Gerakan pemuda adat yang menggunakan teknologi digital sehari-hari untuk mendokumentasikan wilayah, memperkuat bahasa, dan merebut kembali hak untuk menceritakan diri sendiri.

Smartphone Movement tumbuh dari kenyataan sehari-hari pemuda adat di Minahasa. Smartphone telah hadir dalam kehidupan kampung, tetapi kami mulai mengajukan pertanyaan yang berbeda: bagaimana perangkat ini dapat digunakan bukan hanya untuk berkomunikasi dan mencari hiburan, tetapi juga untuk kerja kebudayaan?
Gerakan ini mendorong pemuda adat menggunakan smartphone untuk menulis, memotret, membuat film, memproduksi video berita dan karya grafis, mempelajari bahasa, serta mendokumentasikan wilayah adat.
Teknologinya modern, tetapi dasarnya tetap berasal dari pengetahuan Masyarakat Adat: hubungan dengan tanah, tetua, bahasa, ingatan, dan komunitas.
Teknologi dari Kampung
Merebut Kembali Alat Representasi
Masyarakat Adat telah lama dipotret, difilmkan, diteliti, dan dijelaskan oleh orang luar. Smartphone Movement mengubah hubungan tersebut. Perangkat yang telah berada di dalam saku dapat menjadi kamera, alat perekam, meja penyuntingan, ruang menulis, arsip, sekaligus saluran distribusi.
Melalui smartphone, anak-anak muda dapat mendokumentasikan upacara, kebun, hutan, sungai, sejarah lisan, ancaman lingkungan, kegiatan komunitas, dan kehidupan sehari-hari kampung langsung dari wilayah tempat pemuda adat hidup.
Ini bukan sekadar produksi konten. Ini merupakan latihan kedaulatan narasi: kemampuan komunitas menentukan apa yang perlu direkam, bagaimana cerita disusun, dan bagaimana cerita tersebut diedarkan.
Bidang Praktik
Karya yang Dihasilkan
Tulisan
Wawancara, catatan, esai, dan cerita kampung dapat ditulis, didiskusikan, disunting, dan diterbitkan melalui satu perangkat.
Pembuatan Film
Peserta belajar merekam, menyunting, memberi takarir, dan menyebarkan film pendek yang berakar pada kehidupan komunitas dan pengetahuan Masyarakat Adat.
Berita dan Dokumentasi
Komunitas dapat melaporkan peristiwa, memeriksa informasi, dan mendokumentasikan keadaan wilayahnya secara langsung.
Fotografi
Smartphone menjadi arsip portabel bagi bentang alam, ritual, tetua, kerja sehari-hari, dan berbagai peristiwa dalam kehidupan bersama.
Desain Grafis
Poster, undangan, materi kampanye, dan pernyataan visual dapat dibuat dan diedarkan langsung dari kampung.
Bahasa Masyarakat Adat
Percakapan, panggilan suara, video, dan grup digital menjadi ruang informal untuk mempelajari dan menggunakan kembali bahasa daerah.
Belajar di Perjalanan
Dari Kampung ke Kampung
Sebelum pandemi COVID-19, kegiatan Smartphone Movement secara rutin bergerak dari satu kampung ke kampung lain di Minahasa. Lokakarya dilaksanakan bersama pemuda setempat dan disesuaikan dengan kenyataan, cerita, dan kebutuhan masing-masing komunitas.
Proses belajar sering berlangsung di luar ruang kelas formal: di rumah, kebun, ladang, hutan, tepi sungai, dan ruang pertemuan kampung. Peserta tidak hanya mempelajari teknik kamera. Para peserta belajar mendengar tetua, mengamati wilayah, melakukan wawancara, bekerja bersama, dan memikirkan representasi secara kritis.
Kekuatan kerja ini bukan terletak pada kesempurnaan teknis, melainkan pada kehadiran, kejujuran, dan kedekatan cerita yang dihasilkan oleh orang-orang yang hidup di dalam kenyataan yang didokumentasikan.

Smartphone Movement di Alam
Smart Camp
Smart Camp membawa proses belajar media ke kebun dan hutan. Alam tidak diperlakukan sebagai latar dekoratif, tetapi menjadi bagian dari proses belajar dan sumber pengetahuan.
Peserta berkemah bersama, merekam cerita, menulis, membuat foto dan film, menyunting pada malam hari, serta mendiskusikan hubungan antara teknologi, ingatan, tanah, dan kehidupan Masyarakat Adat.
Smart Camp terakhir dilaksanakan di Karimbow, Minahasa Selatan. Para peserta menghasilkan dua film, satu video berita, serta sejumlah karya fotografi dan desain grafis.
Pemuda Adat dan Gerakan Pulang Kampung
Gagasan yang berkembang di Minahasa kemudian terhubung dengan gerakan pemuda adat di berbagai wilayah Nusantara. Smartphone Movement memiliki semangat yang sama dengan Gerakan Pulang Kampung yang dibangun Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN): pulang, membangun kampung, dan mengurus wilayah adat.
Dokumentasi melalui smartphone mendukung kerja tersebut dengan memungkinkan pemuda adat merekam kegiatan berkebun, ritual, kebudayaan, sejarah lisan, kondisi lingkungan, dan ancaman terhadap wilayah adat berdasarkan sudut pandang pemuda adat sendiri.
Foto, film, rekaman suara, atau laporan singkat dapat sekaligus menjadi ingatan, bukti, bahan pendidikan, serta pernyataan bahwa suatu komunitas ada dan berhak berbicara atas nama dirinya sendiri.
Peran Saya
Keterlibatan Saya
Saya ikut menggagas Smartphone Movement bersama anak-anak muda Minahasa lainnya dan mengembangkan gagasannya melalui lokakarya di kampung, pembuatan film, tulisan, percakapan publik, serta kerja bersama jaringan pemuda adat.
Peran saya tidak terbatas pada mengajarkan keterampilan teknis. Kerja utamanya adalah membantu peserta menyadari bahwa bahasa, keluarga, tanah, pekerjaan sehari-hari, ingatan, dan pengetahuan komunitas asal peserta merupakan sumber penting bagi produksi media.
Smartphone Movement terus memengaruhi kerja saya melalui Wuwuk Film, lokakarya audiovisual, penceritaan Masyarakat Adat, dan pengembangan sinema berbasis komunitas di Minahasa.
Bekerja Bersama
Lokakarya dan Kolaborasi
Smartphone Movement dapat dikembangkan melalui lokakarya film dan media, kegiatan bahasa Masyarakat Adat, dokumentasi komunitas, program pemuda, percakapan publik, serta kolaborasi dengan kampung atau organisasi Masyarakat Adat.
Untuk undangan lokakarya, kemitraan program, pemutaran film, riset, atau kolaborasi, silakan menghubungi saya.















