Tulisan
Merawat Tradisi: Perayaan Kampung Kalaid

Hanya sedikit kampung di Minahasa yang masih menjalankan ritual adat kampung. Beberapa kampung biasanya melaksanakannya pada peringatan hari jadi kampung. Baator Kampung dan Babersih Kampung merupakan bagian dari ritual adat tersebut. Kalaid adalah salah satunya.
Hujan baru saja berhenti. Sekitar pukul 06.45 pagi itu di Tondano.
Saya dan Kevin Saroinsong bersiap melakukan perjalanan menuju sebuah kampung masyarakat Tontemboan di wilayah Tounsawang, Minahasa bagian tenggara.
Kampung Kalaid. Tujuan perjalanan kami adalah kampung tempat Tou Rimboka pernah bermigrasi. Kebetulan, pada hari itu, Rabu, 18 Juli 2019, Kalaid sedang merayakan hari jadinya yang ke-95.
Setelah hampir tiga jam perjalanan dari Tondano, kami tiba di Kalaid—sebuah kampung di kawasan pegunungan tanah Patokan Esa.
Mencapai Kalaid tidak mudah. Selain jaraknya yang cukup jauh dari Tondano, medannya juga sulit. Dari Tondano–Ratahan–Tombatu, kondisi jalan masih baik. Namun setelah memasuki Kampung Lobu, jalan mulai rusak dan penuh lubang. Kalau beruntung, pada musim hujan kita bahkan bisa menemukan kolam-kolam indah di tengah jalan. Menakjubkan, bukan.

Tantangan jalan rusak tidak berhenti di Lobu. Itu baru permulaan. Jalan berlubang, jalur berlumpur, batu-batu, dan permukaan jalan yang kasar masih menunggu. Untuk mencapai jembatan dekat Kampung Ranoako—kampung sebelum Kalaid—dibutuhkan usaha dan pengorbanan. Setelah melewati jembatan, kondisi jalan mulai lebih baik, meskipun masih ada beberapa bagian yang rusak. Jalan yang kasar membuat ban depan motor bocor. Motor kami nyaris tidak berhasil mencapai Kalaid.
Mungkin ada harapan bagi masyarakat yang tinggal di kampung-kampung setelah Lobu hingga Kalaid. Di tengah perjalanan, pembangunan jalan telah dimulai. Dua alat berat sedang bekerja membuka dan meratakan jalan. Jika jalan tersebut selesai sepenuhnya, akses masyarakat tentu akan menjadi lebih mudah.
Pohon seho, kelapa, dan cengkih terlihat di kedua sisi jalan ketika memasuki Kalaid. Tanaman-tanaman tersebut mencerminkan sumber penghidupan utama masyarakat Kalaid.
Memang, Kalaid dikenal sebagai penghasil gula aren, kopra, dan cengkih. Masyarakatnya hidup dari mengolah tanah dan hasil tanaman tersebut.
Ketika kami tiba di Kalaid, suasana sudah ramai.

Gula aren berbentuk balok, cengkih, dan lilin berbentuk angka 95 diletakkan di atas meja. Sebuah patung Manguni besar berdiri di depan panggung. Beberapa orang telah mengenakan pakaian adat Minahasa. Yang lain, dengan pakaian merah dan hitam, juga sudah bersiap. Pengeras suara kampung mulai berbunyi, mengumumkan bahwa perayaan hari jadi Kalaid akan segera dimulai. Masyarakat mulai berkumpul.
18 Juli adalah hari ketika masyarakat Kalaid merayakan kampung mereka.

Hari itu diperingati sebagai hari jadi kampung. Seluruh masyarakat merayakannya sepanjang hari. Bahkan, perayaannya sebenarnya telah dimulai sejak sehari sebelumnya. Peringatan tersebut dilaksanakan melalui ritual adat Kampung Kalaid.
Rangkaian ritual adat telah dimulai pada 17 Juli. Para Tonaas kampung—pemimpin adat yang berjumlah sembilan orang—telah mempersiapkan semuanya. Babersih dan baator kampung dilakukan hingga dini hari tanggal 18.
Sekitar pukul 10.00, perayaan utama dimulai.
Sembilan pemuda berpakaian merah dan hitam berdiri dalam formasi. Mereka disebut Manguni Makasiow. Mereka berperan sebagai Waraney—para pejuang kampung. Pada awal acara, mereka pergi mengambil benda-benda pusaka kampung dari rumah seorang tetua, lalu membawanya ke panggung.

Mereka kemudian menjemput dan mengawal sembilan orang tua yang mengenakan pakaian putih dengan ikat kepala merah dari sebuah rumah lain. Mereka adalah para Tonaas kampung. Rumah tempat para tetua itu berkumpul menjadi pusat kegiatan ritual. Di sanalah pula orang yang dipercayakan oleh leluhur menyimpan “Lulut i ndo’ong.” Tanggung jawab tersebut dipegang oleh keluarga Tarek. Para Tonaas kemudian diantar menuju panggung.
Perayaan dilanjutkan dengan pemberian gelar Tonaas Wangko kepada pejabat Hukum Tua. Setelah itu, sejarah Kampung Kalaid dibacakan.
Abednetju “Bintang” Umboh adalah tokoh yang dikenal luas di Kalaid dan Karimbow. Ia merupakan tokoh penting dalam sejarah Kalaid yang dibacakan dalam upacara tersebut. Ia juga dikenal sebagai Tete Bintang atau Hukum Tua Bintang.
Menurut cerita, pada masa lalu pernah berlangsung pemilihan Hukum Tua di Karimbow. Tete Bintang dan ayahnya bersaing dalam pemilihan itu. Hasilnya, Abednetju H. Umboh kalah dari ayahnya. Ia kemudian memutuskan meninggalkan Karimbow dan mencari tempat baru untuk menetap. Para pengikutnya yang setia ikut bersamanya.
Singkat cerita, setelah perjalanan panjang, ia dan para pengikutnya menemukan sebuah tempat untuk tinggal. Tempat itu diberi nama Kalaid, yang berarti “Kalah, Mencari Kedamaian.” Nama tersebut kemudian berubah—huruf “D” diganti menjadi “T,” sehingga menjadi “Kalait.” Itulah nama yang digunakan sekarang, meskipun saya menggunakan bentuk Kalaid.
Hukum Tua Bintang dikenal karena sumpah dan doanya. Apa yang pernah ia ucapkan diyakini menjadi kenyataan. Misalnya, ia pernah berdoa dan bersumpah bahwa suatu hari Kalaid akan menjadi besar dan didatangi orang-orang penting. Hal itu dianggap telah terjadi. Kalaid kini berkembang menjadi empat kampung dan menjadi ibu kota Kecamatan Touluaan Selatan. Banyak pejabat tinggi pemerintahan juga telah datang berkunjung.
Ia juga dikenal karena salah satu sumpahnya ketika mendirikan Kalaid:
“Siapa pun yang berbuat baik di kampung ini akan menjadi orang baik. Sekalipun ia keturunan pendiri, jika berbuat salah, ia tetap akan menerima akibatnya.”
Ketika sejarah kampung dibacakan, seluruh masyarakat menyimak dengan saksama. Dari anak-anak hingga orang tua, semua hadir dan mendengarkannya dengan hormat.

Perayaan hari jadi dilanjutkan dengan ziarah ke makam para pendiri, seperti Hukum Tua Bintang dan istrinya, serta tokoh-tokoh kampung lainnya. Seluruh masyarakat ikut serta—anak-anak, pemuda, remaja, orang dewasa, orang tua, laki-laki dan perempuan. Semua. Jalan dipenuhi manusia. Ramai. Masyarakat bergerak bersama menuju makam para leluhur untuk memberikan penghormatan.
Sepanjang perjalanan, masyarakat merayakannya—bakuku dan menyanyikan lagu-lagu tradisional.
Pada hari itu, semua orang diperbolehkan bakuku. Kapan saja. Siapa saja. Asalkan pada hari itu. Tidak ada yang akan marah. Itu adalah bagian dari tradisi. Dan hanya boleh dilakukan pada hari tersebut.
Selain bakuku, masyarakat juga menyanyikan lagu-lagu tradisional. Nyanyian tradisional ini dibagi dalam beberapa jenis: Mawincon, Maowei, dan Maolat.
Mawincon adalah nyanyian yang menceritakan kejadian nyata pada masa lalu ketika leluhur Kalaid pertama kali memasuki tanah tersebut.
Maowei adalah nyanyian para petani untuk memuji Tuhan ketika bekerja.
Maolat adalah jenis nyanyian untuk menghibur saat memanen padi.
Sepanjang jalan menuju tempat ziarah, terutama para tetua menjalankan tradisi-tradisi tersebut. Beberapa tetua juga menyanyikan Mawincon sebelum dan sesudah ziarah.
Setelah ziarah, masyarakat kembali ke lokasi acara dan melanjutkan dengan makan bersama. Ini merupakan tradisi yang wajib bagi orang Minahasa. Makanan disiapkan oleh seluruh masyarakat Kalaid. Setiap keluarga memasak dan membawa makanan untuk dibagikan bersama.
Banyak orang menghadiri perayaan tersebut—pemimpin adat, pemimpin agama, pejabat pemerintah, bahkan Bupati Minahasa Tenggara. Ia terlihat antusias dan berjanji bahwa perbaikan jalan nantinya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kalaid mungkin bukan satu-satunya kampung di Minahasa yang masih menjalankan ritual adat kampung. Namun, menurut tulisan ini, Kalaid merupakan satu-satunya kampung di Minahasa Tenggara yang masih melakukannya. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan secara rutin sejak lama.
Meskipun ritual adat dipadukan dengan berbagai kegiatan seremonial lainnya, hal itu tidak mengurangi kesakralan tujuannya.
Mayoritas masyarakat Kalaid beragama Kristen dan tetap menjunjung kuat tradisi kampung mereka. Hal itu terlihat melalui ritual adat yang dilaksanakan pada peringatan hari jadi kampung. Di sana tampak perjumpaan antara Kekristenan dan kebudayaan Minahasa.
Kalaid memperlihatkan bahwa menghargai kehidupan hari ini juga terhubung dengan penghormatan kepada para leluhur.
Lebih jauh, Kalaid menunjukkan bahwa hidup di dalam pengetahuan tradisinya—tradisi Minahasa—dapat menopang kehidupan hingga hari ini. Banyak berkat dari Kasuruan Wangko, Sang Pencipta, diyakini telah diberikan kepada para pendiri Kalaid dan masih dinikmati masyarakatnya sampai sekarang.
Ritual adat dimaksudkan untuk memulihkan keteraturan dari sesuatu yang telah menjadi tidak teratur serta menegaskan kembali tujuan kehidupan sebuah komunitas di dalam kampung. Seperti yang dipahami di Kalaid, menjaga tradisi juga berarti menjaga Minahasa—menunjukkan kepada dunia luar bahwa para pendiri dan masyarakatnya mampu terus hidup di dalam nilai-nilai luhur tradisi Minahasa.