Lewati ke isi

KALFEIN MAIKEL WUISAN

KAMA — Kalelon Maka’aruyen

Musik, suara, arsip, pertunjukan, dan regenerasi tradisi Minahasa.

Gerakan kebudayaan yang menelusuri, mendokumentasikan, mengkaji, dan membuka ruang hidup baru bagi seni tradisi Kalelon Makaaruyen di Minahasa.

Kegiatan KAMA dalam penelusuran dan pendokumentasian Kalelon Makaaruyen

KAMA merupakan singkatan dari Kalelon Makaaruyen. Dalam bahasa Tontemboan, kama juga berarti tangan. Nama itu menggambarkan cara kerja gerakan ini: menggunakan tangan untuk menelusuri, merekam, menulis, memainkan musik, dan meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

KAMA muncul pada 2011, ketika semakin banyak seniman Kalelon Makaaruyen yang berusia lanjut dan meninggal tanpa meninggalkan dokumentasi yang memadai. Pengetahuan mengenai syair, petikan gitar, sejarah, serta konteks sosialnya sering hanya diwariskan kepada orang-orang terdekat.

Dari keadaan itu, KAMA mulai bergerak dari kampung ke kampung, bertemu para seniman, mendengarkan cerita para seniman, merekam pertunjukan, menyalin syair, dan membangun arsip yang dapat dipelajari kembali.

KAMA

Tangan yang Bekerja untuk Ingatan

Dokumentasi bukan sekadar menyimpan suara lama. Ia menjaga hubungan antara seniman, keluarga, kampung, bahasa, dan generasi yang akan datang.

Seni Tradisi Minahasa

Kalelon dan Makaaruyen

Kalelon dan Makaaruyen merupakan penyebutan yang hidup di wilayah-wilayah berbeda di Minahasa. Di Minahasa bagian selatan, istilah Kalelon lebih umum digunakan, sedangkan Makaaruyen banyak digunakan di wilayah lain.

Keduanya berhubungan dengan tradisi syair dan nyanyian yang menyimpan doa, kerinduan, ratapan, nasihat, cinta kepada keluarga dan kampung, penghormatan terhadap alam, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Dalam perjalanannya, tradisi ini terus berubah. Syair yang sebelumnya hidup dalam ruang ritual dan pertemuan komunitas kemudian bertemu dengan gitar, siulan, dan berbagai bentuk musik lain. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak berhenti di masa lalu; ia terus berdialog dengan zaman.

Lebih dari Musik

Kalelon Makaaruyen adalah arsip lisan. Di dalam syairnya tersimpan cara orang Minahasa memahami kasih sayang, kehilangan, kerja, keluarga, tanah, iman, dan kehidupan bersama.

Karena diwariskan melalui pendengaran, ingatan, dan praktik, keberlangsungannya bergantung pada hubungan langsung antara orang yang mengetahui dan orang yang ingin belajar.

Cara Kerja

Penelusuran, Dokumentasi, dan Pengkajian

Menemui Seniman

KAMA mendatangi kampung-kampung dan bertemu langsung dengan penyanyi, pemetik gitar, keluarga, serta orang-orang yang menyimpan pengetahuan Kalelon Makaaruyen.

Membangun Arsip

Pertunjukan, syair, wawancara, foto, dan cerita kehidupan seniman didokumentasikan melalui tulisan, suara, dan video.

Membuka Akses

Hasil dokumentasi diterbitkan melalui media sosial dan kanal YouTube agar dapat ditemukan oleh keluarga, generasi muda, peneliti, serta masyarakat Minahasa di berbagai tempat.

Kegiatan penelusuran dan dokumentasi KAMA bersama komunitas
Kerja KAMA berlangsung melalui pertemuan, percakapan, perekaman, dan kegiatan bersama di berbagai ruang kebudayaan.

Arsip Audiovisual

Suara Para Seniman

KAMA merekam para seniman di ruang hidup para seniman: di rumah, kebun, kampung, dan tempat-tempat tempat pengetahuan itu diwariskan. Kamera dipakai untuk menjaga suara, wajah, teknik petikan, syair, dan suasana yang menyertai pertunjukan.

Setiap perekaman juga menjadi ruang percakapan. Seniman tidak hanya menyanyikan syair, tetapi menjelaskan pengalaman, hubungan keluarga, perjalanan berkesenian, serta ingatan yang hidup di balik lagu.

Dokumentasi kegiatan KAMA bersama para seniman dan komunitas
Dokumentasi dan percakapan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kerja arsip KAMA.

Dokumentasi Kalelon Makaaruyen bersama para seniman dari Sonder.

Kalelon dari Ro’ong Tondei, Minahasa Selatan.


Buka Arsip YouTube KAMA

Ruang Pertunjukan

Mengembalikan Seni kepada Publiknya

KAMA tidak berhenti pada dokumentasi. Ketika semakin banyak seniman berhasil ditemukan dan direkam, muncul kebutuhan untuk menyediakan ruang tempat para seniman dapat tampil, bertemu, dan memperoleh apresiasi.

Festival dan pertunjukan Kalelon Makaaruyen menjadi ruang perjumpaan antara seniman senior, pemain muda, komunitas kebudayaan, dan masyarakat. Melalui ruang tersebut, tradisi tidak hanya disimpan sebagai arsip, tetapi kembali dipraktikkan di hadapan publiknya.

KAMA juga terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan kebudayaan di Minahasa, mempertemukan Kalelon Makaaruyen dengan puisi, film, gerakan Masyarakat Adat, serta bentuk musik kontemporer.

KAMA tampil dalam kegiatan seni dan kebudayaan
Pertunjukan Kalelon Makaaruyen dalam ruang komunitas

KAMA membuka ruang pertunjukan agar Kalelon Makaaruyen kembali hadir di hadapan masyarakat dan bertemu dengan bentuk seni lainnya.

KAMA sebagai Band

Tradisi yang Dimainkan Kembali

KAMA juga berkembang sebagai band. Bentuk ini lahir dari keinginan untuk membawa Kalelon Makaaruyen keluar dari arsip dan kembali menghadirkannya sebagai pengalaman musikal yang hidup.

Dalam pertunjukan, KAMA memainkan syair dan melodi Kalelon Makaaruyen, sekaligus mempertemukannya dengan pengalaman bermusik para anggotanya. Kerja ini bukan untuk menggantikan para seniman tradisi, melainkan membuka jalur lain agar generasi baru dapat mendengar, mempelajari, dan membangun hubungan dengan tradisi tersebut.

Sebagai band, KAMA tampil dalam ruang kebudayaan, festival, kegiatan solidaritas, dan pertemuan komunitas. Pertunjukan menjadi cara lain untuk merawat arsip: musik yang telah direkam dimainkan kembali, ditafsirkan, dan dibagikan kepada publik.

KAMA tampil sebagai band
Anggota KAMA dalam sebuah pertunjukan
Penampilan terbaru KAMA sebagai band
Pertunjukan Kalelon Makaaruyen oleh KAMA
KAMA dalam panggung seni dan kebudayaan
Musisi KAMA dalam sebuah pertunjukan
KAMA tampil dalam Senandung Kalelon Makaaruyen untuk Lombok
Para seniman dan komunitas dalam kegiatan solidaritas untuk Lombok

Senandung Kalelon Makaaruyen untuk Lombok, Manado, 7 Agustus 2018.

Kebudayaan dan Solidaritas

Senandung untuk Lombok

Pada 2018, KAMA bersama AMAN Sulawesi Utara dan jaringan komunitas menggelar Senandung Kalelon Makaaruyen untuk Lombok setelah gempa di Nusa Tenggara Barat.

Syair Kalelon Makaaruyen yang berisi doa, kerinduan, ratapan, dan kepedulian kepada sesama digunakan sebagai bahasa solidaritas. Pertunjukan musik, musikalisasi puisi, penjualan buku, dan ruang donasi mempertemukan kerja kemanusiaan dengan ekspresi kebudayaan.

Pewarisan

Rumah dan Keluarga sebagai Sekolah

Pengetahuan Kalelon Makaaruyen tidak selalu diwariskan melalui sekolah atau lembaga seni formal. Banyak orang belajar dari kakek, nenek, orang tua, kakak, kerabat, dan seniman yang hidup di kampung.

Karena itu, KAMA memandang rumah dan keluarga sebagai ruang belajar yang penting. Seorang anak dapat belajar menyanyi, memahami syair, memetik gitar, atau menguasai teknik siulan dengan melihat, mendengar, dan berlatih bersama orang-orang terdekatnya.

Pewarisan semacam ini tidak memisahkan seni dari kehidupan. Musik dipelajari bersamaan dengan bahasa, hubungan kekeluargaan, ingatan kampung, dan cara hidup sebagai Tou Minahasa.

Kegiatan belajar dan pewarisan Kalelon Makaaruyen

Tradisi yang Hidup

Tujuan KAMA bukan membekukan Kalelon Makaaruyen menjadi benda masa lalu. Kerja ini menjaga dasar pengetahuannya sambil memberi ruang bagi generasi baru untuk belajar, menafsirkan, memainkan, dan mengembangkannya.

Sampul buku Kalelon Makaaruyen: Ingatan, Rindu, dan Jalan Pulang Tou Minahasa
Sampul buku Kalelon Makaaruyen: Ingatan, Rindu, dan Jalan Pulang Tou Minahasa.

Buku

Perjalanan Dokumentasi yang Dibukukan

Perjalanan panjang menelusuri dan mendokumentasikan Kalelon Makaaruyen telah saya susun menjadi buku berjudul Kalelon Makaaruyen: Ingatan, Rindu, dan Jalan Pulang Tou Minahasa.

Buku ini lahir dari perjumpaan dengan para seniman, keluarga, kampung, syair, dan ingatan yang saya temukan selama perjalanan dokumentasi. Isinya tidak hanya membicarakan bentuk musik, tetapi juga hubungan antargenerasi, kehidupan para pelantun, serta pengetahuan Tou Minahasa yang hidup di dalam Kalelon Makaaruyen.

Salah satu perjalanan dokumentasi berlangsung di kebun Kaima, di bawah Gunung Klabat. Di tempat itu, keluarga-keluarga dari Ampreng, Langowan, menggarap kebun, tinggal di sabua, dan pulang ke Ampreng setiap Sabtu. Pada siang hari, para petani saling membantu melalui sumbembong dan menjalankan tradisi Mangaran saat menanam serta memanen—tradisi Langowan yang kini hampir punah.

Setelah pekerjaan kebun selesai pada sore hari, para petani berkumpul di sabua Om Fangki Rantung untuk bercerita, makan, minum, menyanyi, dan melantunkan Kalelon Makaaruyen sampai malam. Pengalaman semacam inilah yang memperlihatkan bahwa Kalelon Makaaruyen tidak hanya hidup di atas panggung, tetapi berada di dalam kerja, keluarga, kebun, dan hubungan antarmanusia.

Melalui buku ini, kerja KAMA tidak berhenti pada video dan arsip digital. Perjalanan dokumentasi juga menjadi ruang tertulis yang menghubungkan pengalaman pribadi, kerja kebudayaan, dan usaha membawa pengetahuan Kalelon Makaaruyen kepada generasi berikutnya.

Peran Saya

Keterlibatan Saya

Saya memulai penelusuran dan pendokumentasian Kalelon Makaaruyen pada 2011 setelah melihat satu per satu seniman meninggal, sementara syair, teknik bermain, dan cerita para seniman belum terdokumentasikan dengan baik.

Bersama kawan-kawan dari jaringan gerakan kebudayaan Mawale Movement, kerja tersebut kemudian berkembang menjadi KAMA. Saya terlibat dalam pertemuan dengan seniman, perekaman video, dokumentasi syair, penulisan profil, pengembangan arsip digital, penyelenggaraan pertunjukan, serta pembangunan hubungan dengan komunitas dan generasi muda.

Bagi saya, Kalelon Makaaruyen bukan hanya musik yang perlu dilestarikan. Ia merupakan jalan untuk kembali belajar menjadi Minahasa melalui suara, bahasa, keluarga, ingatan, dan pengetahuan yang hidup di kampung.

Bekerja Bersama

Dokumentasi, Pertunjukan, dan Kolaborasi

KAMA terbuka untuk kerja dokumentasi, riset, pertunjukan, pemutaran arsip, lokakarya antargenerasi, publikasi, serta kolaborasi dengan seniman, keluarga, kampung, komunitas budaya, perguruan tinggi, dan organisasi Masyarakat Adat.

Untuk berbagi arsip, mengusulkan seniman yang perlu didokumentasikan, atau membicarakan kerja bersama, silakan menghubungi saya.

Hubungi Saya
Lihat Arsip KAMA