertanyaan yang sederhana, tajam, dan substansial. Ketika praktik, ia cepat memahami materi dan mampu menghasilkan gambar yang baik. Daniel dan Quin memang tumbuh sebagai generasi digital native; mereka hidup di dalam kebudayaan digital. Dalam sekolah itu, saya menjadi salah satu fasilitator dan berbagi mengenai Smartphone Movement.

Pada 16–18 Juli 2021, Quin menjadi peserta termuda dari lima orang yang mengikuti Sekolah Media Digital yang diselenggarakan Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT). Jumlah peserta sekolah pertama dibatasi karena pandemi COVID-19; dari banyak orang muda dan komunitas di Langowan, hanya lima orang yang mengikuti kegiatan tersebut.
PUKKAT adalah organisasi masyarakat sipil yang didirikan pada 2013 dan berfokus pada multikulturalisme, feminisme, serta jurnalisme. Ketiga isu tersebut menjadi dasar untuk mengembangkan kehidupan demokratis di masyarakat dan dijalankan melalui kerja riset dan kajian, advokasi dan pelatihan, serta publikasi. Sekolah Media Digital PUKKAT merupakan salah satu ruang untuk berbagi pengetahuan mengenai konten digital, karya media digital, dan advokasi media kepada generasi muda dalam jaringan PUKKAT.
Pada sekolah pertama tersebut, PUKKAT bekerja bersama orang muda Langowan dan Solidaritas Kelelondey Memanggil. Tema yang dipilih adalah “Advokasi Media: Media Digital dalam Kebudayaan Minahasa”. Melalui kegiatan ini, kemampuan orang-orang muda seperti Quin diasah sekaligus diperdalam melalui pengetahuan tentang media.
Selain Quin, sekolah diikuti oleh para penggerak Solidaritas Kelelondey Memanggil: Iren Manaroinsong, Frenly Manaroinsong, Romel Manaroinsong, dan Riano Mokalu. Mereka adalah orang muda yang tumbuh dari kehidupan Kelelondey. Selama tiga hari mereka mempelajari konten digital, riset dan advokasi media, dasar-dasar desain grafis, fotografi, dan sinematografi. Dari proses itu lahir tiga film tentang Kelelondey.

Selama tiga hari tersebut, peserta dan fasilitator belajar bersama. Ru’kup—nilai kebersamaan Minahasa—menjadi dasar dan penggerak sekolah. Pada hari terakhir, ketiga film diluncurkan bersama diskusi bertajuk “Digital Culture dalam Diskursus Kebudayaan Minahasa Hari Ini”. Kegiatan berlangsung dengan cara yang unik, di kawasan perkebunan Marintek, Langowan. Angin dari hamparan Kelelondey berembus ketika Dr. Denni Pinontoan, Ketua PUKKAT, secara resmi meluncurkan film-film tersebut.
Film pertama, Bolung: Son of Kelelondey, dibuat oleh Iren dan Frenly Manaroinsong. Film ini menceritakan Wandy Bolung, petani Kelelondey berusia 31 tahun yang memilih menjadi petani sejak berumur 16 tahun. Dari bertani ia dapat membangun rumah, membeli mobil, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hubungannya dengan tanah sangat kuat. Baginya, kehidupan petani tidak memiliki arti tanpa Kelelondey.
“Tanah Kelelondey… bisa dilihat dari mata dan wajah kami; ini benar-benar kehidupan kami. Tidak ada arti tanpa Kelelondey,” ungkap Wandy.
Ia juga memasarkan hasil kebunnya sendiri. Menurutnya, hasil Kelelondey bergerak jauh melampaui Sulawesi Utara hingga Sorong, Talaud, bahkan Jakarta karena kualitas tanaman yang baik dan cukup kuat untuk perjalanan distribusi.

Film kedua, Kelelondey, karya Riano Mokalu dan Romel Manaroinsong, berbicara mengenai hubungan manusia dengan tanah. Film dibuka dengan kalimat: “Kelelondey adalah tempat, tempat Papa dan Mama mencari kehidupan.” Film tersebut juga membicarakan arti nama Kelelondey.
“Kelelondey. ‘Londey’ diambil dari bahasa lokal kita. Londey seperti ‘malondey-londey’, artinya seperti perahu,” jelas Hanz Maki, mantan Hukum Tua Raringis selama 26 tahun.
Ia menegaskan bahwa Kelelondey merupakan harapan utama bagi masyarakat dari sembilan kampung di sekitarnya.

Film ketiga, karya Quin, berjudul Vecky Kelelondey. Film ini menceritakan seorang petani bernama Vecky yang telah bertani sejak muda.
“Saya tidak melanjutkan sekolah karena memilih bertani,” kata Vecky dalam film.
Ia berhasil menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya melalui tomat, rica, bawang daun, dan kol. Dalam satu musim tomat, ia mengatakan dapat memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp40 juta dan bisa menanam hingga tiga kali setahun. Vecky juga menegaskan bahwa Kelelondey tidak hanya menghidupi petani, tetapi menciptakan pekerjaan bagi banyak orang.
“Kami petani, tetapi kami juga mempekerjakan orang. Kalau ada yang tidak punya pekerjaan, kami panggil untuk bekerja bersama… jadi Kelelondey membuka banyak lapangan kerja, bagi perempuan maupun laki-laki.”

Quin, Iren, Frenly, Riano, Romel, dan Daniel mewakili generasi baru orang muda Minahasa yang hidup di dalam kebudayaan digital. Mereka memilih media yang paling dekat dengan generasinya: smartphone dan internet. Melalui smartphone mereka menghasilkan foto, film, dan karya grafis. Melalui internet mereka membagikan informasi secara real-time. Cara pandang ini bertemu dengan Smartphone Movement, gerakan digital Pemuda Adat yang tumbuh di Minahasa dan terhubung dengan Pemuda Adat di berbagai wilayah Nusantara.
Smartphone Movement bergerak dari kampung ke kampung di Minahasa, berbagi pengetahuan tentang bagaimana memaksimalkan smartphone untuk berkarya, menjaga, dan membangun Tana’ Minahasa sekaligus menginspirasi orang lain. Orang-orang muda Kelelondey menyadari bahwa memanfaatkan kemajuan teknologi merupakan cara untuk mengambil sikap dan menginspirasi banyak orang—termasuk dalam perjuangan menjaga tanah leluhur mereka, Kelelondey.
Mereka mengubah media digital menjadi gerakan kebudayaan: Gerakan Media Digital. Mereka memulainya dari Kelelondey, dari kampung, dari kebun, dengan smartphone di tangan. Mereka sedang menjawab panggilan untuk menjaga Kelelondey.