Lewati ke isi

Tulisan

Rolly Wuisan: Kearifan Masyarakat Adat dalam Tindakan Menjaga Lingkungan

Di dalam lanskap dominan sinema global, narasi tentang menjaga Bumi sering dibangun melalui jarak—jarak geografis, budaya, dan pengalaman hidup. Perlindungan lingkungan kerap direpresentasikan melalui tokoh-tokoh luar biasa: aktivis, ilmuwan, atau pahlawan yang tampak lebih besar daripada kehidupan sehari-hari.

Representasi seperti ini dapat memiliki kekuatan. Namun, pada saat yang sama, jarak juga tercipta. Merawat Bumi mulai terlihat sebagai tindakan luar biasa, langka, atau hanya berlangsung di tempat-tempat tertentu. Tanggung jawab kemudian dipindahkan kepada lembaga, ahli, atau tokoh yang berada jauh dari kehidupan orang biasa.

Di luar bingkai dominan tersebut, selalu ada cara lain untuk hidup bersama Bumi. Cara hidup seperti ini tidak selalu menyebut diri sebagai gerakan lingkungan, tetapi menjalankan prinsip ekologis melalui pekerjaan sehari-hari, tanggung jawab keluarga, ingatan komunitas, dan hubungan dengan tanah.

Kehidupan Rolly Wuisan berada di dalam ruang ini.

Rolly tidak berasal dari lembaga lingkungan dan tidak menjelaskan pekerjaannya menggunakan kosakata wacana iklim global. Namun, selama hampir enam puluh tahun, kegiatan sehari-hari Rolly merupakan praktik tanggung jawab ekologis yang terus berlangsung.

Rolly berjalan jauh menuju kebun. Ia memanjat pohon seho setinggi tiga puluh hingga lima puluh meter. Ia menampung nira, menyuling Cap Tikus, menanam pohon, mengamati hutan, dan membaca perubahan yang terjadi di sekelilingnya.

Semua itu bukan sekadar kerja. Di dalamnya terdapat sistem, irama, dan cara hidup yang menopang kehidupan manusia sekaligus menjaga hubungan dengan alam.

Di pusat cara pandang Rolly terdapat sebuah prinsip yang menentukan tindakan dan tanggung jawab:

“Kalau bukan kita, siapa lagi? Itulah manifesto yang diwariskan leluhur kita.”

Pernyataan tersebut bukan retorika. Kalimat itu menyatakan sebuah kerangka etis yang hidup dalam pengetahuan Masyarakat Adat, tempat tanggung jawab terhadap tanah tidak dapat dipisahkan dari keberadaan manusia.

Prinsip tersebut menolak penundaan. Kepedulian tidak dapat terus-menerus diserahkan kepada lembaga, ahli, atau pihak yang berada jauh. Tanggung jawab menuntut kehadiran dan tindakan langsung.

Etika ini tidak terutama dinyatakan melalui konsep abstrak. Etika tersebut dijalankan melalui tubuh.

Tubuh Rolly menjadi tempat pengetahuan diproduksi, dipraktikkan, dan diwariskan. Selama puluhan tahun, tubuh itu belajar bergerak dengan ketepatan dan kesadaran—memanjat pohon yang sangat tinggi tanpa perlengkapan keselamatan modern, membaca keadaan hutan, serta menjaga keseimbangan antara mengambil dan merawat.

Pengetahuan tersebut tidak lahir dari ruang kelas dan tidak hanya tersimpan dalam dokumen tertulis. Pengetahuan berkembang melalui pengulangan, pengalaman, pengamatan, dan ingatan. Pengetahuan hidup dalam gerak, otot, napas, dan irama.

Pada usia tujuh puluh tiga tahun, tubuh juga mulai memperlihatkan batas.

Film Rolly: A Story of My Father mengamati keadaan ini dengan intensitas yang tenang. Film tidak bergantung pada struktur dramatik konvensional, tetapi tumbuh melalui durasi dan pengulangan. Waktu dirasakan melalui kerja fisik, bukan hanya melalui penanda kronologis.

Suara napas Rolly menjadi salah satu unsur utama dalam film. Napas membawa daya tahan sekaligus kerentanan. Gerakan yang semakin lambat dan hati-hati memperlihatkan tubuh yang sedang berunding dengan waktu.

Di sini muncul sebuah ketegangan penting: keberlanjutan pengetahuan hidup berdampingan dengan kerentanan tubuh yang membawanya.

Yang dipertaruhkan bukan hanya kekuatan fisik. Seluruh sistem pengetahuan dapat menghilang apabila tidak tersedia proses pewarisan, kelanjutan, atau penerjemahan.

Dalam konteks ini, kerja bukan semata-mata kegiatan ekonomi. Kerja merupakan praktik relasional.

Berjalan, memanjat, memikul, menampung, dan menyuling juga merupakan bentuk perawatan—perawatan terhadap keluarga, tanah, pohon, dan generasi yang akan datang.

Rolly menjelaskan hubungan tersebut melalui kalimat sederhana:

“Saya hanya bekerja seperti ini, tetapi dari pekerjaan ini saya bisa menyekolahkan kamu dan saudara-saudaramu, membeli sapi, membangun rumah, dan menanam pohon di kebun ini.”

Pernyataan tersebut mengubah cara melihat kerja. Pekerjaan yang tampak biasa atau tidak terlihat ternyata menjadi dasar sebuah sistem yang kompleks. Kerja menopang pendidikan, kehidupan keluarga, keberlangsungan ekonomi, dan kelestarian lingkungan.

Kasih sayang tidak selalu disampaikan melalui kata-kata. Dalam kehidupan Rolly, kasih sayang dijalankan melalui ketekunan. Tanggung jawab menggantikan pernyataan. Kerja yang dilakukan terus-menerus menjadi ungkapan perawatan.

Hubungan Rolly dengan alam juga menggugat kerangka lingkungan dominan. Hubungan tersebut tidak dibangun berdasarkan kepemilikan, pengambilan, atau penguasaan. Hubungan itu berakar pada kekerabatan.

Rolly berkata:

“Alam adalah kerabat kita yang paling dekat. Tuhan menciptakan alam untuk menjaga kita. Karena itu, kita juga harus menjaga alam, seperti kita menjaga kerabat sendiri.”

Pemahaman ini mengubah kedudukan alam dari objek menjadi subjek, dari sumber daya menjadi kerabat. Kelangsungan hidup manusia tidak dapat dipisahkan dari keadaan lingkungan.

Hubungan yang sama hadir dalam pemahaman mengenai pohon seho sebagai A’kel. A’kel bukan sekadar pohon penghasil nira. A’kel dipahami sebagai penjaga kehidupan.

Mengambil hasil dari pohon menjadi bagian dari hubungan timbal balik, bukan tindakan ekstraksi. Pohon menopang kehidupan manusia, sementara manusia bertanggung jawab menjaga pohon dan hutan tempatnya tumbuh.

Hubungan ini juga membentuk tindakan yang diarahkan kepada masa depan, melampaui umur satu orang:

“Kita menanam supaya hutan tetap ada, dan hasilnya nanti dapat diterima generasi berikutnya.”

Keberlanjutan tidak dipahami sebagai kebijakan, proyek, atau kampanye sementara. Keberlanjutan merupakan kewajiban moral yang melintasi generasi.

Sistem pengetahuan ini kini hidup di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat. Banyak anak muda meninggalkan kampung untuk mencari pendidikan, pekerjaan, kestabilan, dan kemungkinan hidup yang berbeda.

Perpindahan tersebut dapat dipahami. Namun, perpindahan juga dapat memutus proses pewarisan pengetahuan yang bergantung pada praktik langsung, pengamatan jangka panjang, dan hubungan dengan tempat tertentu.

Yang terancam bukan hanya sekumpulan keterampilan teknis. Seluruh epistemologi dapat terputus—sebuah cara memahami dunia melalui hubungan, tanggung jawab, timbal balik, dan keberlanjutan.

Dalam situasi ini, Rolly: A Story of My Father bekerja sebagai dokumentasi sekaligus intervensi.

Film merekam satu kehidupan, tetapi juga menerjemahkan pengetahuan yang dibawa tubuh ke dalam medium yang dapat bergerak melampaui tempat asalnya. Sinema menjadi cara memperpanjang ingatan tanpa memisahkan pengetahuan dari manusia, tanah, dan kerja yang melahirkannya.

Dalam pengertian tersebut, pembuatan film dapat menjadi alat dekolonisasi.

Selama bertahun-tahun, kehidupan Masyarakat Adat sering direpresentasikan melalui sudut pandang dari luar. Pihak luar menentukan bingkai, bahasa, tafsir, dan makna.

Cerita yang dibangun dari dalam mengubah hubungan tersebut. Masyarakat Adat bukan objek pengamatan. Masyarakat Adat adalah produsen pengetahuan, pembuat gambar, pencerita, dan penafsir pengalaman hidup sendiri.

Kedekatan antara pembuat film dan orang yang difilmkan menjadi bagian penting dari proses ini. Kedekatan tidak selalu mengurangi pemahaman. Kedekatan justru dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak mungkin dicapai melalui jarak.

Film kemudian menjadi ruang kesaksian, tempat pengalaman personal bertemu dengan ingatan kolektif.

Pada akhirnya, Rolly: A Story of My Father bukan hanya film tentang seorang ayah. Film ini merupakan perenungan tentang waktu, ingatan, kerja, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Film ini bertanya: apa yang terjadi ketika pengetahuan dibawa oleh tubuh yang terus menua? Bagaimana pengetahuan tersebut dapat dilanjutkan ke masa depan?

Apabila tubuh seperti tubuh Rolly merupakan arsip hidup, film dapat membantu memperpanjang kehadirannya melampaui batas fisik. Namun, film saja tidak cukup. Film dapat merekam, menyimpan, dan mengedarkan, tetapi tidak dapat menggantikan praktik hidup yang melahirkan pengetahuan.

Sebuah pertanyaan mendesak tetap terbuka: ketika pengetahuan yang berakar pada tubuh, tanah, dan kehidupan sehari-hari tidak lagi dikenali atau dilanjutkan, apa yang akan tetap tinggal, dan apa yang akan menghilang?

Di tengah ketidakpastian tersebut, satu prinsip terus bergema—bukan sebagai slogan, melainkan sebagai dasar etika:

“Kalau bukan kita, siapa lagi?”

Discover more from Kalfein Maikel Wuisan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading