Tulisan
Perempuan Adat Kelelondey

Oma Femmy Momongan (65) dan Tanta Oli Pangalila (62) sedang asyik bekerja, memainkan sekop untuk menggali tanah di kobong Kelelondey. Terik matahari menyengat mereka sejak pagi hingga sore. Dua perempuan Minahasa ini mengolah tanah untuk menopang kehidupan.
Ketika menghunjamkan sekop ke tanah, Oma Oli sesekali mengusap keringat di dahinya yang telah berkerut. Ia mengenakan topi besar bertepi lebar yang sedikit melindunginya dari panas matahari. Tanta Femmy memiliki watak yang ceria; sesekali ia menggoda dan bercanda dengan Oma Oli, wajahnya tetap berseri tanpa menunjukkan rasa lelah.

Kerja dua Perempuan Adat Minahasa ini mungkin terlihat biasa. Bagi sebagian orang, pekerjaan yang mereka lakukan terasa berat dan melelahkan. Tetapi tidak bagi mereka, juga tidak bagi sebagian besar perempuan petani yang menggantungkan hidup pada hasil Kelelondey.
Sekitar satu kilometer dari Kampung Raringis, Oma Oli dan Tanta Femmy bekerja berdampingan. Mereka mengerjakan lahan milik warga setempat sebagai pekerja harian atau sewa hari. Meskipun mempunyai kebun sendiri yang harus dirawat, mereka juga bekerja di kebun orang lain untuk memperoleh upah sekitar Rp125.000 per hari.

Tanah Kelelondey merupakan campuran tanah dan pasir, keadaan yang sangat cocok untuk hortikultura. Ditambah udara pegunungan yang sejuk, Kelelondey menjadi ruang subur bagi berbagai tanaman. Sebagian besar orang yang mengolah tanah di sana menanam rica, tomat, bawang daun, kol, wortel, petsai, serta jagung, labu, terong, dan mentimun. Hasil-hasil ini menjadi produksi utama bagi masyarakat dari sembilan kampung yang berkebun di Kelelondey, dan sebagian hasil panen dikirim hingga Jakarta dan Papua.
Oma Oli dan Tanta Femmy tidak berbeda dari banyak perempuan petani lain di Minahasa. Mereka bekerja sebagaimana suami mereka bekerja, berdiri setara—berbagi kerja di kebun sekaligus pekerjaan domestik di rumah.
“Kalau torang nda kerja, torang nda makan,” kata Oma Oli.
Ucapan itu sangat dekat dengan falsafah hidup Tou Minahasa: Ca tumawoi, ca kuman—kalau tidak bekerja, tidak makan. Kerja untuk menopang kehidupan menjadi pegangan orang Minahasa tanpa dibatasi jenis kelamin.
Pemandangan perempuan bekerja di kebun dapat ditemukan di berbagai kampung di Minahasa. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa dalam kerja untuk mempertahankan kehidupan, perempuan bukan pelengkap. Oma Oli dan Tanta Femmy menjadi contoh konkret yang membantah stigma bahwa perempuan Minahasa hanya dinilai dari penampilan.