Lewati ke isi

Tulisan

Kalelon dan Maka’aruyen: Suara Tradisi Minahasa

“Semakin ke gunung semakin sunyi, semakin ke laut semakin ramai”

Sekarang ini banyak Tou Minahasa salah mengerti dan menilai musik tradisi seperti Kalelon atau Maka’aruyen. Ada yang melihatnya sebagai aliran musik yang kolot dan kuno; ada yang melihatnya sebagai musik pemujaan berhala dan bahkan ada yang merubahnya menjadi sebuah musik yang semakin jauh dari esensi utamanya sebagai musik tradisi. Untunglah, masih ada juga yang memaknai Kalelon dan Maka’aruyen sebagai seni tradisi Minahasa yang mampu memberikan harapan dan mengikat ingatan masa lalu tentang Minahasa. Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil pengamatan, wawancara dan kajian mendalam terkait syair, cara dan tahap, serta segala sesuatu yang terkait proses kreatif dalam mencipta Maka’aruyen dan Kalelon.

Ada yang beranggapan bahwa Maka’aruyen dan Kalelon lahir nanti ketika Minahasa telah berinteraksi dengan orang barat yaitu sekitar abad 15, saat mengenal juk ataupun gitar yang dibawa saat itu. Namun, jauh sebelum gitar dikenal di tanah Minahasa, Maka’aruyen dan Kalelon telah mewujud dalam tradisi marei’ndeng; ketika orang Minahasa, terutama Tonaas, Walian, para pengelana, menemukan ‘gitar satu tali’ atau lebih dikenal dengan nama Swassa. Menurut penuturan Tonaas Rinto Taroreh, “Swassa” semacam gitar dengan satu tali digunakan untuk Ritual Mareindeng dan Masambo. Talinya terbuat dari urat tulang belakang ular hitam (wai). Swassa ini asli Minahasa. Oleh karena itu jelaslah bahwa Maka’aruyen dan Kalelon merupakan seni tradisi asli Tou Minahasa. Benih dari musik Maka’aruyen & Kalelon adalah musik ritual. Makanya, syair dan cara menyanyikannya mengandung unsur tradisi Marei’ndeng.

Nanti seiring waktu berlalu, syair dan musik tersebut kemudian, mengalami perjumpaan dengan budaya barat, yaitu dengan alat musik gitar. Tradisi menggunakan gitar dalam Kalelon dan Maka’aruyen kemudian bertahan sampai sekarang. Namun, satu hal yang tersimpan dalam bunyi Maka’aruyen dan Kalelon dalam gitar modern, yang sama dengan gitar Swassa, yaitu bunyi nada Bass. Maka’aruyen dan Kalelon lahir dari Tou Minahasa sebagai hasil daya cipta untuk memaknai harapan di masa yang akan datang dan menjaga ingatan masa lalu.

Maka’aruyen dan Kalelon sebenarnya lahir di dua bagian daerah Minahasa dengan interpretasi berbeda. Istilah Maka’aruyen lebih banyak dikenal di daerah Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Tenggara, Tomohon, Bitung & Manado. Sedangkan istilah ‘Kalelon’ lebih dikenal di daerah Minahasa Selatan. Ada sejarah panjang yang melatarbelakangi hal ini. Orang Minahasa yang mencipta dan menyanyikan Maka’aruyen dan Kalelon dikenal sebagai penyair kasendukan.

MAKA’ARUYEN

Secara terminologi, kata Maka’aruyen memiliki beberapa arti dan makna. Pemahaman mengenai arti Maka’aruyen tergantung pada konteks kata ini dipakai. Di dalam kata Maka’aruyen tersimpan kata aruy. Secara harafiah aruy berarti sikap, kondisi atau keadaan yang baik, nyaman dan tentram. Aruy juga bisa berarti luapan rasa cinta dan rindu. Sehingga Maka’aruyen adalah gambaran sikap ataupun kondisi yang baik, nyaman dan tentram. Sikap dan kondisi ini adalah pemaknaan dari manusia terkait rasa, cinta, dan rindu yang begitu kuat terhadap sesama manusia, alam dan Sang Pencipta. Maka’aruyen juga dapat berarti harapan. Harapan yang dimaksud yaitu terkait karakter manusia Minahasa untuk dapat hidup sebagaimana manusia harus hidup di kaiombaan.

Salah satu makna dari Maka’aruyen yaitu sebagai simbol dan gambaran mengenai perjalanan dari tuur in tana’ menuju Tana’ ka’aruyen. Salah satu buktinya yaitu, musik tradisi Maka’aruyen banyak diwarisi oleh Tou Minahasa yang tinggal di sekitar Tana’ ka’aruyen. Tana’ Ka’aruyen merujuk ke daerah di sekitar Minahasa bagian tengah, timur dan utara.

KALELON

Kalelon adalah seni tradisi Minahasa. Seni tradisi yang mengalirkan pengetahuan abadi tentang Tou dan Tana’ Minahasa. Pengetahuan abadi tersebut berupa syair, petuah dan petunjuk hidup. Kalelon bukanlah sekedar aliran musik belaka. Bila Kalelon hanya dipandang sekedar aliran musik semata maka Kalelon hanya bisa diterjemahkan secara harafiah dan maknanya sulit dimengerti.

Kalelon adalah nyanyian ritus dan ritus itu sendiri. 
Memahami Kalelon adalah memahami bahasa puitis tentang manusia, alam dan Sang Pencipta. Memahami syair Kalelon membutuhkan kejernian jiwa dan kepekaan hati, sebab Kalelon tercipta dengan cara itu. Kalelon telah menyentuh hati dan pikiran apabila tiap syair yang terdengar seolah berdetak bersama jantung. Secara empiris, orang yang telah tersentuh Kalelon akan meneteskan airmata, merinding, atau seperti berada dalam sebuah ritual masa lalu.

Syair Kalelon diciptakan dan dinyanyikan diatas gunung,di kobong pece, di jalan, di tempat kerja, di kamar, di dapur, di atas roda sapi, di atas kapal dan di semua tempat dimana ketenangan jiwa atau kejernihan pikiran berada.  Kalelon adalah pengetahuan syahdu tentang katouan, tentang karondoran. Salah satu syair tua tentang Kalelon yang di-kalelon-kan yaitu: “Ai lelo ang kuntung, taan marames ang nate”, artinya, ‘dirindukan di gunung, tetapi basah di dalam hati’.

Nama puitis lain dari penyair Kalelon yaitu pengelana jalan sunyi. Sebab kebanyakan syair Kalelon dicipta oleh para pengelana. Pengelana dalam artian orang yang sering melakukan perjalanan baik dari daerah disekitar Tu’ur In Tana’ (Motoling-Tompaso Baru-Modoinding-Wakan) ataupun dari daerah sekitar Minahasa bagian tengah (sonder). Pengelana jalan sunyi juga merujuk kepada mereka yang memilih cara dan jalan hidup yang jarang dipilih orang. Misalnya menjadi penyair Kalelon dan Maka’aruyen. Kalelon lahir dari (1) Tou Minahasa yang dahulu sudah tinggal di sekitar Tana’ ka’aruyen namun kemudian kembali ke Tana’ di sekitar tu’ur in Tana’ (Tompaso-Motoling). (2) Tou Minahasa yang tetap tinggal di sekitar tu’ur in Tana’.

Dalam Kalelon, syair yang diucapkan dengan lafal dan cara tertentu akan menghasilkan alunan atau cengkok khas yang kemudian dikenal sebagai maere’. Sementara bunyi yang dihasilkan dari alat musik pada dasarnya merupakan pendukung. Alat musik ini bertujuan untuk menciptakan suasana dimana si penyanyi atau penyair Kalelon akan dengan mudah menemukan bentuk ‘nada Kalelon. Kalelon terasa menyentuh ketika tiap nada yang terdengar lewat telinga seolah berdetak bersama detak jantung.

Salah satu Kalelon yang sangat dikenal di Minahasa yaitu Kalelon Wakan. Disebut Kalelon Wakan karena Kalelon jenis ini berasal dari Wakan dan dinyanyikan oleh orang Wakan asli. Jenis Kalelon Wakan, dinyanyikan oleh dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan, dengan satu gitar. Nama kedua seniman tersebut yaitu Samuel Lonteng dan Rosye Poluan.

Kalelon Wakan, telah direkam dan telah menghasilkan 2 edisi album. Edisi pertamalah yang banyak beredar dikalangan masyarakat Minahasa. Jenis Kalelon yang lain yaitu Kalelon Sematuari, berasal dari Tompaso Baru. Bila kita melihat di Worldcat libraries, album Kalelon baik Wakan maupun Sematuari, tercatat disana. Ini membuktikan bahwa Kalelon juga telah masuk dalam daftar inventaris dunia sejak lama.

Redefinisi Maka’aruyen dan Kalelon

Seni Tradisi Kalelon dan Maka’aruyen, sebenarnya memang tidak pas disebut sebagai sebuah jenis musik. Maka’aruyen dan Kalelon melampaui batasan dan makna jenis musik. Sebab istilah ‘musik’ disini merupakan istilah teori musik barat yang memang tidak pas untuk mendefinisikan bentuk dan esensi Maka’aryuen dan Kalelon.

Shin Nakagawa, seorang professor bidang musik, mengungkapkan bahwa untuk melakukan penelitian terkait memahami dan mengerti lagu rakyat, kiranya menggunakan pendekatan ilmu etnomusikologi. Menurutnya, salah satu ciri dasar pendekatan ini yaitu musik dianggap sebagai bagian dari kebudayaan, sehingga musik diteliti dalam konteks kebudayaan (lokal). Maka tidaklah pas menggunakan teori musik barat untuk mengukur apa yang disebut musik rakyat. Menurutnya, peneliti musik pada umumnya terpengaruh teori musik barat sehingga pengaruh ilmu musik barat tidak dapat dielakan. Dalam teori barat, musik memiliki 12 diatonik, sehingga ketika orang yang terbiasa menggunakan teori musik barat dan mengamati musik Kalelon maka mereka akan mengatakan bahwa musik Kalelon dan Maka’aruyen itu jelek dan kuno. Oleh karena itu, istilah musik yang merujuk ke Kalelon dan Maka’aruyen harus lepas dari teori musik barat. Kalaupun (saya) menggunakan istilah musik, Kalelon dan Maka’aruyen tidak dipandang dari terminologi Musik barat yang lebih banyak mengacu kepada musik modern. Akan tetapi istilah ‘musik’ disini telah direkonstrusi dan mengacu sebagai seni tradisi. Seni Tradisi Kalelon dan Maka’aruyen lebih merujuk kepada sebuah bentuk sastra khas Minahasa yang menekankan aspek syair dengan arti mendalam.

Bedasarkan sifatnya, maka senandung Maka’aruyen agak lebih ‘keras’ sedikit daripada Kalelon. Karena memang Kalelon lahir di daerah gunung, di dekat hutan, dengan tradisi hidup Tontemboan yang terkenal lembut dan ramah. Oleh karena itu, Kalelon mengambil bentuk lebih lembut dan syahdu. Salah satu alasan lainnya yaitu dalam tradisi Minahasa, orang tidak boleh membuat suara yang berisik saat berada ataupun tinggal di hutan. Oleh karena itu Kalelon memiliki nilai tradisi ini.

Sementara Maka’aruyen tumbuh dalam sebuah perjalanan, bahkan pun di masa perang yang membutuhkan nada yang lebih keras untuk memberikan semangat. Selain itu musik Maka’aruyen lahir di daerah pinggiran pantai ataupun jalur ke pantai sehingga musik yang diciptakan seolah lantang dan lebih keras (dari suara ombak ataupun angin). Hal ini seperti tergambar seperti dalam syair berikut:

Seperti Masuk hutan. Diam, menenangkan jiwa.

Seperti ke pantai. Berteriak, menenangkan jiwa.

Mendengarkan lagu Kalelon dan Maka’aruyen membutuhkan kejernihan pikiran serta kesiapan hati, sama seperti seorang Kristen mendengarkan khotbah di gereja. Kalelon dan Maka’aruyen pada dasarnya adalah Nuwu yang mengadung nilai yang mirip dengan firman yang ditulis di kitab Kristen. Sebab Kalelon dan Maka’aruyen, bila dipandang dalam perspektif kristen, adalah juga Amsal; adalah juga Mazmur. Kalelon dan Maka’aruyen juga menyimpan nilai-nilai seperti dalam taurat-injil nya Kristen. Namun bukan berarti pengertian ini hendak mensejajarkan atau menyamakan Kalelon dan Maka’aruyen sama dengan Amsal/Mazmur/Injil. Kalelon adalah Kalelon. Maka’aruyen adalah Maka’aruyen. Amsal adalah amsal. Mazmur adalah mazmur. Kesemuanya itu adalah hasil dari peradaban manusia yang menjunjung nilai hidup atas aktivitas spritual yang berbeda. Kesamaan yang saya maksud ini ibarat kayu-kayu yang dipasang dan cocok pada sendi-sendi rumah Minahasa. Bila tidak cocok atau tidak terpasang dengan baik, rumah tersebut akan goyang atau rubuh. Kesamaan nilai dan bentuk ini, bagi saya, merupakan salah satu titik temu Kekristenan dengan kebudayaan Minahasa. Dengan kata lain, ini yang juga menjadi salah satu alasan, dari sekian alasan, mengapa orang Minahasa menerima dan menjadi Kristen.

Adapun tantangan Minahasa, terlebih Minahasa-Kristen masa kini yaitu para fundamentalis Kristen yang fanatik. Mereka menganggap aktivitas menyanyi, mendendangkan dan mengucapkan syair Kalelon dan Maka’aruyen merupakan bentuk penyembahan atau pemujaan kepada Ilah yang tidak dikenal. Mereka lupa, bahwa jauh sebelum mereka dilahirkan, para leluhur (kakek/nenek) mereka telah hidup ‘lebih religius’ dan berhasil dalam semua aktivitas kerja mereka karena hidup dari ajaran dan aktivitas ber-Ilah kepada Sang Pencipta yang disimpan dalam Kalelon dan Maka’aruyen.

Kalelon dan Maka’aruyen diciptakan atas kesadaran bahwa manusia adalah ciptaan. Sebagai ciptaan, manusia tentu memiliki Pencipta dan manusia diciptakan bersama ciptaan Sang Pencipta yang lain. Oleh karena itu, sebagai ciptaan, manusia kemudian mencipta syair/pujian syukur, penghormatan, dan penyembahan kepada Sang Pencipta. Begitu juga manusia, mencipta semua rasa dan apresiasi dari pengalaman inderawinya terhadap sesama ciptaannya (manusia, hewan, tumbuhan dan alam) ke dalam syair Kalelon dan Maka’aruyen.

Kalelon dan Maka’aruyen memiliki ‘spirit’ yang memang sangat berbebeda. Teks, konteks dan nuansa yang diciptakan Kalelon dan Maka’aruyen mengandung nuansa spiritual. Tak heran, ada orang yang menangis saat mendengarkan Kalelon maupun Maka’aruyen. Bahkan, sampai membuat bulu kuduk (bah.Manado: “bulu nyawa”) orang berdiri atau merinding.

Bagi saya, Kalelon dan Maka’aruyen adalah bahasa yang terlalu puitis dan terlalu sederhana untuk dimengerti dan dicerna dalam bahasa biasa. Memahami pesan syair Kalelon membutuhkan kejernian jiwa dan kepekaan hati.

Itulah alasan kenapa ada orang yang berada jauh dari Minahasa ketika mendengar Maka’aruyen atau Kalelon, langsung menangis dan teringat kampung halaman; ataupun dahulu (ketika orang yang melakukan perjalanan meninggalkan Tana’ Minahasa) menyanyikan lagu Maka’aruyen atau Kalelon dijadikan sebagai sebuah harapan untuk menemukan cara hidup yang pas di tanah orang dengan tetap mengingat tempat tinggal dimana tali pusarnya dikubur.

Syair-syair Kalelon dan Maka’aruyen banyak mengadung pemujaan terhadap Sang Pencipta, kekaguman akan alam dan kerinduan terhadap Tou serta Tana’ Minahasa. Kalelon membentuk karakter orang Minahasa untuk mampu melihat peluang hidup dengan menggali ingatan pengetahuan masa lalu. Oleh karena itu, Kalelon dan Maka’aruyen adalah gambaran harapan dan ingatan tentang Tou dan Tana’ Minahasa. Harapan dan ingatan inilah yang kemudian menjadi semangat hidup yang dibawa Kalelon dan Maka’aruyen sebagai seni tradisi Minahasa.