Lewati ke isi

KALFEIN MAIKEL WUISAN

Sekolah Adat Dangiang Batuwangi: Jembatan antara Adat dan Agama

Di Sekolah Adat Dangiang Batuwangi, adat dan agama dipertemukan sebagai dua dasar kehidupan yang saling menguatkan dalam pendidikan generasi muda.

Film Dokumenter Pendek · Seri Sekolah Adat · 2025

Di Sekolah Adat Dangiang Batuwangi, adat dan agama dipertemukan sebagai dua dasar kehidupan yang saling menguatkan dalam pendidikan generasi muda.


Tentang Film

Jembatan antara Adat dan Agama

Sekolah Adat Dangiang Batuwangi: Jembatan Antara Adat & Agama merupakan film dokumenter pendek tentang sebuah Sekolah Adat di Desa Dangiang, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sekolah ini hadir sebagai ruang belajar alternatif yang berakar pada dua dasar penting dalam kehidupan masyarakat: adat dan agama.

Melalui musyawarah, warga bersepakat bahwa keduanya tidak perlu dipertentangkan. Pengetahuan adat dan kehidupan beragama dapat berjalan berdampingan serta saling menguatkan.


Logline

Di sebuah kampung di Garut, Sekolah Adat menyatukan adat dan agama agar generasi muda tetap terhubung dengan akar budayanya sambil menghadapi perubahan dunia.


Sinopsis

Belajar tanpa Memisahkan Kebudayaan dan Iman

Sekolah Adat Dangiang Batuwangi menawarkan bentuk pendidikan yang tumbuh dari kehidupan, pengetahuan, dan keputusan masyarakat sendiri.

Anak-anak serta orang muda belajar mengenai warisan kebudayaannya sambil tetap menjalani kehidupan beragama yang dipraktikkan keluarga dan komunitas mereka.

Sekolah ini lahir dari pemahaman bahwa adat dan agama tidak harus berebut ruang. Keduanya dapat membentuk identitas, etika, tanggung jawab, serta hubungan antara manusia, leluhur, komunitas, dan alam.

Di tengah arus modernisasi, Sekolah Adat menjadi benteng sekaligus jembatan. Ia menjaga pengetahuan yang dapat hilang sekaligus membantu generasi muda membawa pengetahuan tersebut ke dalam kehidupan mereka hari ini.


Pertanyaan Utama

Bagaimana Sekolah Adat menyatukan agama dan tradisi?

Jawabannya dimulai dari keputusan masyarakat untuk tidak menempatkan keduanya sebagai kekuatan yang saling berlawanan, melainkan sebagai dua bagian hidup dari kenyataan sosial dan kebudayaan yang sama.


Adat dan Agama

Tumbuh Berdampingan

Dalam kehidupan banyak Masyarakat Adat, agama dan adat sering dibicarakan seolah-olah salah satunya harus menggantikan yang lain.

Pengalaman Dangiang Batuwangi menawarkan pendekatan yang berbeda. Masyarakat mengakui bahwa kehidupan beragama dapat berjalan bersama pengetahuan adat, sejarah lokal, nilai sosial, dan hubungan dengan wilayah adat.

Melalui dialog dan kesepakatan bersama, perbedaan dikelola tanpa menghapus salah satu bagian kehidupan masyarakat.


Ruang Belajar Alternatif

Pendidikan yang Berakar pada Pengetahuan Komunitas

Sekolah Adat bukan sekadar bentuk lain dari ruang kelas formal.

Ia menyediakan ruang bagi pengetahuan yang dimiliki para tetua, keluarga, pelaku kebudayaan, dan masyarakat. Proses belajar dapat berlangsung melalui cerita, pengamatan, praktik, diskusi, upacara, hubungan dengan tanah, serta keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam model ini, warga bukan hanya penerima sistem pendidikan yang dirancang dari luar. Mereka menjadi pengajar, pemilik pengetahuan, dan pengambil keputusan dalam pendidikan anak-anak mereka sendiri.


Menghadapi Modernisasi

Tetap Terhubung dengan Akar Budaya

Modernisasi membawa berbagai bentuk pendidikan, teknologi, komunikasi, pekerjaan, dan cita-cita baru.

Perubahan tersebut dapat membuka kesempatan, tetapi juga dapat menjauhkan generasi muda dari sejarah lokal, nilai kehidupan, dan sistem pengetahuan Masyarakat Adat.

Sekolah Adat Dangiang Batuwangi tidak berusaha menjauhkan orang muda dari kehidupan kontemporer. Sekolah ini mempersiapkan mereka memasuki dunia tersebut tanpa kehilangan hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan tempat mereka berasal.


Jantungnya Dunia

“Jantungnya dunia adalah Adat.”

Bagi Masyarakat Adat, adat bukan hanya kumpulan upacara atau simbol warisan. Adat berhubungan dengan pengetahuan, nilai, hubungan sosial, wilayah, tanggung jawab, dan keberlanjutan kehidupan komunitas.


Pendekatan Dokumenter

Mendengarkan Masyarakat

Film dokumenter ini menempatkan pengalaman dan sudut pandang masyarakat sebagai pusat cerita.

Alih-alih mendefinisikan Sekolah Adat hanya dari luar, film mengamati bagaimana masyarakat sendiri memahami hubungan antara pendidikan, iman, kebudayaan, dan masa depan anak-anak mereka.

Film ini memperlihatkan pendidikan adat sebagai praktik hidup yang dibangun melalui dialog, keputusan bersama, dan keterlibatan sehari-hari.


Konteks Produksi

Seri Sekolah Adat

Film dokumenter ini diproduksi oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Mata Nusantara (MATATA).

Film ini menjadi bagian dari seri yang mendokumentasikan berbagai Sekolah Adat dan cara Masyarakat Adat membangun ruang belajar berdasarkan pengetahuan, kebutuhan, serta konteks kebudayaannya sendiri.


Informasi Proyek

Detail Film

Judul
Sekolah Adat Dangiang Batuwangi: Jembatan Antara Adat & Agama

Format
Film dokumenter pendek

Seri
Sekolah Adat

Tahun publikasi
2025

Lokasi
Desa Dangiang, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia

Produksi
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) · Mata Nusantara (MATATA)

Produser
Nura Batara

Sutradara
Kalfein Wuisan

Kamera
Kalfein Wuisan · Batara Tambing · Rido Siregar

Editor
Kalfein Wuisan · eKrisna

Tema utama
Pendidikan adat · Adat dan agama · Pewarisan kebudayaan · Pendidikan berbasis komunitas


Tonton

Tonton Film Dokumenter

Tonton di YouTube ↗


← Lihat Semua Film