Lewati ke isi

KALFEIN MAIKEL WUISAN

Emi dari Sarongge

Potret dokumenter pendek tentang Emi, peternak domba dari Sarongge yang mengembangkan satu ekor domba menjadi sumber penghidupan melalui ketekunan, perawatan, dan hubungan dengan tanah.

Dokumenter Pendek · Film Selesai · 2017

Potret dokumenter tentang Emi, peternak domba dari Sarongge yang mengembangkan satu ekor domba menjadi sekitar tujuh puluh ekor melalui ketekunan, perawatan, dan hubungan yang dekat dengan tanah.


Tentang Film

Kehidupan yang Dibangun dari Tanah

Emi dari Sarongge mengikuti kehidupan Emi, seorang peternak domba yang tinggal di Sarongge, sebuah kampung di kaki Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat.

Emi memulai usahanya dengan satu ekor domba. Secara bertahap, ia mengembangkan ternaknya menjadi sekitar tujuh puluh ekor. Melalui usaha tersebut, ia mampu membangun rumah untuk anaknya, membeli tanah, dan memenuhi berbagai kebutuhan keluarga.

Film ini mengamati ketekunan di balik pencapaian tersebut: merawat ternak, mencari rumput, menjaga kandang, serta terus bekerja dalam berbagai keadaan cuaca dan kondisi yang tidak selalu mudah.


Logline

Di sebuah kampung di kaki Gunung Gede, seorang peternak domba yang tekun memperlihatkan bagaimana satu ekor ternak, melalui perawatan dan kerja selama bertahun-tahun, dapat menjadi dasar bagi kehidupan keluarga dan masa depan yang berakar pada tanah.


Sinopsis

Dari Satu Ekor Menjadi Tujuh Puluh

Sarongge merupakan sebuah kampung yang terletak di kaki Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat. Dalam bentang alam tersebut, Emi membangun kehidupan sehari-harinya melalui peternakan domba.

Usahanya dimulai dengan satu ekor domba. Melalui kesabaran, kedisiplinan, dan perawatan yang konsisten, jumlah ternaknya perlahan bertambah hingga mencapai sekitar tujuh puluh ekor.

Pencapaian itu tidak hanya ditampilkan sebagai keberhasilan ekonomi. Di balik setiap ekor domba terdapat pekerjaan sehari-hari: mencari rumput, memberi makan, membersihkan kandang, menjaga kesehatan ternak, dan terus bekerja ketika keadaan cuaca tidak mendukung.

Penghasilan dari peternakan tersebut memungkinkan Emi membangun rumah untuk anaknya, membeli tanah, dan memenuhi beberapa kebutuhan keluarga. Kisahnya menunjukkan bahwa kerja yang bertumpu pada sumber daya setempat dapat membangun penghidupan yang berarti dan berkelanjutan.


Gagasan Utama

Tanah tetap mampu memberi hidup ketika dirawat dan diolah dengan penuh tanggung jawab.

Kisah Emi bukan hanya tentang peternakan. Kisah ini berbicara tentang ketekunan, pengetahuan, tanggung jawab, dan kemungkinan membangun kehidupan dari tempat seseorang berpijak.


Tanah, Pengetahuan, dan Tanggung Jawab

Belajar dari Cara Manusia Hidup Bersama Alam

Film ini membawa pandangan bahwa tanah bukan sekadar kepemilikan atau pemandangan. Tanah merupakan dasar hidup bagi pangan, pekerjaan, keluarga, dan keberlanjutan kehidupan komunitas.

Generasi terdahulu mengembangkan cara mengolah tanah, memelihara hewan, dan hidup bersama alam melalui pengalaman dan pengamatan yang dekat. Tanggung jawab generasi hari ini bukan sekadar mengulangi praktik tersebut, tetapi memahami dan mengontekstualisasikan kebijaksanaan para pendahulu dalam kehidupan masa kini.

Melalui pekerjaan Emi sehari-hari, film ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal memperoleh makna ketika terus dipraktikkan serta diarahkan bagi kehidupan keluarga dan komunitas.


Pak Emi

Konsistensi sebagai Praktik Sehari-hari

Hubungan Emi dengan ternaknya dibangun melalui rutinitas dan tanggung jawab. Domba-domba tersebut bergantung pada kehadirannya, sementara penghidupan keluarga berhubungan dengan kesehatan dan keberlanjutan ternaknya.

Ketekunannya mengubah permulaan yang kecil menjadi usaha yang menopang berbagai bagian kehidupan keluarga. Karena itu, film ini tidak hanya menempatkan hasil pekerjaannya sebagai pusat cerita, tetapi juga proses panjang yang harus dijalani untuk mencapainya.


Proses Produksi

Dokumenter yang Dibuat dalam Tiga Hari

Emi dari Sarongge dikembangkan dan diselesaikan pada 13–15 Juli 2017.

Seluruh proses—mulai dari praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi— diselesaikan dalam waktu kurang lebih tiga hari sebagai bagian dari kegiatan DocuCamp.

Waktu produksi yang terbatas membutuhkan pendekatan yang langsung dan terpusat. Para pembuat film bekerja dekat dengan Emi dan lingkungannya, membiarkan aktivitas sehari-hari, hubungan dengan ternak, serta keterhubungannya dengan bentang alam membentuk arah dokumenter.


DocuCamp

Belajar Dokumenter melalui Produksi Langsung

Film ini diproduksi dalam kegiatan DocuCamp yang difasilitasi oleh Barisan Pemuda Adat Nusantara—BPAN dan Indonesia Nature Film Society—INFIS.

Program tersebut membawa para peserta ke dalam proses dokumenter yang intensif. Riset, pengambilan gambar, penyuntingan, dan refleksi dilakukan dalam waktu yang terbatas.


Informasi Proyek

Detail Film

Judul
Emi dari Sarongge

Format
Dokumenter pendek

Tahun
2017

Waktu produksi
13–15 Juli 2017

Subjek utama
Emi

Lokasi
Sarongge, Cianjur, Jawa Barat, Indonesia

Pembuat film
Kalfein Wuisan · Mumuy Aditya

Program produksi
DocuCamp

Difasilitasi oleh
Barisan Pemuda Adat Nusantara—BPAN · Indonesia Nature Film Society—INFIS


Tonton

Tonton Film

Tonton di YouTube ↗


← Lihat Semua Film