Tulisan
Merawat Alam: Pelajaran dari Ruma’mus Ung Gio

Air Sebelum Kata-Kata
Dalam Ruma’mus Ung Gio, cerita tidak dimulai dari seseorang.
Cerita dimulai dari air.
Di dataran tinggi Minahasa, Sulawesi Utara, air bukan sekadar sesuatu yang mengalir melewati tanah. Air menyimpan ingatan. Ia harus dirawat, diingat, dan dihormati. Selama beberapa generasi, komunitas Masyarakat Adat Minahasa hidup dengan pemahaman bahwa alam tidak terpisah dari kehidupan manusia, tetapi merupakan bagian darinya.
“Di tempat ini,” kata Tonaas Rinto, “dari dulu selalu ada mata air. Ini sumber air bagi masyarakat di sini.”
Kalimat itu membawa lebih dari sekadar informasi. Ia membawa sejarah. Ia membawa asal-usul.
Ritual yang Kembali
Film mengikuti sebuah ritual yang dikenal sebagai Ruma’mus Ung Gio—ritual membasuh wajah di sebuah mata air suci. Ritual ini tidak dilakukan setiap hari. Ia berlangsung pada momen-momen tertentu, ketika masyarakat kembali berkumpul.
“Ritual ini bukan sesuatu yang kami lakukan setiap waktu,” jelasnya. “Ia dilakukan pada momen-momen tertentu.”
Momen yang memiliki arti.
Sebab ritual itu tidak hanya mengenai upacara.
Ia mengenai mengingat.
Orang-orang berkumpul dengan tenang di sekitar mata air. Air terus mengalir. Tangan bergerak dengan hati-hati. Tidak ada ketergesaan; yang ada hanya kesadaran.
“Ini adalah cara agar orang datang ke sini,” lanjut Tonaas Rinto, “untuk mengingat bagaimana merawat alam dan kehidupan di sekitar mereka.”
Ajaran yang Dilanjutkan
Melalui tindakan tersebut, sesuatu diteruskan—sesuatu yang tidak dapat bertahan apabila tidak dipraktikkan.
“Leluhur kita telah mewariskan ajaran bahwa sumber-sumber air ini harus dijaga.”
Ini bukan kata-kata abstrak. Ini adalah petunjuk.
“Melalui ritual seperti ini,” katanya, “orang diingatkan—ketika mereka datang ke sini, mereka harus ikut merawatnya.”
Hutan di sekitar mata air tidak terpisah dari air. Hutanlah yang memungkinkan air itu tetap ada.
“Ketika orang datang ke sini, mereka tidak menebang pohon sembarangan,” jelasnya. “Pohon-pohon ini menopang mata air dan ekosistem di tempat ini.”
Hubungannya sederhana, tetapi mutlak.
Tanpa pohon, tidak ada air.
Tanpa air, tidak ada kehidupan.
Rapuhnya Kehadiran
Namun hubungan tersebut bergantung pada sesuatu yang rapuh.
Kehadiran.
“Kalau orang jarang datang ke sini,” tanya Tonaas Rinto, “siapa yang akan melihatnya? Siapa yang akan merawatnya?”
Pertanyaan itu tinggal lebih lama daripada kata-katanya.
Sebab jawabannya tidak pasti.
Tanggung Jawab yang Sakral
Ritual ini tidak hanya mengenai lingkungan. Ia juga menyentuh sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang spiritual.
“Ritual ini adalah bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta,” katanya, “dan sekaligus pengingat terhadap ajaran para leluhur.”
Di sini terdapat cara pandang yang mengubah gagasan mengenai kepemilikan.
“Siapa sebenarnya yang memiliki tempat ini?” ia merenung. “Sesungguhnya tempat ini milik Sang Pencipta, yang memberi kehidupan.”
Jika tanah bukan dimiliki, tetapi dipercayakan, maka tanggung jawab untuk menjaganya tidak dapat diabaikan.
“Itulah sebabnya sangat penting menjaga air ini.”
Mendengar, Bukan Menjelaskan
Film tidak berusaha menjelaskan semuanya.
Ia melakukan sesuatu yang lebih sunyi, dan mungkin lebih sulit.
Ia membiarkan kita duduk bersamanya.
Mendengar.
Mendengar air.
Mendengar hutan.
Mendengar suara yang membawa pengetahuan dari banyak generasi.
Perlahan, sesuatu menjadi jelas.
Ini bukan sekadar mengenai tradisi.
Ini mengenai keberlanjutan.
Ini mengenai apakah hubungan dengan air, hutan, dan kehidupan masih akan terus ada.
Ketika Ritual Berakhir
Ritual berakhir dengan tenang.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada tanda bahwa sesuatu telah selesai.
Orang-orang mulai meninggalkan mata air dengan cara yang sama ketika mereka datang—perlahan, tanpa tergesa-gesa. Air terus mengalir seperti sebelumnya. Hutan tetap diam, menyimpan kesunyiannya.
Seolah tidak ada yang berubah.
Namun sesuatu telah berubah.
Yang Tertinggal
Yang tinggal bukan hanya ritual, tetapi perasaan yang dibawanya. Cara tangan menyentuh air. Cara orang bergerak dengan hati-hati, seolah memasuki rumah milik orang lain. Cara Tonaas Rinto berbicara—bukan untuk menjelaskan, tetapi untuk mengingatkan.
“Pohon-pohon ini menopang mata air dan ekosistem di sini,” katanya sebelumnya, hampir seperti ucapan sambil lalu.
Kalimat itu tidak terdengar seperti peringatan.
Ia terdengar seperti sesuatu yang memang sudah diketahui.
Ketika orang-orang berjalan meninggalkan mata air, tempat itu kembali sunyi. Daun bergerak pelan terkena angin. Air terus mengalir di bawahnya.
Tidak ada yang menuntut perhatian.
Namun ketiadaan manusia memunculkan sebuah pikiran lain:
Jika tidak ada seorang pun kembali, siapa yang akan memperhatikan tempat ini?
Bukan secara dramatis. Bukan sekaligus.
Tetapi perlahan.
Jalan yang tidak lagi dilewati.
Mata air yang tidak lagi dikunjungi.
Cerita yang tidak lagi dituturkan.
Dan di dalam kesunyian itu, ritual berhenti—bukan karena dilarang, tetapi karena dilupakan.
Tempat Cerita Berlanjut
Yang ditinggalkan Ruma’mus Ung Gio bukan instruksi, melainkan ingatan mengenai bagaimana hubungan itu pernah dijalani—dan mungkin masih dapat dijalani.
Cara datang kepada air bukan hanya untuk mengambil, tetapi untuk mengakui.
Cara memasuki hutan bukan sebagai pemilik, tetapi sebagai seseorang yang diizinkan masuk.
Tidak ada suara yang memerintahkan apa yang harus kita lakukan berikutnya.
Hanya gambar air yang masih terus mengalir.
Menunggu.
Seperti yang selalu dilakukannya.
Dan mungkin di situlah cerita berlanjut—
bukan di mata air,
tetapi di mana pun kita berada,
ketika lain kali kita mengambil air
tanpa memikirkan
dari mana air itu berasal,
atau siapa yang telah menjaganya
jauh sebelum kita tiba.
Orang-orang berkumpul dengan tenang di sekitar mata air. Air terus mengalir. Tangan bergerak dengan hati-hati. Tidak ada ketergesaan; yang ada hanya kesadaran.
“Ini adalah cara agar orang datang ke sini,” kata Tonaas Rinto, “untuk mengingat bagaimana merawat alam dan kehidupan di sekitar mereka.”
Melalui ritual ini, sesuatu yang lebih dalam sedang diteruskan—sesuatu yang tidak dapat bertahan tanpa praktik.
“Leluhur kita telah mewariskan ajaran bahwa sumber-sumber air ini harus dijaga.”
Ini bukan keyakinan abstrak.
Ini sesuatu yang harus dilakukan.
“Melalui ritual seperti ini,” lanjutnya, “orang diingatkan—ketika mereka datang ke sini, mereka harus ikut merawatnya.”
Hutan di sekitar mata air tidak terpisah dari air.
Hutanlah yang memungkinkan air tetap ada.
“Ketika orang datang ke sini,” jelasnya, “mereka tidak menebang pohon sembarangan.”
Sebab mereka memahami sesuatu yang sederhana tetapi mendasar:
“Pohon-pohon ini menopang mata air dan ekosistem di sini.”
Hubungannya jelas.
Jaga hutan—
dan air akan tetap ada.
Tetapi hubungan itu rapuh.
Tonaas Rinto tidak meninggikan suaranya ketika membicarakannya. Ia hanya mengajukan sebuah pertanyaan:
“Kalau orang jarang datang ke sini, siapa yang akan melihatnya? Siapa yang akan merawatnya?”
Pertanyaan itu terus tinggal.
Sebab jawabannya tidak pasti.
Yang berlangsung dalam film bukan hanya sebuah ritual, tetapi sebuah cara memahami dunia.
“Ritual ini,” katanya, “adalah bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta dan sekaligus pengingat terhadap ajaran para leluhur.”
Ia sekaligus spiritual dan praktis.
Keyakinan sekaligus tindakan.
Dan pada intinya, ia membawa kebenaran yang lebih dalam tentang keberadaan dan rasa memiliki.
“Siapa sebenarnya yang memiliki tempat ini?” ia merenung. “Sesungguhnya tempat ini milik Sang Pencipta, yang memberi kehidupan.”
Pemahaman itu mengubah segalanya.
Sebab jika tanah bukan dimiliki, melainkan dipercayakan—
maka tanah harus dijaga.
“Itulah sebabnya sangat penting menjaga air ini.”
Film tidak berusaha menjelaskan semuanya.
Ia melakukan sesuatu yang lebih penting.
Ia membiarkan kita mendengar.
Air.
Ritual.
Suara yang membawa pengetahuan lintas generasi.
Dan perlahan, sesuatu menjadi jelas:
Ini bukan hanya mengenai tradisi.
Ini mengenai keberlanjutan.
Ini mengenai apakah hubungan dengan air, hutan, dan kehidupan akan terus ada.
Di dalam aliran mata air yang tenang, film meninggalkan sesuatu yang terasa bukan seperti kesimpulan, melainkan tanggung jawab:
Untuk mengingat.
Untuk kembali.
Untuk merawat.
Sebelum pertanyaan itu berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi dapat kita jawab—
Jika tidak ada yang datang, siapa yang akan menjaga sesuatu yang memberi kita kehidupan?