Lewati ke isi

Tulisan

Panduan Nona Menggunakan Marigold untuk Mengendalikan Hama

“Bunganya sudah mekar? Itu membantu mengusir hama,” kata Nona Sorongan.

Saya baru saja kembali dari kebun ketika ia menanyakan hal itu. Sepertinya ia ingin memastikan bahwa bunga marigold yang ditanamnya di kebun Poopo masih hidup dan mulai berbunga.

Kaki saya masih dipenuhi lumpur dari jalan setapak di sawah. Bau tanah basah melekat pada pakaian, bercampur dengan aroma rumput dan asap dari dapur-dapur di kejauhan. Angin sore bertiup pelan melintasi kebun. Di suatu tempat di sekitar sana, saya dapat mendengar suara serangga yang bersembunyi di antara daun serta aliran air dari saluran irigasi kecil yang membelah persawahan.

Cahaya sore perlahan berubah keemasan. Gunung-gunung di sekitar kampung mulai menghilang di balik kabut tipis. Di tempat seperti kampung kami, sore sering terasa lambat dan sunyi, tetapi kehidupan tetap bergerak di mana-mana pada saat yang sama. Sebagian orang pulang dari kebun membawa sayuran atau kayu bakar. Yang lain masih bekerja hingga matahari terbenam. Ayam berkeliaran bebas di halaman. Anjing tidur di bawah rumah kayu. Asap naik perlahan dari dapur. Dan di antara semua itu, bunga-bunga terus mekar dengan tenang tanpa meminta untuk diperhatikan.

Ia adalah ibu saya. Meskipun usianya sudah lebih dari 70 tahun, ia tetap seorang “Nona”. Dalam bahasa Indonesia, “nona” berarti perempuan muda. Namanya membuatnya seolah selalu muda. Nama lengkapnya Nona Sorongan.

Kadang-kadang saya berpikir bahwa nama membawa doa dari orang yang memberikannya. Mungkin kakek dan nenek saya tidak pernah membayangkan bahwa anak perempuan mereka akan menghabiskan puluhan tahun hidup di antara kebun, sawah, bunga, dapur, mapalus, anak-anak, serta siklus tanam dan panen yang tidak pernah berhenti. Namun entah bagaimana, nama “Nona” tetap cocok dengannya. Bahkan pada usianya sekarang, masih ada kelembutan dan kecerahan dalam caranya merawat tanaman serta mengingat hal-hal kecil di kebun.

Ibu saya tidak pernah berbicara seperti seorang ilmuwan. Ia tidak menjelaskan sesuatu menggunakan istilah pertanian yang rumit, makalah penelitian, atau presentasi ilmiah. Namun tangannya memahami tanah lebih baik daripada banyak ahli. Tangan itu telah menanam padi selama puluhan tahun, memanen cengkih, mengupas kelapa, memasak untuk keluarga, memikul kayu bakar, membersihkan ikan, dan bekerja di bawah panas matahari sejak ia muda. Garis-garis di telapak tangannya terasa seperti jenis perpustakaan lain—perpustakaan yang tidak ditulis dengan tinta, tetapi dengan kerja, ingatan, daya tahan, dan pengalaman.

Dirinya sendiri terasa seperti arsip kehidupan kampung. Setiap bekas luka, kerutan, dan gerak menyimpan ingatan tentang kerja dan ketahanan. Orang-orang seperti ibu saya jarang mendokumentasikan pengetahuan mereka dalam buku atau jurnal. Pengetahuan mereka bertahan di dalam gerak tubuh, rutinitas, kebiasaan, naluri, dan hubungan dengan tanah.

Saya sekarang menyadari bahwa banyak Perempuan Adat merupakan penjaga pengetahuan, meskipun jarang diakui demikian. Mereka menjaga benih, resep, cara bertani, pengetahuan obat, pengamatan ekologis, serta hubungan sosial tanpa pernah menyebut diri mereka intelektual atau aktivis lingkungan.

Mendengar apa yang ia katakan, saya langsung beralih ke perpustakaan dunia. Saya mengetik kata kunci “marigold repels plant pests” di mesin pencari Google. Saya perlu memastikan apakah yang saya dengar dari ibu saya benar. Bagaimanapun, saya adalah orang yang skeptis. Sikap skeptis membuat saya terus berpikir dan kritis.

Pada saat yang sama, saya juga menyadari bahwa skeptisisme kadang-kadang dapat menjauhkan kita dari pengetahuan yang paling dekat dengan kita. Pendidikan modern melatih saya mencari jawaban ke luar, sementara banyak jawaban sebenarnya sudah berada di sekitar saya sejak kecil—di kebun, sungai, dapur, hutan, dan percakapan dengan orang-orang tua.

Mungkin itulah salah satu perbedaan antara generasi saya dan generasinya. Generasi saya diajarkan untuk mempercayai pengetahuan yang muncul di layar, artikel, jurnal, video, atau institusi ilmiah. Kita sering menganggap sesuatu menjadi lebih sah setelah ditulis secara digital dan didukung bahasa akademik. Sementara itu, ibu saya tidak pernah membutuhkan internet untuk memahami alam. Jauh sebelum saya mengetik kata “marigold” di Google, ia sudah memahami bunga mana yang membantu melindungi tanaman rica, musim seperti apa yang membawa hama, dan tanda-tanda di alam yang menunjukkan perubahan cuaca.

Ia memahami langit dengan cara yang tidak saya miliki. Ia sering dapat memperkirakan hujan dengan mengamati awan, angin, suhu udara, atau perilaku serangga dan burung. Kadang-kadang ia memperhatikan hal-hal yang begitu halus sehingga saya sama sekali tidak menyadarinya. Dan sering kali, ternyata ia benar.

Ibu saya hanya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, tetapi ia memahami bagaimana merawat dan menjaga tanaman tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya. Saya meragukan bahwa pengetahuannya mengenai marigold sebagai pengusir hama berasal dari internet, seminar, atau pelatihan pertanian. Ia tidak akrab dengan teknologi, dan sebagian besar waktunya dihabiskan di kebun, dalam mapalus—kerja bersama—atau bersama suaminya, Rolly Wuisan, membuat Cap Tikus. Saya lebih yakin bahwa pengetahuan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi—dari para leluhurnya, atau mungkin dipelajari dari sesama perempuan petani ketika mengikuti mapalus.

Mapalus sendiri lebih dari sekadar kerja bersama. Ia juga merupakan sistem sosial yang dibangun dari kepedulian timbal balik dan keberlangsungan hidup bersama. Orang saling membantu menanam padi, memanen, membangun rumah, mempersiapkan upacara, dan menyelesaikan masalah bersama-sama. Melalui mapalus, hubungan antarmanusia dipelihara bersamaan dengan hubungan terhadap alam.

Dalam banyak hal, mapalus juga merupakan sekolah yang hidup. Orang-orang saling bertukar pengetahuan secara alami sambil bekerja bersama. Seseorang belajar cara menanam dengan baik, mengenali tanah yang sehat, merawat tanaman, atau bertahan pada musim yang sulit—bukan melalui kuliah formal, tetapi melalui keterlibatan dan pengalaman.

Di Minahasa, pengetahuan tidak selalu datang dari ruang kelas. Kadang-kadang ia bergerak secara tenang dari satu orang kepada orang lain ketika bersama-sama menanam padi, bertukar benih, menyiapkan makanan, atau beristirahat di sawah setelah berjam-jam bekerja. Pengetahuan dibawa melalui percakapan, kebiasaan, pengamatan, dan pengulangan. Kadang-kadang orang bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang menjaga pengetahuan ketika terus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ada bentuk-bentuk kecerdasan yang tidak mudah diukur melalui sertifikat, ijazah, atau gelar akademik. Kemampuan membaca musim, menjaga kesuburan tanah, mengenali tanaman obat, memperkirakan cuaca, atau memahami ekosistem juga merupakan bentuk kecerdasan. Namun masyarakat modern sering memperlakukan pengetahuan semacam itu sebagai sesuatu yang terbelakang hanya karena tidak lahir dari universitas atau lembaga ilmiah.


Saya membaca banyak situs web dan referensi penelitian mengenai marigold dan pengendalian hama secara alami.

Semakin banyak saya mencari, semakin saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan modern hanya sedang menjelaskan apa yang telah lama dipraktikkan oleh orang-orang seperti ibu saya. Bahasa ilmiah dapat menjelaskan senyawa kimia, sistem ekologis, dan fungsi pertanian dari marigold, tetapi masyarakat di kampung sering memahami hal-hal tersebut melalui hubungan langsung dengan tanah itu sendiri.

Kadang-kadang saya bertanya-tanya berapa banyak pengetahuan tradisional yang telah hilang hanya karena generasi muda tidak lagi mempercayai apa yang diketahui oleh orang-orang tua. Banyak bentuk kebijaksanaan ekologis menghilang secara perlahan ketika hutan hilang, ketika sistem pertanian berubah, atau ketika orang meninggalkan kampung dan berhenti menanam.

Di Minahasa, bunga marigold lebih dikenal sebagai bunga tai koko, atau “bunga kotoran ayam”. Mungkin karena aromanya yang kuat dan khas, bunga ini disebut demikian. Marigold termasuk dalam genus Tagetes. Nama Latinnya berbeda-beda tergantung spesies. Dua spesies yang paling dikenal adalah Tagetes erecta dan Tagetes patula. Jenis yang ditanam ibu saya adalah Tagetes erecta.

Bunganya sendiri sangat mencolok. Warna kuning dan jingganya terlihat terang di antara hamparan hijau. Dari kejauhan, bunga-bunga itu hampir seperti matahari kecil yang tumbuh dari tanah. Ketika angin bertiup, mereka bergerak pelan di sepanjang tepi persawahan, membawa kehidupan dan warna ke dalam kebun.

Kadang-kadang keindahan di kampung muncul melalui cara yang sederhana dan tidak terduga. Bukan melalui arsitektur mahal atau lanskap yang dirancang dengan sangat rapi, tetapi melalui bunga yang tumbuh di samping tanaman rica, anggrek yang tergantung dekat sebuah pondok, atau cahaya matahari yang menyentuh sawah basah setelah hujan.

Genus Tagetes diklasifikasikan dan dideskripsikan oleh Carl Linnaeus pada 1753. Carolus Linnaeus dikenal sebagai bapak taksonomi modern—seorang ahli botani, zoologi, taksonomi, dan dokter dari Swedia. Namanya cukup akrab bagi kita dari pelajaran ilmu pengetahuan di sekolah.

Dalam bahasa Inggris, Tagetes disebut marigold. Tanaman ini umum ditanam di halaman rumah atau kebun sebagai tanaman hias. Di beberapa tempat, marigold kini juga dibudidayakan sebagai tanaman pengendali hama. Menurut satuharapan.com, dalam pertanian marigold efektif membantu mencegah nematoda perusak tanaman dan digunakan sebagai tanaman pendamping, pengusir serangga, herbisida, serta agen antijamur.

Ada dua cara utama menggunakan marigold. Pertama, tanaman ini ditanam karena aromanya dipercaya mengusir hama. Kedua, marigold digunakan sebagai tanaman refugia. Menurut mongabay.co.id, refugia—istilah yang berasal dari bahasa Spanyol dan memiliki arti serupa dengan kata “shelter” dalam bahasa Inggris—merujuk pada area vegetasi di dalam atau sekitar lahan pertanian yang berfungsi sebagai habitat bagi musuh alami hama. Area tersebut menjadi rumah, tempat singgah, perlindungan, dan sumber makanan bagi predator maupun parasitoid.

Peneliti dari Politeknik Negeri Jember juga pernah meneliti penggunaan marigold dalam pengendalian populasi artropoda. Marigold digunakan sebagai tanaman refugia untuk membantu mengelola hama secara alami.

Dari berbagai sumber dan referensi yang saya temukan, saya akhirnya sampai pada kesimpulan yang sama seperti ibu saya.

Mungkin internet dan penelitian ilmiah tidak mengajarkan sesuatu yang sepenuhnya baru kepada saya. Sebaliknya, keduanya membantu saya memahami bahwa banyak bentuk pengetahuan Masyarakat Adat telah mengandung kecerdasan ekologis yang baru mulai diakui oleh sistem modern.

Kesadaran ini juga mengubah cara saya melihat ibu saya. Ketika masih muda, saya sering memandang pengetahuan kampung sebagai sesuatu yang biasa karena saya tumbuh dikelilingi olehnya. Baru kemudian saya menyadari bahwa banyak orang di kota, universitas, dan gerakan lingkungan hari ini justru sedang berusaha menemukan kembali cara hidup berkelanjutan yang telah dijalankan komunitas seperti kami selama beberapa generasi.

Marigold di kebun kami ditanam di sepanjang tepi sawah. Puluhan tanaman tumbuh dalam barisan yang rapi. Bunganya baru mulai mekar. Warna kuning cerah tampak menonjol di antara daun-daun hijau. Di dekat marigold, beberapa tanaman rica tumbuh dengan baik. Daunnya terlihat sehat. Tidak ada hama. Tanaman-tanaman itu juga mulai berbuah—besar dan subur. Rica yang tumbuh dekat marigold tampak lebih sehat dibandingkan tanaman yang ditanam di bagian lain kebun.

Lebah bergerak di sekitar bunga. Kupu-kupu sesekali hinggap pada kelopak sebelum terbang kembali. Kebun tidak terasa sunyi. Ia terasa hidup. Ada gerak di mana-mana—angin, serangga, daun, air, bunga, dan manusia yang bekerja bersama tanah.

Semakin dekat saya memperhatikan, semakin saya menyadari bahwa kebun bukan ruang terpisah yang hanya dimiliki manusia. Kebun adalah sebuah ekosistem tempat berbagai makhluk hidup hidup berdampingan. Burung mencari serangga, lebah mengumpulkan nektar, cacing bergerak di bawah tanah, ikan berenang di kolam, dan manusia ikut mengambil bagian dalam siklus yang lebih besar itu, bukan berdiri di luarnya.

Selain membantu mengendalikan hama tanpa pestisida, marigold juga memperindah kebun. Melihat bunga-bunganya mekar dengan indah seketika mengurangi rasa lelah setelah bekerja di sawah.

Ada sesuatu yang menenangkan ketika melihat bunga tumbuh di antara tanaman pangan. Kebun tidak lagi terasa hanya sebagai tempat menghasilkan panen dan kerja. Ia juga menjadi ruang keindahan, istirahat, dan hubungan emosional antara manusia dan alam.

Mungkin inilah sesuatu yang sering hilang dari pertanian industri modern. Pertanian skala besar sering memperlakukan tanah hanya sebagai mesin produksi, sementara kebun tradisional masih menyediakan ruang bagi keindahan, hubungan, keanekaragaman hayati, dan keterikatan emosional.

“Biar cuma kebun, tetap harus cantik.”

Begitulah kata ibu saya.


Pada awalnya, kalimat itu terdengar seperti ucapan sederhana tentang bunga. Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa kalimat tersebut memuat filsafat yang lebih besar tentang kehidupan itu sendiri.

Mungkin kalimat itu mencerminkan kehidupan banyak orang di kampung—orang-orang yang terus menanam meskipun panen gagal, terus bekerja meskipun kelelahan, dan terus merawat tanah walaupun menghadapi kesulitan ekonomi. Keindahan, di tempat seperti kampung kami, bukanlah kemewahan. Kadang-kadang keindahan merupakan bagian dari cara bertahan hidup itu sendiri.

Ada pula sesuatu yang puitis ketika mendengar kata-kata itu di tempat yang terhubung dengan produksi Cap Tikus. Api selalu ada di sana. Nira dimasak dan disuling melalui panas. Asap setiap hari naik dari daseng. Pembakaran merupakan bagian dari proses bertahan hidup. Namun ibu saya tetap bersikeras bahwa bunga harus ada di sekitar ruang-ruang tersebut.

Mungkin itulah caranya melawan kerasnya kehidupan. Sebuah penolakan yang tenang agar hidup tidak berubah hanya menjadi kerja, asap, panas, dan kelelahan.

Itulah sebabnya ia menanam marigold di kebun kami. Pada masa lalu, bunga-bunga ini tumbuh melimpah di halaman rumah, tetapi sekarang hanya beberapa yang tersisa. Ibu saya memang selalu menyukai bunga. Merawat bunga di rumah merupakan hal biasa baginya. Tetapi menanamnya di kebun—itu sesuatu yang berbeda.

Mungkin ia tidak melihat batas yang tegas antara produktivitas dan keindahan. Baginya, kebun bukan sekadar ruang produksi ekonomi. Kebun juga merupakan ruang hidup yang dibagi manusia bersama serangga, bunga, air, tanah, dan makhluk hidup lainnya.

Kadang-kadang saya merasa generasi yang lebih tua memahami keseimbangan lebih baik daripada kita hari ini. Mereka menanam makanan, tetapi juga menanam keindahan. Mereka bekerja keras, tetapi tetap menyediakan ruang untuk beristirahat, bercerita, bermusik, berkumpul, dan menjalankan ritual. Hidup memang sulit, tetapi tidak sepenuhnya terputus dari makna dan hubungan.

Selain marigold di sawah, ibu saya juga merawat anggrek di kebun tempat ayah saya membuat Cap Tikus. Anggrek yang diambil dari hutan disusun di sekitar daseng—pondok tempat proses penyulingan berlangsung. Ketika bunga-bunga itu mekar, suasana pondok berubah sepenuhnya—menjadi hidup dan menyenangkan untuk dipandang.

Kontrasnya menarik bagi saya: di sekitar daseng terdapat asap, api, dan aroma penyulingan alkohol, tetapi di dekatnya juga tumbuh anggrek yang lembut dan mekar dengan tenang. Rasanya seperti cerminan lain dari kata-kata ibu saya: bahkan di tempat yang dipenuhi panas, kerja, dan nyala api, keindahan tetap harus ada.

Anggrek itu sendiri terasa hampir simbolis. Mereka rapuh sekaligus tangguh. Mereka bertahan menempel pada batang pohon, menghadapi perubahan cuaca, hujan, sinar matahari, dan angin. Namun dalam lingkungan yang sulit sekalipun, mereka tetap mekar dengan indah. Mungkin manusia tidak terlalu berbeda.

Setelah beristirahat dan menikmati keindahan kebun, saya kembali menanam rica dan memberi makan ikan mas di kolam. Sebab hanya dengan menanam dan merawat kita dapat memanen.

Tindakan memberi makan ikan, menanam rica, menyiram tanaman, dan merawat kebun mungkin terlihat kecil, tetapi tindakan yang berulang ini perlahan membentuk keseluruhan cara hidup. Ia mengajarkan kesabaran karena tidak ada yang tumbuh secara instan. Ia mengajarkan tanggung jawab karena makhluk hidup bergantung pada perawatan. Dan ia mengajarkan kerendahan hati karena pada akhirnya manusia tidak pernah dapat sepenuhnya mengendalikan alam.

Dan mungkin menanam bukan hanya tentang menghasilkan pangan. Menanam juga berarti menjaga hubungan—dengan tanah, dengan ingatan, dengan leluhur, dengan keluarga, dan dengan masa depan.

Setiap benih membawa waktu di dalam dirinya. Ada benih yang membawa ingatan tentang kakek-nenek yang menanam sebelum kita. Ada pula yang membawa harapan agar generasi mendatang masih mengetahui cara menanam pangan, mengenali musim, dan hidup dekat dengan tanah.

Dengan menanam dan memelihara pangan sendiri, kita juga dapat lebih memastikan bahwa apa yang masuk ke dalam tubuh adalah sesuatu yang sehat—bebas dari bahan kimia berbahaya. Kadang-kadang saya berpikir bahwa ini juga merupakan bentuk kemandirian: tetap terhubung cukup kuat dengan tanah sehingga kita masih mampu memberi makan diri sendiri darinya.

Dalam banyak komunitas Masyarakat Adat, pangan tidak dipisahkan dari identitas, spiritualitas, wilayah, dan kebudayaan. Kehilangan kemampuan menanam sering juga berarti kehilangan cerita, upacara, bahasa, dan hubungan dengan wilayah leluhur.

Ketika matahari perlahan menghilang di balik perbukitan, bunga-bunga marigold tetap bersinar di sepanjang tepi sawah. Mereka menjaga kebun dengan tenang, seperti pengetahuan yang diwariskan oleh generasi yang lebih tua terus menjaga cara hidup kami, bahkan ketika dunia modern sering tidak memperhatikannya.

Dan mungkin itulah pelajaran sunyi yang sejak lama diajarkan ibu saya: merawat Bumi tidak selalu dimulai dari teori besar, konferensi internasional, atau teknologi yang rumit. Kadang-kadang semuanya dimulai dari tindakan yang sangat kecil—menanam bunga di samping tanaman rica, menyimpan benih, memberi makan ikan, berbagi kerja melalui mapalus, dan terus merawat keindahan bahkan dalam keadaan yang sulit.

Kadang-kadang kebijaksanaan bertahan bukan karena dibela dengan suara keras, tetapi karena terus dipraktikkan secara tenang setiap hari.