Lewati ke isi

Tulisan

Smartphone Movement: Sebuah Metode Dekolonisasi oleh Pemuda Adat

Smartphone Movement adalah gerakan kebudayaan yang diprakarsai generasi muda untuk menjaga wilayah leluhur. Gerakan ini tumbuh dari kampung-kampung di Minahasa dan digerakkan oleh beberapa Pemuda Adat Minahasa sebagai bentuk tanggung jawab kebudayaan dari generasi yang menyadari manfaat teknologi bagi masyarakat hari ini dan generasi yang akan datang.

Disebut sebuah gerakan karena kesadaran mengenai pemanfaatan smartphone secara efektif untuk menjaga wilayah leluhur dimiliki bersama oleh banyak orang. Kesadaran itu hidup di antara Pemuda Adat di kampung-kampung.

Smartphone digunakan sebagai medium untuk mendokumentasikan, menyebarkan informasi, menghasilkan karya—tulisan, film, dan grafis—serta berinteraksi dengan banyak orang di mana saja dan kapan saja secara real-time. Semua itu juga didukung oleh beragam fitur media sosial.

Di Minahasa, Smartphone Movement diwujudkan melalui pemaksimalan penggunaan smartphone. Perangkat ini digunakan untuk menulis—reportase, esai, atau status media sosial—memotret, membuat gambar dan karya grafis seperti meme, infografis, logo, pamflet, serta karya visual lainnya, membuat film dari proses merekam hingga mengedit dan menyebarkannya, serta berkomunikasi secara intensif menggunakan bahasa adat.

Dua kegiatan yang paling sering dilakukan dalam Smartphone Movement di Minahasa adalah menulis dan membuat film. Namun pelatihan fotografi dan pembuatan karya grafis melalui smartphone juga dilakukan.

Menulis

Di Minahasa, pelatihan menulis dilakukan oleh komunitas menulis maupun komunitas seni dan budaya di kampung-kampung. Pesertanya adalah orang muda kampung yang menggunakan smartphone. Mereka melakukan wawancara, mengambil foto, lalu menulis langsung melalui telepon genggam. Setelah selesai, tulisan dibicarakan dalam grup WhatsApp atau Facebook, atau langsung diunggah ke media sosial agar dapat tersebar.

Membuat Film

Spesifikasi smartphone saat ini sudah mampu digunakan untuk membuat video atau film pendek. Selain harganya semakin terjangkau, pilihan perangkat juga semakin banyak. Karena itu, banyak orang muda memilih smartphone untuk kebutuhan multimedia, termasuk membuat film. Di kampung-kampung Minahasa, banyak orang muda tertarik membuat film dengan smartphone. Mereka membuat film pendek lucu, mendokumentasikan kegiatan seni dan kebudayaan, serta membuat film pendek tentang kampung mereka. Aplikasi untuk produksi film melalui smartphone juga mudah diperoleh, baik yang gratis maupun berbayar.

Pembuatan film melalui smartphone atau Smartphone Cinematography menjadi salah satu dasar lahirnya Smartphone Movement. “Dibuat melalui smartphone” berarti gambar direkam, diedit, diunggah, dan didistribusikan melalui perangkat yang sama. Ukuran berkas video biasanya relatif kecil tetapi kualitas gambar tetap cukup baik sehingga lebih hemat kuota ketika diunggah dibandingkan produksi berbasis komputer. Durasi film smartphone juga cenderung lebih singkat sehingga lebih mudah ditonton melalui media sosial. Keuntungan lainnya adalah film dapat langsung diunggah atau dibagikan tanpa proses pemindahan berkas yang terkadang rumit.

Video Berita

Selain film, smartphone dapat digunakan untuk membuat berbagai jenis video, salah satunya video berita. Hari ini, dengan smartphone dan internet, siapa pun dapat menjadi jurnalis atau pelapor. Media sosial menjadi salah satu ruang penyebaran informasi. Banyak media daring kemudian mengembangkan format video dalam penyajian berita. Video berita yang dahulu identik dengan layar televisi kini diproduksi bukan hanya oleh stasiun TV atau media daring. Perkembangan teknologi memungkinkan masyarakat membuat video berita sendiri mengenai peristiwa maupun kegiatan di kampung.

Fotografi

Kamera smartphone memungkinkan siapa pun memotret momen, manusia, dan cerita. Perangkat ini dapat digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan seni, kebudayaan, dan tradisi, sekaligus lanskap alam dan potret kampung. Pemuda Adat memanfaatkannya untuk merekam peristiwa, tempat, ritus, adat, dan kehidupan kebudayaan mereka.

Karya Grafis

Platform smartphone menyediakan berbagai aplikasi pengolah grafis, baik gratis maupun berbayar, daring maupun luring. Kemudahan itu digunakan untuk membuat flyer, pamflet, leaflet, meme, penyuntingan foto, poster, dan karya grafis lainnya. Kegiatan kampung dapat dipublikasikan melalui pamflet digital yang dibuat langsung dengan smartphone.

Komunikasi dalam Bahasa Adat

Berbagai media sosial membuat orang semakin mudah berkomunikasi melalui panggilan suara, panggilan video, atau percakapan teks. Medium komunikasi itu juga menjadi ruang belajar bagi orang muda. Pemuda Adat menggunakannya untuk belajar dan mempelajari kembali bahasa adat bersama-sama.

Sumber Pengetahuan / Sekolah / Universitas

Smartphone hari ini tidak lagi dipahami hanya sebagai alat komunikasi. Ketika internet menjadi “jiwanya”, kemampuannya berkembang jauh lebih besar. Melalui smartphone, orang dapat mencari informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan. Dengan demikian, smartphone menjadi ruang baru untuk belajar dan bersekolah—sumber pengetahuan yang dapat digenggam di tangan.

Karya berupa tulisan, grafis, foto, maupun film memberi pengaruh pada kehidupan kebudayaan Minahasa. Banyak orang terpengaruh dan terinspirasi oleh karya yang dibuat melalui smartphone. Karena banyak orang memilih menggunakan perangkat itu secara kreatif, praktik tersebut berkembang menjadi gerakan. Ketika smartphone digunakan oleh banyak orang untuk berkarya, gerakan membangun dan menjaga wilayah leluhur menjadi semakin efektif. Inilah Smartphone Movement: memaksimalkan smartphone untuk saling belajar dan saling menginspirasi.

Pada dasarnya, gagasan Smartphone Movement lahir di kampung dan digerakkan oleh Pemuda Adat Minahasa. Mereka menggunakan smartphone untuk membangun dan menjaga kampung. Mereka membuat film, foto, video berita, dan karya grafis mengenai kebudayaan Minahasa, kegiatan berkebun, berburu, kesenian, penelusuran jejak leluhur, dan banyak hal lainnya. Gagasan dan semangat tersebut membuat Smartphone Movement cepat terhubung dengan perjuangan Pemuda Adat di berbagai wilayah Nusantara. Mereka memiliki semangat yang sama: pulang, membangun kampung, dan mengelola wilayah adat. Dari sinilah Smartphone Movement terhubung dengan Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).

Dengan smartphone, Pemuda Adat dapat menghasilkan cerita mereka sendiri dan menyampaikan informasi terbaru mengenai komunitasnya kepada dunia. Mereka juga dapat mengendalikan pesan yang ingin disampaikan. Melalui kerja dokumentasi, Pemuda Adat dapat melakukan verifikasi langsung terhadap apa yang benar-benar terjadi di komunitas dan menggunakan dokumentasi tersebut sebagai bukti untuk membantah klaim sepihak atas wilayah adat.

Smartphone kemudian menjadi alat perlawanan. Ketika terhubung dengan internet, kekuatannya semakin besar. Dokumentasi yang dibuat Pemuda Adat dapat menjadi pernyataan sikap dan penegasan keberadaan komunitas. Produksi dokumentasi melalui smartphone juga menjadi salah satu cara membantah stigma bahwa Masyarakat Adat terbelakang atau gagap teknologi. Karya-karya itu digunakan untuk mendidik dan menginspirasi lebih banyak orang agar peduli terhadap Masyarakat Adat, alam, dan kehidupan di dalamnya.

Bagaimana Kami Merebut Kembali Narasi

Di Minahasa, saya berfokus pada pemaksimalan setiap fitur smartphone untuk kepentingan kebudayaan kami. Perangkat itu digunakan untuk mendokumentasikan, memberi informasi, dan berkarya secara real-time. Pendekatan tersebut bergerak melalui beberapa pilar utama.

  • Sinematografi & Pembuatan Film: Ini menjadi salah satu dasar utama kerja saya. Orang muda belajar bahwa penceritaan yang kuat tidak selalu membutuhkan peralatan mahal. Dengan merekam, mengedit, dan mendistribusikan film melalui perangkat bergerak, kami dapat menghasilkan karya yang hemat data, dekat dengan kenyataan, dan dapat beredar secara luas.
  • Jurnalisme Akar Rumput: Dengan smartphone dan internet, setiap orang dapat ikut menjaga kebenaran. Video berita dibuat untuk melaporkan kegiatan dan keadaan kampung secara langsung tanpa selalu bergantung pada narasi media dari luar.
  • Ruang Bahasa Digital: Platform digital digunakan untuk merebut kembali bahasa ibu. Dalam percakapan pribadi, chat, dan panggilan video, rasa takut melakukan kesalahan dapat berkurang, sehingga bahasa Minahasa kembali digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Universitas Portabel: Bagi saya, smartphone adalah “sekolah di telapak tangan”. Ketika terhubung ke internet, ia menjadi pintu untuk belajar sendiri sekaligus alat perlawanan.

Teknologi sebagai Metode Dekolonisasi

Pada 9 Juli 2021, saya mendapat kesempatan membicarakan filosofi ini kepada audiens global yang terdiri dari pembuat film dan aktivis. Saya berpendapat saat itu—dan tetap meyakininya sekarang—bahwa Smartphone Movement pada dasarnya merupakan sebuah metode dekolonisasi.

Bagi saya, dekolonisasi adalah proses membongkar kuasa kolonial dan membebaskan diri dari “pikiran kolonial” yang masih tertinggal. Ia adalah proses kembali kepada akar dan menjadi diri kita sendiri.

Selama berabad-abad, dunia mengonsumsi informasi mengenai Masyarakat Adat melalui lensa kolonial. Arsip sejarah tetap penting, tetapi kami memiliki tanggung jawab untuk menceritakan cerita kami sendiri, melalui suara kami sendiri dan dari sudut pandang kami sendiri. Melalui tulisan, fotografi, dan film, kami berbicara tentang sejarah dan kebudayaan kami secara langsung—dari kami kepada dunia.

Menantang Stigma

Saya ingin membongkar stigma bahwa tinggal di kampung berarti primitif atau bahwa Masyarakat Adat “tidak memahami teknologi”. Melalui gerakan ini, kami ingin menunjukkan bahwa Masyarakat Adat dapat terbuka terhadap teknologi, memiliki pengetahuan digital, dan tetap terhubung dengan masa depan.

Dengan smartphone, kami membangun narasi tandingan terhadap media yang terlalu sering memihak modal dan kekuasaan. Kami bukan hanya konsumen teknologi. Kami mengambil alih alat itu dan menggunakannya untuk membangun, menjaga, dan menghormati Tana’ Minahasa.

Kalfein Maikel Wuisan
Penggagas Smartphone Movement · Sineas · Peneliti Kebudayaan

Discover more from Kalfein Maikel Wuisan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading