Lewati ke isi

Tulisan

Smartphone Movement: Sebuah Manifesto tentang Teknologi Modern dari Masyarakat Adat

Pada malam hari di beberapa kampung Minahasa, layar smartphone menyala di antara rumah-rumah kayu, kebun, api kecil, dan lanskap pegunungan yang gelap. Orang-orang muda duduk bersama menyunting video, membalas pesan dalam bahasa Tontemboan, mendiskusikan film, atau mengunggah foto melalui sinyal internet yang tidak stabil. Di kejauhan, suara serangga, sungai, angin, dan percakapan kampung terus terdengar seperti biasa. Di antara lanskap leluhur dan layar digital, perlahan muncul hubungan baru antara kehidupan Masyarakat Adat dan teknologi.

“Get, Ambisa? Mange Tumeir tarpe ko’?”

(Get, di mana kamu? Apakah kamu ikut tradisi Tumeir di rumah duka?)

“En yah. Temuli wo ambale’ku wo cita maya mewali-wali.”

(Ya. Singgah di rumah saya, lalu kita pergi bersama.)

Ini adalah kutipan dari percakapan WhatsApp (WA) dengan teman saya Aldi Egeten, seorang pemuda dari Wuwuk. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Wilayah Minahasa Selatan. Selama beberapa tahun terakhir, percakapan kami terasa sedikit berbeda.

Karena bahasa.

“Dam, ‘ca re’en mareng ang do’ong, ko’?”

(Dam, kamu tidak pulang ke kampung?)

“En. Minggu ma’ai oka. Marengo kwa’ yaku minggu lalu.”

(Ya. Minggu depan. Sebenarnya minggu lalu saya sudah pulang.)

Itu adalah kutipan dari percakapan dengan teman saya Clief Rumengan, salah satu tokoh pemuda adat di Wuwuk, melalui panggilan video WA. Semua percakapan kami—baik melalui panggilan video maupun panggilan telepon biasa—terasa berbeda dalam beberapa tahun terakhir.

Saya, Eget, Sadam, dan beberapa teman di Wuwuk, juga banyak teman di kampung-kampung lain di Minahasa, menyadari ancaman hilangnya bahasa Minahasa. Tontemboan, misalnya.

Hanya sedikit dari generasi sekarang yang fasih dan terbiasa menggunakan bahasa Minahasa. Memang ada banyak faktor di balik kondisi ini. Namun, harus ada cara untuk mengatasinya. Salah satunya adalah membiasakan kembali berbicara dalam bahasa Minahasa. Berbicara dengan orang-orang terdekat: Mama dan Papa, Oma dan Opa, teman-teman, dan lain-lain. Percakapan itu dapat dilakukan secara langsung, tatap muka. Ia juga dapat berlangsung melalui medium komunikasi modern. Saya dan teman-teman memilih cara yang terakhir.

Kami dengan sadar mengubah cara berkomunikasi pada zaman ini. Mediumnya tetap sama: smartphone. Kami memilih untuk tidak bermegah dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia formal (EYD/PUEBI). Tidak. Kami memilih menggunakan Tontemboan. Dalam percakapan internal, kami mencoba mengajari diri sendiri dan belajar satu sama lain bahasa tanah Minahasa, Tontemboan. Kami berusaha menghidupkan kembali percakapan di antara teman-teman dengan menggunakan “Bahasa Tanah” (bahasa adat Minahasa). Selain membiasakan diri kembali dengan bahasa, kami ingin memanfaatkan sepenuhnya teknologi hari ini.

Lebih jauh, menyebarkan gagasan ini kepada teman-teman lain menjadi tujuan kami. Sebab, mayoritas orang muda hari ini memiliki satu kesamaan: mereka tidak lagi fasih dalam Bahasa Tanah.

Sekarang, sebagai sesama orang muda, kami mencoba mempelajari kembali bahasa Minahasa dengan menggunakan teknologi terkini.

Hambatan berupa rasa malu atau kesulitan berbicara dalam bahasa ibu secara langsung dapat dilewati melalui chatting yang lebih privat. Saat mengobrol atau menelepon (suara dan video), seseorang dapat lebih terbuka, lebih berani, dan tidak takut membuat kesalahan. Lebih bebas. Meskipun kata atau kalimat bahasa daerah masih bercampur dengan Melayu Manado atau bahasa Indonesia, lama-kelamaan hal itu akan menjadi kebiasaan. Akibatnya, semakin banyak kosakata adat yang dikuasai. Suatu hari nanti, bahasa daerah dapat kembali menjadi bahasa yang wajib digunakan di kampung dan dalam pergaulan orang muda tanpa sedikit pun rasa minder atau malu. Ini adalah salah satu contoh metode belajar yang digunakan pemuda adat Minahasa di tengah klaim sebagai “generasi milenial”.

Di balik banyak upaya komunikasi dan dokumentasi ini terdapat sebuah ketakutan yang tenang: ketakutan bahwa lagu, ritual, cerita, bahasa, ingatan, dan cara hidup dapat hilang sebelum diwariskan kepada generasi berikutnya. Bagi banyak pemuda adat, smartphone menjadi bermakna bukan semata-mata karena ia perangkat modern, tetapi karena ia menawarkan salah satu kemungkinan untuk membawa ingatan ke dalam kehidupan kontemporer.

Metode belajar ini tidak lagi terbatas di Ro’ong Wuwuk. Ia dipraktikkan di beberapa kampung di Minahasa dan bahkan di berbagai tempat di kepulauan Indonesia.

Seorang tetua pernah mengatakan kepada kami bahwa pada masa lalu cerita hanya berpindah dari mulut ke mulut dan dapat hilang bersama wafatnya sebuah generasi. Melihat orang muda mendokumentasikan bahasa, ritual, dan kehidupan kampung melalui smartphone memberinya harapan bahwa ingatan dapat terus hidup dengan cara yang berbeda di masa depan. Bagi banyak tetua, teknologi ini bukan sekadar alat modern, tetapi kemungkinan jembatan antargenerasi.

Gerakan ini digerakkan oleh orang muda. Karena dilakukan banyak orang secara bersama-sama, ia menjadi sebuah gerakan kolektif. Mempelajari kembali Bahasa Tanah melalui smartphone bersama teman dan orang tua merupakan bagian dari gerakan kami sebagai pemuda adat Minahasa. Kami menyebutnya “Smartphone Movement”.

Pada saat yang sama, kami juga menyadari bahwa bahasa bukan semata-mata alat komunikasi. Di dalam bahasa Masyarakat Adat terdapat ingatan, humor, filsafat, cara menyapa para tetua, cara memahami alam, dan cara melihat dunia. Ketika sebuah bahasa hilang, seluruh cara pandang dunia perlahan ikut melemah. Karena itu, mempelajari kembali bahasa adat melalui smartphone bukan sekadar soal kosakata. Ia juga merupakan upaya menjaga ingatan dan identitas kebudayaan di tengah perubahan sosial yang cepat.

Smartphone Movement

Zaman berubah. Teknologi juga berubah. Selain mengubah cara kita berkomunikasi, teknologi juga mengubah cara manusia berinteraksi dan menyatakan posisi. Berbagai merek perangkat komunikasi bermunculan. Smartphone menjadi pilihan banyak orang.

Hampir semua orang hari ini memiliki smartphone. Selain semakin terjangkau, pilihannya sangat beragam. Kemampuannya kini multitasking, hampir seperti komputer. Ia bukan lagi sekadar alat komunikasi; ia juga menjadi sumber pengetahuan.

Dalam konteks sekarang, smartphone seolah-olah telah menjadi organ manusia. Ia tidak pernah jauh dari manusia karena manusia tidak ingin jauh darinya.

Smartphone seperti tubuh. Jiwanya adalah internet. Perpaduan keduanya mampu menghadirkan dan memenuhi hampir setiap kebutuhan manusia akan informasi dan hiburan.

Pada saat yang sama, smartphone juga menciptakan kontradiksi dalam kehidupan modern. Perangkat yang sama yang membantu pemuda adat terhubung kembali dengan bahasa dan kebudayaan juga dapat menjauhkan manusia dari sekitarnya melalui scrolling tanpa akhir, distraksi, dan dominasi kebudayaan dari luar. Algoritma media sosial terus-menerus berebut perhatian manusia. Dalam banyak hal, pengetahuan Masyarakat Adat bergerak lambat, relasional, dan berakar pada pengamatan terhadap wilayah serta hubungan, sedangkan platform digital sering dibangun di atas kecepatan, reaksi instan, dan stimulasi terus-menerus. Smartphone Movement hidup di dalam ketegangan ini.

Smartphone Movement juga hidup di dalam kontradiksi. Perangkat yang digunakan untuk melindungi ingatan Masyarakat Adat juga merupakan bagian dari sistem yang dibentuk oleh pengawasan, konsumerisme, ekstraksi perhatian, dan kendali korporasi atas kehidupan digital. Platform media sosial mendorong konsumsi tanpa akhir, kecepatan, distraksi, dan keterlihatan terus-menerus, sementara banyak cara belajar Masyarakat Adat berakar pada kesabaran, pengulangan, pengamatan, dan hubungan jangka panjang dengan wilayah.

Sistem pengetahuan Masyarakat Adat sering bergerak perlahan. Pengetahuan dibangun melalui musim, ritual, perjalanan, pengamatan alam, dan hubungan antargenerasi. Sementara itu, kebudayaan digital menghargai immediacy, viralitas, reaksi, dan kecepatan. Smartphone Movement berada di antara dua dunia waktu ini: antara irama lambat ingatan Masyarakat Adat dan irama modernitas digital yang terus dipercepat.

Algoritma terus-menerus mendorong manusia menuju kecepatan, tren, dan keterlihatan viral, sementara ingatan Masyarakat Adat sering bertahan melalui pengulangan, kesabaran, ritual, dan hubungan antargenerasi. Smartphone Movement berada di dalam negosiasi yang sulit antara kebudayaan algoritmik dan ingatan leluhur.

Dalam banyak cara pandang Masyarakat Adat, waktu tidak dipahami hanya sebagai kemajuan linear yang bergerak ke depan. Waktu juga bersifat siklik, relasional, dan terhubung dengan leluhur, musim, ritual, wilayah, serta pengulangan lintas generasi. Smartphone Movement berada di dalam perjumpaan antara pemahaman leluhur mengenai waktu dan temporalitas kebudayaan digital yang terus dipercepat.

Menurut laporan seperti Digital 2025 Indonesia yang diterbitkan We Are Social dan Meltwater, Indonesia memiliki tingkat konektivitas seluler dan penggunaan internet yang sangat tinggi. Data sebelumnya yang dipublikasikan melalui IndonesiaBaik.id juga menunjukkan penetrasi smartphone yang signifikan baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan, meskipun sebagian angka tersebut kini lebih berfungsi sebagai konteks historis daripada ukuran terkini. Terlepas dari perbedaan metodologi antar-dataset, satu kenyataan tetap jelas: smartphone telah terintegrasi secara mendalam ke dalam kehidupan sosial sehari-hari, termasuk di komunitas dan kampung Masyarakat Adat.

Penting untuk membedakan antara kepemilikan telepon seluler, kepemilikan smartphone, pengguna internet, dan koneksi seluler, karena semuanya bukan kategori yang sama. Satu orang dapat memiliki beberapa kartu SIM atau perangkat, sehingga jumlah koneksi seluler tidak selalu merepresentasikan jumlah unik pengguna smartphone. Meskipun demikian, laporan-laporan tersebut memperlihatkan seberapa dalam teknologi digital telah memasuki kehidupan sehari-hari di Indonesia, termasuk di wilayah Masyarakat Adat.

Sejak 2011 di Minahasa, kesadaran menggunakan telepon seluler dan fitur-fiturnya sebagai gerakan kebudayaan telah dimulai oleh Mawale Movement. Beberapa orang muda mendokumentasikan kegiatan seni dan kebudayaan melalui telepon seluler. Foto dan video yang diambil kemudian diolah menjadi tulisan, esai foto, dan film dokumenter. Karya-karya tersebut kemudian dibagikan untuk menginspirasi orang Minahasa lainnya membangun tanah Minahasa.

Praktik dokumentasi awal ini menjadi penting karena perlahan mengubah hubungan antara pemuda adat dan produksi media itu sendiri. Dalam waktu yang lama, Masyarakat Adat sering difoto, diteliti, difilmkan, dan direpresentasikan oleh orang luar. Komunitas Masyarakat Adat sering menjadi objek representasi, bukan produsen aktif dari narasi mereka sendiri. Melalui smartphone, banyak pemuda adat mulai merebut kembali kemampuan untuk menceritakan kisah mereka sendiri dari perspektif dan wilayah mereka sendiri.

Bagi saya pribadi, smartphone juga merupakan alat pertama untuk membuat film yang membuat sinema terasa mungkin dilakukan dari kampung. Sebelum memiliki akses pada peralatan pembuatan film profesional, smartphone memungkinkan saya bereksperimen dengan penceritaan, dokumentasi, penyuntingan, dan distribusi langsung dari lingkungan saya sendiri. Saya mulai menyadari kekuatan politik dokumentasi smartphone ketika cerita dari kampung tiba-tiba melintasi batas geografis melalui media sosial, pemutaran komunitas, dan platform digital. Sesuatu yang direkam di sebuah kampung kecil kini dapat dilihat, dibicarakan, dan diingat oleh orang di kota lain bahkan negara lain.

Di beberapa kampung, film sering disunting bersama-sama pada malam hari dengan listrik terbatas, koneksi internet yang tidak stabil, dan peralatan sederhana. Kadang-kadang peserta harus naik ke bukit untuk mencari sinyal hanya untuk mengunggah video pendek atau mengirim file film melalui aplikasi pesan. Keterbatasan-keterbatasan ini menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri. Smartphone Movement tidak tumbuh dari lingkungan produksi yang mewah, tetapi dari kenyataan sehari-hari di kampung tempat akses teknologi terbatas sementara cerita, ingatan, dan pengetahuan kebudayaan berlimpah.

Kemunculan smartphone secara masif pada akhirnya menggeser fungsi telepon seluler dari sekadar alat komunikasi. Melalui berbagai kelebihannya, smartphone dipilih sebagai alat dan medium untuk membangun kesadaran dan menginspirasi orang.

Bagi banyak warga kampung, melihat film yang disunting dan didistribusikan sepenuhnya melalui smartphone pada awalnya terasa mengejutkan. Perangkat yang sebelumnya terutama diasosiasikan dengan chatting dan hiburan tiba-tiba menjadi alat untuk sinema, penceritaan, dokumentasi, dan komunikasi politik. Transformasi ini perlahan mengubah cara banyak orang memahami makna teknologi dalam kehidupan kampung.

Selain banyaknya aplikasi dan fitur, distribusi data dan informasi melalui smartphone sangat mudah, terutama dengan koneksi internet. Tulisan, foto, video/film, dan karya grafis dapat dibuat melalui smartphone dan dibagikan secara global serta instan melalui media sosial.

Kehadiran smartphone juga mendorong pergeseran dalam mengakses dan menyebarkan informasi dari Old Media menuju New Media. Melihat kondisi ini, pada 2017 beberapa orang muda Minahasa secara sadar memilih menggunakan smartphone sebagai gerakan kebudayaan. Nama gerakan ini adalah “Smartphone Movement”.

Smartphone Movement adalah gerakan kebudayaan yang dilakukan generasi muda untuk menjaga wilayah leluhur mereka. Gerakan ini bermula di Minahasa oleh beberapa pemuda adat sebagai bentuk tanggung jawab kebudayaan dari generasi yang menyadari manfaat teknologi bagi masyarakat hari ini dan bagi generasi mendatang.

Disebut sebagai gerakan karena kesadaran untuk menggunakan smartphone secara efektif dalam menjaga wilayah leluhur dimiliki bersama oleh banyak orang. Kesadaran ini hidup di antara banyak pemuda adat di kampung-kampung.

Smartphone digunakan sebagai medium untuk menghasilkan karya—tulisan, foto, video/film, dan grafis—untuk mendokumentasikan dan menyebarkan informasi kepada siapa saja, di mana saja, kapan saja, secara real-time. Proses ini juga didukung oleh manfaat besar media sosial.

Di Minahasa, Smartphone Movement diwujudkan melalui optimalisasi penggunaan smartphone:

Menulis

Di Minahasa, lokakarya menulis dilakukan oleh komunitas penulis atau komunitas seni/kebudayaan di kampung-kampung. Pesertanya—orang muda kampung—menggunakan smartphone untuk mewawancarai, mengambil gambar, dan menulis. Setelah selesai, tulisan tersebut didiskusikan di grup WA atau Facebook. Sebagian langsung dipublikasikan ke media sosial untuk disebarkan secara real-time. Tulisan-tulisan itu mencakup beragam tema dan genre. Smartphone menjadi medium untuk penciptaan sekaligus distribusi langsung. Salah satu aspek paling transformatif dari teknologi smartphone adalah bahwa cerita yang lahir dari kampung kecil tidak lagi terisolasi secara geografis. Video pendek yang direkam di wilayah adat yang terpencil kini dapat bergerak melintasi pulau, negara, dan jaringan digital global dalam hitungan detik. Cerita yang sebelumnya hanya bertahan di dalam kampung kini dapat masuk ke percakapan publik yang lebih luas sambil tetap berakar pada kenyataan lokal dan perspektif Masyarakat Adat.

Lokakarya-lokakarya ini bukan sekadar pelatihan teknis. Ia juga menjadi ruang tempat pemuda adat belajar mengamati wilayah mereka sendiri dengan cara yang berbeda. Belajar menulis berarti belajar mendengarkan para tetua, mencatat ingatan, merefleksikan kehidupan kampung, serta mengubah pengalaman sehari-hari Masyarakat Adat menjadi pengetahuan dan narasi publik.

Smartphone Movement bukan hanya tentang merekam kenyataan, tetapi juga tentang belajar mendengarkan. Peserta didorong menghabiskan waktu bersama para tetua, petani, pemburu, pemimpin ritual, dan komunitas kampung sebelum mendokumentasikan mereka. Mendengarkan menjadi bagian penting dari proses karena pengetahuan Masyarakat Adat sering diwariskan melalui cerita, pengamatan, keheningan, dan hubungan jangka panjang dengan manusia serta wilayah.

Dalam banyak komunitas Masyarakat Adat, belajar tidak hanya berlangsung melalui berbicara. Ia juga berlangsung melalui diam, mengamati, menunggu, dan menghabiskan waktu bersama wilayah. Kadang-kadang peserta belajar lebih banyak dari duduk diam bersama tetua, berjalan di kebun, atau mendengarkan sungai daripada dari penjelasan teknis formal.

Bagi banyak peserta, pelajaran paling penting bukan sekadar bagaimana mengoperasikan kamera atau menyunting film, tetapi bagaimana mendekati komunitas dengan rasa hormat dan kesabaran. Dokumentasi dipahami bukan sekadar produksi konten, tetapi sebagai bagian dari menjaga hubungan antargenerasi, ingatan, dan tanah.

Pembuatan Film

Spesifikasi smartphone saat ini cukup kuat untuk membuat video atau film pendek. Selain terjangkau, variasi merek dan spesifikasinya sangat luas. Hal ini membuat banyak orang muda memilih smartphone untuk keperluan multimedia. Salah satunya adalah pembuatan film. Dibuat melalui smartphone berarti video direkam, disunting, dipublikasikan, dan didistribusikan di media sosial melalui smartphone. Membuat film dengan smartphone (Smartphone Cinematography) merupakan salah satu fondasi Smartphone Movement.

Di kampung-kampung Minahasa, banyak orang muda tertarik membuat film dengan smartphone. Aplikasi untuk membuat film mudah diperoleh, baik gratis maupun berbayar. Mereka membuat film pendek lucu, mendokumentasikan kegiatan seni dan kebudayaan, dan membuat film pendek tentang kampung mereka. Tidak semua produksi smartphone merupakan dokumentasi politik yang serius. Banyak pemuda adat juga membuat video humor, lelucon lokal, parodi, dan komedi keseharian kampung melalui smartphone. Humor itu sendiri menjadi bagian dari keberlanjutan kebudayaan dan hubungan sosial. Melalui lelucon, percakapan jenaka, dan komedi kampung, orang muda terus mengekspresikan identitas Masyarakat Adat dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan jauh atau formal.

File film yang dibuat dengan smartphone biasanya tidak terlalu besar sambil tetap mempertahankan kualitas yang baik, sehingga tidak menghabiskan terlalu banyak data ketika diunggah. Dibandingkan film yang dibuat melalui komputer, film smartphone relatif pendek. Hal ini membuat orang lebih tertarik menontonnya di media sosial karena pertimbangan penggunaan data. Selain itu, film dapat langsung diunggah atau dibagikan tanpa proses transfer yang kadang rumit seperti pada komputer.

Di beberapa kampung, pemutaran film komunitas menjadi momen kolektif yang penting. Warga berkumpul pada malam hari menonton film yang dibuat oleh anak-anak, kerabat, dan tetangga mereka sendiri. Tawa sering memenuhi ruang pemutaran ketika wajah yang dikenal, jalan kampung, kebun, atau lelucon lokal muncul di layar. Pada kesempatan lain, pemutaran menjadi ruang emosional tempat komunitas merefleksikan kerusakan lingkungan, tradisi yang menghilang, migrasi, dan perubahan sosial di sekitar mereka.

Bagi sebagian tetua, menyaksikan upacara, cerita, atau aktivitas sehari-hari mereka sendiri didokumentasikan melalui film yang dibuat oleh orang muda kampung menjadi pengalaman yang sangat mengharukan. Banyak yang tidak terbiasa melihat kehidupan mereka sendiri direpresentasikan dari dalam komunitas. Dalam pengertian ini, pembuatan film dengan smartphone bukan hanya kegiatan teknis, tetapi juga proses mengembalikan keterlihatan dan martabat pada kehidupan sehari-hari Masyarakat Adat.

Bagi banyak peserta, mendokumentasikan para tetua menjadi semakin mendesak karena semakin banyak pemilik pengetahuan tradisional yang meninggal setiap tahun. Smartphone memungkinkan generasi muda merekam suara, cerita, lagu, ingatan, dan penjelasan yang jika tidak direkam dapat hilang diam-diam bersama berlalunya generasi.

Pemutaran film komunitas sering menjadi momen emosional ketika warga melihat kenyataan mereka sendiri dipantulkan kembali melalui film. Orang tertawa melihat wajah yang dikenal, kebun, jalan, hutan, dan aktivitas kampung muncul di layar. Kadang-kadang diskusi tentang kebudayaan, tanah, migrasi, dan perubahan lingkungan terus berlangsung lama setelah pemutaran selesai. Bagi sebagian warga, menonton film yang dibuat oleh anak dan cucu mereka sendiri menimbulkan perasaan yang jarang dialami sebelumnya: melihat kehidupan mereka sendiri direpresentasikan dari dalam komunitas.

Dalam beberapa lokakarya dan pemutaran, anak-anak sering berkumpul di sekitar kamera smartphone dengan rasa ingin tahu melihat proses pembuatan film. Sebagian mulai meniru praktik merekam itu sendiri, merekam teman, alam, dan kehidupan sehari-hari kampung menggunakan smartphone. Dalam banyak hal, Smartphone Movement juga diam-diam membentuk cara generasi lebih muda membayangkan penceritaan, teknologi, dan kehidupan kampung. Bagi sebagian warga, melihat diri mereka muncul di layar menciptakan pengalaman yang aneh sekaligus emosional. Banyak yang terbiasa melihat orang luar merepresentasikan kehidupan Masyarakat Adat, tetapi jarang melihat komunitas mereka direpresentasikan melalui mata anak dan kerabat mereka sendiri.

Secara historis, pembuatan film sering membutuhkan infrastruktur mahal seperti kamera sinema, komputer penyuntingan, dan akses institusional. Hambatan ini mengecualikan banyak komunitas perdesaan dan Masyarakat Adat dari produksi audiovisual. Smartphone secara signifikan menurunkan hambatan tersebut. Hari ini, pemuda adat dapat merekam, menyunting, membuat subtitle, dan mendistribusikan film melalui satu perangkat portabel. Pergeseran ini penting bukan hanya secara teknologi, tetapi juga secara politik, karena komunitas yang sebelumnya direpresentasikan oleh orang luar semakin dapat membangun bahasa sinematik mereka sendiri dan merepresentasikan diri secara langsung.

Banyak produksi smartphone dibuat dalam kondisi yang jauh dari sempurna: koneksi internet yang tidak stabil, listrik terbatas, audio rusak, hujan, kesalahan teknis, dan peralatan minimal. Namun ketidaksempurnaan ini juga mencerminkan kenyataan tempat cerita itu lahir. Kekuatan Smartphone Movement tidak terletak pada kesempurnaan teknis, tetapi pada kehadiran, kejujuran, dan kedekatan cerita yang disampaikan.

Smartphone juga menciptakan hubungan sinematik yang berbeda di dalam komunitas Masyarakat Adat. Tidak seperti produksi profesional berskala besar yang kadang menciptakan jarak antara pembuat film dan komunitas, smartphone sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang sering merasa lebih santai, intim, dan alami di depan kamera smartphone karena perangkat tersebut familiar dan tidak mengintimidasi. Hal ini menciptakan suasana pembuatan film yang sering lebih personal dan lebih dekat dengan kehidupan komunitas sehari-hari.

Di banyak kampung Masyarakat Adat, membuat film melalui smartphone menjadi kurang tentang tontonan dan lebih tentang hubungan. Proses merekam sering menyatu dengan percakapan, makan bersama, kegiatan berkebun, ritual, perjalanan melintasi hutan, dan waktu yang dihabiskan mendengarkan para tetua. Dalam konteks ini, sinema bukan hanya praktik visual, tetapi juga praktik relasional yang berakar pada kepercayaan, kehadiran, dan pengalaman komunitas.

Video Berita

Selain film, karya lain seperti video berita juga dapat dibuat. Hari ini, dengan smartphone dan internet, siapa pun dapat menjadi jurnalis atau peliput berita. Media sosial menjadi medium yang sangat efektif untuk menyampaikan informasi. Banyak media daring melakukan terobosan dalam penyajian berita dengan memilih video sebagai formatnya. Video berita yang dahulu hanya terlihat di layar televisi kini dapat diproduksi siapa saja. Melalui smartphone, orang dapat membuat video berita mengenai peristiwa atau laporan kegiatan di kampung.

Pada saat yang sama, Smartphone Movement juga menyadari bahwa memproduksi informasi membutuhkan tanggung jawab. Smartphone memang menurunkan hambatan untuk produksi dan distribusi media, tetapi verifikasi, etika, pemahaman konteks, dan akuntabilitas tetap penting. Tujuannya bukan sekadar memproduksi lebih banyak konten, tetapi menciptakan dokumentasi dan komunikasi yang bermakna serta bertanggung jawab kepada komunitas.

Fotografi

Kamera smartphone memungkinkan siapa pun menjadi fotografer—menangkap momen, manusia, dan cerita. Ini termasuk mendokumentasikan seni, kebudayaan, dan tradisi, juga lanskap alam dan potret kampung. Fotografi menggunakan smartphone kini populer. Orang muda menggunakan smartphone untuk mendokumentasikan peristiwa, momen, tempat, dan ritual Masyarakat Adat.

Perempuan muda Masyarakat Adat juga memainkan peran penting dalam Smartphone Movement sebagai fotografer, pembuat film, desainer, penulis, pengorganisir, dan pencerita yang mendokumentasikan kenyataan kampung dari perspektif mereka sendiri. Partisipasi mereka memperluas gerakan ini melampaui praktik teknologi menuju pertanyaan yang lebih luas mengenai representasi, suara, gender, dan penceritaan komunitas.

Di banyak komunitas Masyarakat Adat, smartphone juga telah menjadi arsip portabel. Melalui foto dan video, komunitas dapat mendokumentasikan upacara, tradisi lisan, lanskap, lagu, para tetua, dan momen penting sebelum menghilang. Secara historis, banyak ingatan Masyarakat Adat diwariskan secara lisan dan sering ikut hilang bersama wafatnya para tetua. Smartphone kini memungkinkan banyak ingatan itu disimpan, dilihat kembali, dan dibagikan lintas generasi.

Desain Grafis

Platform smartphone kini menyediakan berbagai aplikasi pengolahan grafis. Banyak orang memanfaatkan kemudahan ini untuk membuat karya grafis seperti flyer, pamflet, meme, olahan foto, dan poster. Misalnya, kegiatan kampung, kampus, atau komunitas dipublikasikan melalui pamflet digital yang dibuat melalui smartphone.

Komunikasi dalam Bahasa Adat

Berbagai jenis media sosial mendorong manusia untuk berkomunikasi. Panggilan suara, panggilan video, atau sekadar chatting menjadi pilihan. Medium komunikasi ini juga digunakan sebagai ruang belajar oleh pemuda adat untuk mempelajari kembali bahasa ibu mereka.

Smartphone menjadi pilihan untuk menciptakan dan memperoleh pengetahuan. Semua karya—tulisan, grafis, foto, dan film—memberikan pengaruh besar terhadap kebudayaan Minahasa. Banyak orang dipengaruhi dan terinspirasi oleh karya-karya yang dibuat melalui smartphone.

Selama bertahun-tahun, sebagian pemuda adat merasakan tekanan untuk menjauhkan diri dari identitas kampung, bahasa adat, dan kebudayaan tradisional agar terlihat modern. Berbicara dalam bahasa adat kadang diasosiasikan dengan keterbelakangan atau dianggap kurang terdidik. Smartphone Movement perlahan membantu mengubah rasa malu ini menjadi kepercayaan diri dan kebanggaan. Orang muda semakin menyadari bahwa identitas Masyarakat Adat dan teknologi modern tidak harus saling bertentangan.

Karena begitu banyak orang memilih menggunakan smartphone, ia dapat disebut sebuah gerakan. Ketika smartphone digunakan secara kreatif dan oleh banyak orang, gerakan untuk membangun dan menjaga wilayah leluhur menjadi lebih efektif. Untuk memaksimalkan gerakan ini, para aktivis Smartphone Movement secara rutin melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Minahasa. Sebelum pandemi COVID-19, hampir setiap bulan mereka keluar masuk kampung untuk menyelenggarakan lokakarya penggunaan smartphone bagi orang muda kampung.

Selain metode “on the road”, para aktivis juga memilih metode berkemah yang dikenal sebagai Smart Camp. Dalam kegiatan ini, peserta diajak berkemah di kebun dan diajari membuat karya melalui smartphone. Alam menjadi tempat sekaligus sumber belajar. Dalam Smart Camp, mereka belajar menulis, membuat film, dan menciptakan karya grafis.

Alam dalam Smart Camp bukan sekadar latar atau lokasi. Ia juga menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri. Peserta belajar bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga bagaimana mengamati hubungan antara manusia, tanah, ingatan, dan kehidupan Masyarakat Adat. Belajar produksi media di kebun dan hutan menciptakan suasana pendidikan yang berbeda dari ruang kelas yang hanya berpusat pada teori dan layar.

Pada malam Smart Camp, layar smartphone menyala di antara tenda, kebun, dan api kecil ketika peserta menyunting film, bertukar cerita, membicarakan kehidupan kampung, serta mendengarkan suara serangga dan angin hutan sepanjang malam. Sebagian peserta mengisi daya telepon menggunakan listrik yang terbatas sementara yang lain terus merekam percakapan dengan para tetua atau mendokumentasikan aktivitas di sekitar lokasi perkemahan. Momen-momen ini menciptakan suasana belajar yang sangat berbeda dari ruang kelas formal. Teknologi, alam, percakapan, dan pengalaman kolektif berada bersama-sama dalam satu ruang. Pada malam Smart Camp, peserta sering duduk berjam-jam menyunting film dikelilingi udara dingin, serangga, asap dari api kecil, dan suara hutan serta sungai. Layar smartphone menerangi wajah-wajah di dalam gelap sementara percakapan tentang kehidupan kampung, ritual, pembuatan film, dan ingatan berlanjut hingga larut malam. Pada momen-momen itu, teknologi tidak terasa terpisah dari alam. Keduanya hadir bersama dalam pengalaman belajar yang sama.

Bagi banyak peserta, Smart Camp bukan hanya lokakarya produksi media. Ia juga menjadi pengalaman untuk terhubung kembali secara emosional dengan kehidupan kampung. Beberapa peserta mengakui bahwa sebelum mengikuti camp, mereka sering mengasosiasikan smartphone hanya dengan hiburan, media sosial, dan kebudayaan urban. Melalui Smart Camp, banyak yang mulai melihat smartphone secara berbeda: sebagai alat untuk menjaga ingatan, mendokumentasikan wilayah, dan terhubung kembali dengan identitas Masyarakat Adat.

Di banyak komunitas Masyarakat Adat, wilayah bukan sekadar tanah fisik. Hutan, sungai, gunung, kebun, dan wilayah pesisir menyimpan ingatan, spiritualitas, leluhur, dan pengetahuan yang terkumpul lintas generasi. Tempat-tempat tertentu terhubung dengan cerita, ritual, migrasi, dan hubungan antara manusia dengan alam. Karena itu, mendokumentasikan wilayah juga berarti mendokumentasikan ingatan itu sendiri.

Bagi banyak pemuda adat, smartphone menjadi alat untuk membawa ingatan-ingatan ini ke dalam kehidupan kontemporer. Sungai tidak lagi hanya menjadi lanskap geografis, tetapi juga arsip cerita. Hutan bukan sekadar sumber daya alam, tetapi ruang hidup yang menyimpan pengetahuan, identitas, dan hubungan dengan leluhur. Melalui dokumentasi smartphone, orang muda berusaha memastikan bahwa hubungan-hubungan tersebut tidak terhapus oleh modernisasi dan perubahan lingkungan yang cepat.

Smart Camp terakhir dilaksanakan di Ro’ong Karimbow, Minahasa Selatan. Orang muda kampung yang mengikuti kegiatan tersebut berhasil menghasilkan dua film, satu video berita, dan beberapa karya fotografi serta grafis.

Inilah Smartphone Movement. Mengoptimalkan smartphone untuk saling belajar dan menginspirasi. Memaksimalkan smartphone untuk membangun dan menjaga Tanah Minahasa.

Selama bertahun-tahun, teknologi sering diasosiasikan dengan urbanisasi dan meninggalkan kampung. Smartphone menjadi simbol migrasi, aspirasi modern, dan jarak dari kehidupan Masyarakat Adat. Smartphone Movement berusaha membalik imajinasi ini. Teknologi juga dapat menjadi alat untuk terhubung kembali dengan kampung, ingatan leluhur, bahasa adat, dan hubungan dengan wilayah.

Smartphone Movement menantang anggapan bahwa kampung adalah ruang yang ditinggalkan modernitas. Sebaliknya, kampung menjadi ruang tempat teknologi ditafsirkan kembali melalui pengetahuan Masyarakat Adat, hubungan, ingatan, dan kehidupan kolektif. Teknologi modern tidak otomatis menghapus identitas Masyarakat Adat; dalam banyak keadaan, ia justru menjadi bagian dari cara komunitas Masyarakat Adat menegosiasikan keberlangsungan hidup dan kesinambungan mereka di masa kini.

Komunitas Masyarakat Adat selalu beradaptasi dengan perubahan teknologi sepanjang sejarah. Smartphone Movement mencerminkan fase lain dari adaptasi itu, ketika alat digital modern ditafsirkan kembali sesuai nilai Masyarakat Adat, hubungan, kebutuhan kolektif, dan kenyataan kebudayaan. Teknologi tidak diterima secara pasif, tetapi dibentuk kembali melalui pengalaman Masyarakat Adat dan kehidupan komunitas.

Namun Smartphone Movement juga menyadari bahwa teknologi itu sendiri tidak pernah menjadi pusat kehidupan Masyarakat Adat. Smartphone dapat berubah, platform dapat hilang, dan sistem digital akan terus berkembang, tetapi hubungan antara manusia, tanah, leluhur, ingatan, dan komunitas tetap menjadi fondasi sesungguhnya tempat gerakan ini tumbuh.

Smartphone Movement dalam Gerakan Pemuda Adat Nusantara

Pada dasarnya, gagasan Smartphone Movement lahir di kampung, oleh orang muda—pemuda adat Minahasa. Mereka menggunakan smartphone untuk membangun dan menjaga kampung mereka. Mereka membuat film, foto, video berita, dan grafis mengenai kebudayaan Minahasa serta aktivitas seperti berkebun, berburu, berkesenian, dan menelusuri jejak leluhur.

Gagasan dan semangat ini membuat Smartphone Movement cepat terhubung dengan perjuangan pemuda adat di seluruh Nusantara. Mereka memiliki semangat perjuangan yang sama: pulang kampung, membangun kampung, dan mengelola wilayah adat. Visi ini memungkinkan Smartphone Movement terhubung langsung dengan gerakan pemuda adat nasional, Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).

BPAN adalah organisasi sayap Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang menjadi wadah bagi pemuda adat di seluruh Nusantara untuk berjuang bersama. Gerakan Pulang Kampung merupakan arus utama perjuangan yang dibangun BPAN. Gerakan Pulang Kampung menyerukan pemuda adat untuk kembali dan mengelola kampung mereka. Gerakan ini berhasil memanggil banyak pemuda adat yang tinggal di kota untuk kembali ke kampung, memulihkan kepercayaan diri dan kebanggaan terhadap identitas mereka. Gerakan Pulang Kampung diwujudkan melalui berbagai kegiatan, antara lain Kedaulatan Pangan Pemuda Adat (bertani/berkebun/peternakan), Pendidikan Adat (Sekolah Adat), Penelusuran Jejak Leluhur, dan Dokumentasi Wilayah Adat.

Perjuangan nasional pemuda adat melihat bahwa Smartphone Movement memiliki jiwa yang sama dengan Gerakan Pulang Kampung. Lebih jauh, beberapa penggagas dan aktivisnya merupakan pemuda adat Minahasa dan anggota BPAN.

Hal ini kemudian membuat BPAN mengintegrasikan Smartphone Movement ke dalam Gerakan Pulang Kampung, khususnya dalam ranah dokumentasi. Smartphone Movement kini menjadi gerakan kebudayaan yang digerakkan pemuda adat dengan menggunakan smartphone sebagai alat perjuangan modern untuk menjaga kampung dan wilayah leluhur mereka.

Hari ini, hampir semua orang memiliki smartphone, terutama pemuda adat. Dan melalui perangkat tersebut hampir semua orang di dunia terhubung ke internet. Smartphone bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sumber informasi. Inilah yang disadari pemuda adat. Karena itu, mereka menggunakan smartphone untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas di wilayah adat mereka—berkebun, ritual, ziarah kebudayaan, tokoh adat, festival, bahkan gangguan dari luar yang mengancam tanah mereka.

Dengan smartphone, mereka membuat dokumentasi dalam berbagai bentuk seperti video pendek/film, foto, video berita, desain grafis seperti poster, dan tulisan mengenai wilayah adat mereka.

Semua dokumentasi yang diproduksi pemuda adat melalui smartphone dapat didistribusikan langsung melalui media sosial dan internet secara real-time. Dengan cara ini, semakin banyak orang mengetahui keberadaan dan aktivitas komunitas Masyarakat Adat.

Pertumbuhan platform yang dikendalikan Masyarakat Adat seperti Adat.TV juga mencerminkan meningkatnya kebutuhan akan ruang media tempat cerita Masyarakat Adat dapat beredar di luar struktur media arus utama. Bagi banyak komunitas Masyarakat Adat, representasi di media arus utama sering terbatas pada konflik, bencana, stereotip, atau ketegangan politik. Kehidupan sehari-hari Masyarakat Adat, humor, praktik bertani, ritual, pengetahuan ekologis, dan keberlanjutan kebudayaan jarang memperoleh ruang dan kedalaman yang sama.

Karena itu, platform media yang dikendalikan Masyarakat Adat menjadi ruang penting bagi kedaulatan narasi. Platform tersebut memungkinkan komunitas Masyarakat Adat bukan hanya memproduksi cerita, tetapi juga menentukan bagaimana cerita itu dibingkai, didistribusikan, dan diingat.

Dengan smartphone, pemuda adat dapat memproduksi cerita mereka sendiri dan memberikan kepada dunia informasi terbaru mengenai komunitas mereka. Pemuda adat juga dapat mengendalikan pesan yang ingin disampaikan. Melalui kerja dokumentasi lewat smartphone, mereka dapat secara langsung memverifikasi dan memastikan apa yang benar atau apa yang sebenarnya terjadi di komunitas mereka.

Menurut Aldi Egeten, yang pada saat itu menjabat Ketua BPAN Wilayah Minahasa Selatan, smartphone hari ini berfungsi seperti pedang bagi pemuda adat. Ia menjadi alat untuk melindungi narasi dan cerita Masyarakat Adat dari narasi media arus utama yang sering salah merepresentasikan, menyederhanakan, atau berbicara atas nama komunitas Masyarakat Adat.

Menurutnya, smartphone digunakan pemuda adat untuk mendokumentasikan cerita langsung dari dalam komunitas mereka sendiri. Karena itu, cerita yang diproduksi melalui Smartphone Movement menjadi lebih orisinal dan berakar pada sumber primer serta pengalaman hidup, bukan pada interpretasi orang luar.

Bagi Aldi, kekuatan Smartphone Movement tidak semata-mata berada pada teknologinya, tetapi pada sumber cerita dan para penceritanya sendiri: Masyarakat Adat. Melalui smartphone, komunitas Masyarakat Adat dapat merepresentasikan diri dengan menggunakan suara, perspektif, ingatan, dan konteks kebudayaan mereka sendiri.

Dalam pengertian ini, smartphone bukan hanya perangkat komunikasi atau alat media. Ia juga menjadi instrumen kedaulatan narasi yang memungkinkan Masyarakat Adat merebut kembali hak untuk menceritakan kisah mereka sendiri dari wilayah mereka sendiri.

Dokumentasi melalui smartphone digunakan pemuda adat sebagai bukti untuk membantah klaim sepihak mengenai wilayah leluhur mereka. Bagi banyak komunitas Masyarakat Adat, dokumentasi bukan hanya tentang menjaga kebudayaan pada masa kini. Foto, film, rekaman, dan arsip digital suatu hari dapat menjadi ingatan bagi generasi mendatang yang tidak pernah secara langsung menyaksikan upacara, cerita, lanskap, dan cara hidup tersebut. Dalam pengertian ini, dokumentasi smartphone juga menjadi upaya meninggalkan jejak keberadaan Masyarakat Adat untuk masa depan. Smartphone diubah menjadi alat perlawanan. Dipadukan dengan koneksi internet, ia menjadi semakin kuat. Dokumentasi yang dihasilkan berfungsi sebagai pernyataan posisi dan klaim keberadaan komunitas Masyarakat Adat. Lebih jauh, menciptakan dokumentasi melalui smartphone merupakan cara pemuda adat membantah stereotip negatif bahwa Masyarakat Adat terbelakang atau gagap teknologi.

Banyak peserta perlahan menyadari bahwa dokumentasi bukan hanya tentang momen sekarang. Foto, film, rekaman suara, dan arsip digital suatu hari nanti dapat menjadi ingatan bagi generasi mendatang yang tidak pernah menyaksikan langsung upacara, lanskap, cerita, dan cara hidup tersebut. Dalam pengertian ini, dokumentasi smartphone juga merupakan upaya meninggalkan jejak keberadaan Masyarakat Adat untuk masa depan.

Pada saat yang sama, tantangan masa depan tidak lagi sekadar apakah pemuda adat dapat menggunakan teknologi, tetapi apakah Masyarakat Adat dapat mempertahankan kendali atas ingatan, narasi, data, dan representasi mereka sendiri di dalam sistem digital yang didominasi korporasi global dan algoritma. Pertanyaan mengenai kedaulatan digital, kepemilikan arsip, ketergantungan terhadap platform, dan masa depan pengetahuan Masyarakat Adat di zaman kecerdasan buatan menjadi semakin penting bagi komunitas Masyarakat Adat di seluruh dunia.

Karya-karya yang dihasilkan melalui smartphone juga dibuat untuk mendidik dan menginspirasi lebih banyak orang agar peduli pada Masyarakat Adat, alam, dan kehidupan di dalamnya. Inilah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemuda adat Nusantara.

Pada tingkat yang paling dalam, Smartphone Movement merupakan upaya mencegah ingatan Masyarakat Adat menghilang dalam diam. Smartphone menjadi bermakna bukan karena teknologinya sendiri, tetapi karena ia memungkinkan komunitas membawa ingatan, bahasa, cerita, dan hubungan dengan wilayah ke dalam kehidupan kontemporer.

Mungkin tantangan terbesar bagi Masyarakat Adat hari ini bukan hanya bagaimana bertahan secara fisik di tanah leluhur, tetapi juga bagaimana bertahan di dalam modernitas digital tanpa kehilangan ingatan, bahasa, spiritualitas, dan identitas. Pertanyaan tentang algoritma, kecerdasan buatan, arsip, kepemilikan digital, dan ketergantungan teknologi semakin terhubung dengan masa depan keberadaan Masyarakat Adat itu sendiri.

Pada intinya, Smartphone Movement juga merupakan tindakan merawat: merawat bahasa, merawat ingatan, merawat para tetua, merawat cerita, dan merawat wilayah leluhur yang terus menghadapi tekanan sosial, kebudayaan, dan ekologis. Gerakan ini tumbuh bukan hanya dari antusiasme terhadap teknologi, tetapi juga dari kekhawatiran atas apa yang dapat hilang jika komunitas Masyarakat Adat tidak lagi mendokumentasikan, berbicara, mengingat, dan menceritakan kisah mereka sendiri.

Mungkin pertanyaan paling penting hari ini bukan apakah Masyarakat Adat mampu menggunakan teknologi modern, tetapi apakah ingatan Masyarakat Adat dapat terus bertahan di dalam masa depan yang semakin dibentuk oleh algoritma, kecerdasan buatan, infrastruktur digital, dan sistem teknologi yang berubah dengan sangat cepat.

Pada intinya, Smartphone Movement juga merupakan tindakan merawat: merawat bahasa, merawat ingatan, merawat para tetua, merawat cerita, merawat hubungan dengan alam, dan merawat wilayah leluhur yang terus menghadapi tekanan sosial, kebudayaan, dan ekologis. Gerakan ini tumbuh bukan hanya dari ketertarikan terhadap teknologi, tetapi juga dari kekhawatiran mengenai apa yang dapat hilang jika komunitas Masyarakat Adat berhenti mendokumentasikan, berbicara, mengingat, dan menceritakan kisah mereka sendiri.

Pada akhirnya, Smartphone Movement bukan sekadar tentang perangkat atau aplikasi. Ia adalah tentang upaya pemuda adat memastikan bahwa bahasa, cerita, ritual, ingatan, dan hubungan mereka dengan wilayah leluhur tidak menghilang diam-diam di dalam percepatan kehidupan digital modern.

Mungkin tantangan terbesar bagi Masyarakat Adat hari ini bukan hanya bagaimana bertahan secara fisik di tanah leluhur, tetapi juga bagaimana bertahan di dalam modernitas digital tanpa kehilangan ingatan, bahasa, spiritualitas, dan identitas. Pertanyaan tentang algoritma, kecerdasan buatan, arsip, kepemilikan digital, dan ketergantungan teknologi semakin terhubung dengan masa depan keberadaan Masyarakat Adat itu sendiri.

Pada tingkat yang paling dalam, Smartphone Movement sebenarnya bukan tentang smartphone. Ia adalah tentang Masyarakat Adat yang menolak kehilangan ingatan, suara, dan kehadiran di dalam dunia yang semakin digital.

Di suatu kampung Minahasa malam ini, seorang anak muda masih memegang smartphone di tengah suara serangga, sungai, dan angin pegunungan—merekam sebuah cerita, membalas pesan dalam bahasa adat, menyunting film pendek, atau mendokumentasikan ingatan seorang tetua sebelum menghilang. Di antara lanskap leluhur dan layar digital, kehidupan Masyarakat Adat terus menegosiasikan keberadaannya di dunia modern.

Smartphone Movement pada akhirnya merupakan upaya memastikan bahwa Masyarakat Adat tidak menghilang diam-diam di dalam masa depan algoritmik.