Tulisan
Pemuda Adat Menghidupkan Kembali Pertanian di Ampreng


Indra Congregations Piri adalah seorang Pemuda Adat dari Kampung Ampreng. Hari-harinya dihabiskan mengolah kebun bersama orang tuanya. Sebagai anak petani, ia bangga dengan asal-usulnya dan terus membantu keluarganya mengelola tanah.
“Kadang saya bangun sebelum matahari terbit,” kata Indra sambil tersenyum dan membersihkan tanah dari tangannya. “Bukan karena dipaksa, tetapi karena ini sudah menjadi bagian dari diri saya.”
Tomat dan rica merupakan tanaman utama di kebun keluarga mereka. Selain itu, padi dan mentimun juga ditanam oleh banyak petani di Ampreng. Di kebun tomat mereka berdiri sebuah pondok kecil, tempat Indra dan teman-temannya—yang sebagian besar juga anak petani—sering berkumpul. Setelah pekerjaan hari itu selesai, pondok tersebut menjadi lebih dari sekadar tempat beristirahat. Di sanalah mereka bercerita, tertawa, dan membicarakan kerja yang baru saja dilakukan.
“Kami tidak selalu bicara soal bertani,” kata Deddy Milanno Sarayar, salah seorang sahabat dekat Indra. “Kadang kami bicara tentang hidup… tentang apakah kami akan tetap tinggal di sini atau pergi seperti yang lain.”
Indra dan kelompoknya tetap aktif bertani, baik membantu kebun orang tua maupun mengelola lahan bersama. Cara kerja mereka berakar pada pengetahuan lokal Minahasa, terutama Mapalus dan Ru’kup.

Mapalus merupakan sistem kerja saling membantu yang telah dijalankan turun-temurun di Minahasa. Ia dibangun di atas timbal balik, kepercayaan, dan tanggung jawab bersama. Ketika sebuah keluarga membutuhkan bantuan untuk membersihkan lahan, menanam, atau memanen, keluarga lain datang membantu tanpa menghitung semuanya sebagai upah tunai. Ketika giliran keluarga lain membutuhkan tenaga, bantuan itu kembali diberikan.
“Kami tidak menghitung semuanya dengan uang,” jelas Indra. “Kadang yang paling penting adalah jangan sampai ada orang yang bekerja sendiri.”
Semangat tersebut terlihat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ketika salah seorang membuka lahan atau memanen, yang lain datang membantu. Mereka juga mengelola kebun kolektif, sering kali di lahan sewaan, dan hasilnya dibagi kepada anggota yang terlibat.
Tomat menjadi salah satu tanaman pilihan karena nilai ekonominya cukup tinggi dan dapat ditanam di lahan yang relatif kecil. Pada musim tersebut, tomat dan rica menunjukkan hasil yang menjanjikan. Dari lahan seperempat hektare, panen tomat dapat mencapai sekitar 400 peti, masing-masing sekitar 20 kilogram. Dengan harga pasar tertentu, pendapatan kotor dapat mencapai sekitar Rp160 juta dan, setelah biaya produksi, perkiraan keuntungan bersih sekitar Rp150 juta. Jika lahan dapat ditanami hingga tiga kali dalam setahun, potensi hasilnya menjadi cukup besar.
Rica juga memberikan hasil yang kuat. Lahan seperempat hektare dapat menghasilkan sekitar 1.000 kilogram, yang pada harga pasar lokal saat itu dapat bernilai sekitar Rp50 juta.
Namun angka-angka tersebut tidak pernah menceritakan keseluruhan kenyataan.
“Harga bisa jatuh hanya dalam satu malam,” kata Deddy. “Kadang kami memanen dengan harapan… lalu menjual dengan kekecewaan.”
Bagi petani muda seperti Indra dan teman-temannya, ketidakpastian merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Cuaca semakin sulit diprediksi. Hujan dapat datang terlalu cepat atau justru tidak datang. Hama dapat menyebar dengan cepat. Akses terhadap alat pertanian dan modal juga terbatas. Di luar itu terdapat persoalan sosial: banyak orang muda meninggalkan kampung dan memilih pekerjaan di kota karena bertani sering dianggap kurang menjanjikan.
“Sebagian teman saya sudah pergi,” kata Indra pelan. “Mereka bilang bertani terlalu berat… dan mungkin mereka benar. Tapi saya masih mencoba.”
Meskipun menghadapi tekanan tersebut, Indra dan kawan-kawannya tetap berpijak pada tanah. Ketika harga jatuh dan kerugian terjadi, mereka menerimanya sebagai bagian dari siklus. Bagi mereka, bertani bukan hanya mengenai keuntungan. Bertani juga mengenai keberlanjutan, tanggung jawab, dan identitas.
Bagi orang-orang muda kampung ini, mengolah tanah adalah cara memastikan lahan tidak dibiarkan kosong. Ia merupakan kebutuhan praktis sekaligus komitmen yang lebih dalam untuk menjaga kehidupan. Mereka percaya bahwa ketika tanah dirawat, kehidupan dapat terus berlangsung bagi generasi hari ini maupun generasi berikutnya.
“Saya akan tetap berada di sini,” kata Indra sambil memandang kebun ketika cahaya mulai menghilang.
Bagi Indra dan kelompoknya, masa depan tetap mengandung ketidakpastian. Namun dalam irama menanam, memanen, dan bekerja bersama, mereka terus memegang sesuatu yang lebih tetap: keyakinan bahwa tanah dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya masih memiliki arti di tengah dunia yang berubah cepat.