Lewati ke isi

KALFEIN MAIKEL WUISAN

Homecoming Movement

Film mengenai kepulangan Pemuda Adat ke kampung dan wilayah adat serta keterlibatan dalam memperkuat ketahanan komunitas.

Pemuda Adat kembali dari kota menuju kampung dan wilayah adat—bukan untuk bergerak mundur, melainkan untuk membangun masa depan lain melalui tanah, pangan, pengetahuan, kebudayaan, dan kerja bersama.


Dokumenter Pendek


Film Selesai


2021

Kembalinya Pemuda Adat Indonesia ke Komunitas

Pulang untuk Membangun Masa Depan Lain

Homecoming Movement mengikuti Pemuda Adat di Indonesia yang memilih kembali ke kampung setelah belajar atau tinggal di kota. Kepulangan tersebut menghubungkan kembali orang muda dengan wilayah adat, tanggung jawab kepada masyarakat, produksi pangan, pendidikan adat, dan bentuk-bentuk pembangunan berkelanjutan yang berakar pada tempat.

Logline

Menghadapi deforestasi, pencemaran, perampasan tanah, dan hilangnya tenaga muda dari kampung, Pemuda Adat kembali ke wilayah leluhur untuk membangun jalan baru melalui pertanian, pendidikan, kerja kebudayaan, perlindungan lingkungan, dan pengorganisasian masyarakat.

Sinopsis

Kampung Bukan Tempat yang Ditinggalkan

Pendidikan dan kehidupan kota sering dihadirkan sebagai perjalanan satu arah untuk meninggalkan kampung. Orang muda pergi belajar atau bekerja, sementara wilayah adat kehilangan calon pemimpin, tenaga kerja, dan keberlanjutan pengetahuan.

Homecoming Movement membalikkan anggapan tersebut. Pemuda Adat kembali dengan keterampilan, kepercayaan diri, serta rencana untuk pertanian organik, kebun obat, ekonomi kampung, sekolah adat, pemulihan ekologi, dan dokumentasi wilayah adat.

Film menempatkan kepulangan sebagai keputusan kebudayaan, ekologis, politik, dan ekonomi. Pulang bukan nostalgia dan bukan bukti kegagalan. Pulang merupakan pilihan sadar untuk membangun masa depan dari tempat hak, pengetahuan, identitas, serta tanggung jawab berakar.

Dari “Ilmu Pergi” Menuju Arus Balik

Mempertanyakan Satu Pengertian Sempit tentang Keberhasilan

Gerakan ini menanggapi pola yang sering disebut ilmu pergi: pendidikan dan pekerjaan membawa Pemuda Adat semakin jauh dari kampung, pengetahuan leluhur, dan wilayah adat. Keberhasilan kemudian dihubungkan dengan keberangkatan yang bersifat tetap.

Gerakan Pulang Kampung menciptakan arus balik. Film ini tidak menolak kota dan tidak menolak pendidikan. Film mempertanyakan apakah pendidikan juga dapat memperkuat kampung dan apakah keberhasilan dapat mencakup kepulangan dengan pengetahuan, imajinasi, serta tanggung jawab.

Mengapa Pulang?

Hal-Hal yang Dipertaruhkan Ketika Orang Muda Pergi

Kepemimpinan Masa Depan

Kampung membutuhkan tenaga muda, kemampuan mengorganisasi, dan generasi baru yang siap membawa tanggung jawab masyarakat.

Keberlanjutan Pengetahuan

Bahasa, hukum adat, sistem pangan, nama tempat, cerita, praktik ekologis, dan pengetahuan tetua membutuhkan pewarisan yang hidup.

Perlindungan Wilayah

Wilayah adat menjadi lebih rentan terhadap perampasan tanah, proyek ekstraktif, kerusakan hutan, dan klaim dari luar ketika kehadiran masyarakat melemah.

Ekonomi Kampung

Pemuda yang kembali dapat mengembangkan produksi pangan, kelompok tani, peternakan, kebun herbal, ekowisata, dan kegiatan ekonomi yang dikendalikan dari kampung.

Gerakan dalam Praktik

Enam Jalur Kepulangan yang Saling Terhubung

01 · Pendidikan Adat

Bahasa, sejarah, hukum adat, tanah, hutan, sungai, pangan, ritual, dan praktik kebudayaan.

02 · Menelusuri Jejak Leluhur

Penuturan tetua, tempat sakral, nama tempat, makam, jalur perpindahan, dan batas wilayah.

03 · Kedaulatan Pangan

Pertanian, kebun, peternakan, tanaman obat, kerja bersama, dan sistem pangan yang dikendalikan masyarakat.

04 · Pemantauan Wilayah Adat

Dokumentasi hutan, sungai, batas, perubahan ekologi, dan ancaman terhadap wilayah adat.

05 · Advokasi dan Kepemimpinan

Pengorganisasian, advokasi hak, partisipasi politik, dan regenerasi kepemimpinan Masyarakat Adat.

06 · Media dan Cerita

Film, fotografi, tulisan, grafis, dan dokumentasi telepon pintar yang dibuat dari dalam masyarakat.

Pendekatan Pembuatan Film

Mendengarkan sebelum Merekam

Cerita tumbuh dari kedekatan dengan kehidupan kampung dan pengorganisasian Pemuda Adat, bukan dari pencarian subjek oleh orang luar. Perencanaan dimulai melalui percakapan, kepercayaan, dan kehadiran. Tim kecil mengikuti irama kehidupan masyarakat tanpa memaksakan jadwal produksi yang kaku.

Telepon pintar memungkinkan pembuat film Masyarakat Adat dari berbagai wilayah merekam kerja, wajah, tanah, keheningan, hubungan, dan tindakan nyata. Tujuannya adalah membuat film dengan martabat, bukan menjadikan masyarakat sebagai objek.

Informasi Film

Detail Proyek

Judul Resmi

Homecoming: Indonesian Indigenous Youth Return to the Community

Format

Dokumenter pendek

Durasi

8 menit 20 detik

Dirilis

November 2021

Lokasi

Indonesia

Metode Produksi

Direkam oleh pembuat film Masyarakat Adat menggunakan telepon pintar

Mitra Produksi

If Not Us Then Who?

Konteks Gerakan

Gerakan Pulang Kampung · BPAN / AMAN

Pembuat Film Masyarakat Adat

Film Kolektif dari Berbagai Wilayah

Film dibuat oleh pembuat film muda Masyarakat Adat menggunakan telepon pintar:

Arwan Oscar · Ergkos Kosasih · Sucia Lisdamara · Alqadri Arsyad · Ramlan · Kalfein Wuisan

Pemutaran dan Dialog

APCEIU × SIMA · 2026

Film dipresentasikan melalui pemutaran dan dialog langsung APCEIU bersama SIMA yang membahas penceritaan Masyarakat Adat, orang muda, tanah, migrasi balik, ketahanan masyarakat, dan makna pulang kampung.

Tonton Film

Tonton Homecoming

Film lengkap dan informasi resmi proyek tersedia melalui If Not Us Then Who?


Tonton Film Lengkap


Bicarakan Pemutaran


Lihat Semua Film