Lewati ke isi

Tulisan

Kanonang: Tinjauan Sejarah tentang Kesuburan dan Identitas

“Apa arti sebuah nama?”
Ungkapan William Shakespeare ini, dalam satu pengertian, tidak tepat jika digunakan untuk memahami nama, terutama di Minahasa. Sebab “nama” dalam kehidupan Minahasa merupakan salah satu penanda identitas. Seperti nama-nama Tou Minahasa pada masa lalu yang kini digunakan sebagai nama keluarga, pada dasarnya sebuah nama menjadi penanda identitas dan kualitas orang yang menyandangnya. Demikian pula nama yang melekat pada setiap wanua atau kampung di Minahasa. Karena itu, usaha mencari dan menemukan makna di balik nama-nama kampung di Minahasa merupakan usaha untuk menemukan identitas Minahasa sekaligus identitas Tou Wanua.

Kanonang berasal dari nama sebuah pohon, yaitu pohon Kanonang. Menurut penuturan Opa Deki J. Pinatik, sejarah Kanonang berkaitan dengan kegiatan masyarakat Tompaso (Talikuran) yang berkebun. Pada masa lalu, lokasi Kampung Kanonang masih berupa hutan. Masyarakat dari Tompaso kemudian datang untuk bakobong milu—menanam jagung. Pada awalnya mereka hanya pergi dan pulang. Artinya, sejak pagi hingga sore mereka bekerja, lalu pada petang hari kembali ke rumah mereka di Tompaso untuk beristirahat. Ketika berkebun, mereka membawa bekal makanan. Bekal itu biasanya digantungkan pada pohon-pohon Kanonang, karena di wilayah kebun tersebut terdapat banyak pohon Kanonang. Inilah awal interaksi masyarakat dengan pohon Kanonang.

Setelah masyarakat melihat bahwa hasil kebun melimpah dan kegiatan kerja semakin banyak, mereka mulai memutuskan untuk menginap. Artinya, mereka tidak lagi selalu kembali ke Tompaso, tetapi memilih tinggal di kebun tempat mereka bekerja. Di kebun, mereka membangun terung atau pondok sederhana di bawah pohon Kanonang (ang tu’ura’).

Seiring waktu, tempat tersebut mulai dihuni oleh beberapa keluarga yang tujuan utamanya adalah berkebun. Mereka kemudian mulai membangun tempat tinggal tetap di lokasi itu. Karena tempat tersebut telah dihuni banyak orang, Tonaas Paendong, Kalangi, dan Pinatik sepakat mendirikan sebuah kampung melalui upacara Tumani In Doong. Kampung yang didirikan oleh para Tonaas tersebut diberi nama Kanonang.

Pada waktu itu, Watu Tumotowa didirikan di bawah pohon Kanonang sebagai penanda berdirinya kampung yang telah memperoleh restu dari Amang Kasuruan Wangko. Watu Tumotowa tersebut diberi nama “Mewio” yang berarti menopang atau menggendong seorang anak, dan disebut berasal dari abad ke-13 (Wenas J. & Warokka D., Minahasa, Asal/Makna Nama-Nama Kampung di Tanah Toar Lumimuut, 2010:85). Lokasi Watu Tumotowa dan pohon Kanonang dahulu berada di sekitar SDN INPRES Kanonang. Namun, pohon tersebut sekarang sudah tidak ada lagi di lokasi itu.

Wanua weru atau kampung baru bernama “Kanonang” pada saat itu memanjang dari timur ke barat. Hal ini dimaksudkan agar searah dengan pergerakan matahari, karena matahari memiliki arti penting bagi kehidupan Tou Minahasa pada masa itu. Proses pendirian kampung (Tumani In Doong) Kanonang diperkirakan terjadi sekitar 1630/1640. Tahun tersebut dirumuskan dalam sebuah seminar yang diselenggarakan pemerintah Kanonang untuk menyusun sejarah Kanonang. Bulan dan tanggal pastinya tidak diketahui dengan jelas. Namun, Wenas dan Warokka menyebutkan bahwa Watu Tumotowa Kanonang telah ada sejak abad ke-13.

Dalam sebuah buku yang diterbitkan Lembaga Seni Budaya Sulawesi Utara, J. Wenas dan D. Warokka juga menjelaskan tentang Kanonang. “Kanonang” disebut sebagai permukiman lama di hutan pohon Kanonang (Corbia myxalin). Kayunya digunakan sebagai bahan bakar untuk melebur perunggu dalam pembuatan patung kepala untuk tongkat yang disebut “Sekat.” Salah satu contoh patung perunggu Kanonang kini dapat ditemukan di Museum Nasional di Jakarta (Wenas J. & Warokka D., 2010:85).

Opa Deki Pinatik, yang berusia 74 tahun dan merupakan salah satu tetua Kampung Kanonang, juga menjelaskan tentang pohon Kanonang. Pohon Kanonang merupakan pohon yang telah tumbuh melimpah di Kanonang sejak sebelum kampung itu berdiri. Pohon ini sengaja ditanam di kebun masyarakat karena memiliki banyak manfaat. Bentuknya yang besar dan rindang menjadi tempat beristirahat bagi para petani ketika bekerja. Daunnya yang gugur menjadi humus bagi tanaman di kebun. Tanah di sekitar pangkal pohon sering ditanami tanaman seperti rica atau cabai, dan tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Buah pohon Kanonang (kamondor) dahulu digunakan sebagai lem atau perekat. Keunggulan lainnya adalah pohon Kanonang yang ditanam dekat tanaman lain tidak mengambil unsur hara tanah yang dibutuhkan tanaman seperti jagung dan kacang-kacangan. Sebaliknya, pohon Kanonang justru menyediakan humus dari daunnya serta naungan bagi tanaman dan para petani di kebun.

Pohon Kanonang biasanya ditanam di tanah tandus (karuncung) untuk membantu menyuburkan tanah. Karena itu, pohon ini ditanam masyarakat di kebun-kebun mereka, dan praktik tersebut telah menjadi tradisi di Kampung Kanonang. Penanamannya dapat dilakukan melalui stek maupun biji.

Yantri Paendong, seorang tokoh muda kebudayaan dari Kanonang, memberikan gambaran mengenai makna filosofis nama “Kanonang.” Menurut pemahaman yang diwariskan dalam keluarganya, “Kanonang” berarti “apa yang berada di sekitarnya menjadi subur.” Bagi Yantri, kalimat pendek ini menyimpan makna yang dalam mengenai keadaan Kanonang sejak masa lalu hingga sekarang. Kampung Kanonang pernah menjadi salah satu daerah dengan jumlah lulusan perguruan tinggi yang tinggi di Sulawesi Utara. Hal itu dapat dipahami sebagai bentuk “kesuburan,” yang dapat dimaknai sebagai “berkat,” yang dialami masyarakat melalui kualitas sumber daya manusia—subur dalam kapasitas intelektual. Karena itu, tidak mengherankan jika orang-orang dari Kanonang pernah menjadi Gubernur Sulawesi Utara dan Rektor sebuah perguruan tinggi di Sulawesi Utara. Tidak hanya itu, banyak orang Kanonang lainnya berhasil membawa nama baik bagi kampung mereka dan bagi Minahasa. Dengan kata lain, berbagai capaian tersebut semakin “menyuburkan” nama Kanonang.

Selain itu, Kanonang juga diberkati dengan keindahan alam yang kini menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia. Bukit Kasih telah dikenal secara luas, sehingga nama Kanonang dan Minahasa ikut dikenal. Dalam perkembangan penduduknya, Kanonang kini telah dimekarkan menjadi lima kampung. Hal ini menggambarkan bagaimana Kanonang dipandang telah menerima berkat dari Amang Kasuruan Wangko, sejalan dengan filosofi namanya: “yang memberi kesuburan kehidupan bagi kehidupan di sekitarnya.”

Berdasarkan makna nama dan sejarah di balik Kampung Kanonang, terdapat pesan yang dalam mengenai berkat yang diberikan Amang Kasuruan Wangko kepada Kanonang dan keturunannya. Sebab segala sesuatu telah diberikan Tuhan kepada para leluhur kita dan kepada kita. Tinggal bagaimana kita mencari dan menemukan kembali jalan kebijaksanaan itu. Jalan kebijaksanaan tersebut telah diberikan Tuhan dan dijalani para leluhur, dan harus pula dijalani oleh seluruh keturunannya. Karena itu, setiap usaha untuk memahami makna sebuah nama dan memahami doa menjadi jalan menuju pencerahan, menuju keabadian, dan menuju pencapaian kinaeneyan.