Dokumenter · Film Selesai · 2018
Dokumenter tentang kembalinya Kawasaran Sumonder, tradisi Kawasaran khas
Sonder yang selama beberapa generasi tidak pernah lagi dipentaskan.
Tentang Film
Kembalinya Kawasaran Sumonder
Kawasaran Sumonder Reborn mendokumentasikan kemunculan kembali
Kawasaran Sumonder, sebuah tradisi pertunjukan adat Minahasa yang
berkaitan dengan orang-orang Sonder.
Istilah Sumonder merujuk kepada orang-orang yang berasal dari
atau tinggal di Sonder, Minahasa. Walaupun menjadi bagian dari tradisi
Kawasaran yang lebih luas, Kawasaran Sumonder memiliki syair, gerakan,
struktur pertunjukan, dan makna filosofisnya sendiri.
Berdasarkan ingatan sejarah komunitas, bentuk Kawasaran ini tidak pernah
lagi dipentaskan secara terbuka sejak sekitar abad ke-19.
Logline
Setelah menghilang dari ruang pertunjukan selama beberapa generasi,
generasi muda dan pekerja kebudayaan di Sonder menyusun kembali
Kawasaran Sumonder dari syair, gerakan, ingatan, serta pengetahuan
sejarah yang masih tersisa.
Sinopsis
Mengumpulkan Kembali Tradisi yang Dimakan Masa
Sejak 2009 hingga 2017, sejumlah orang di Sonder berusaha mengumpulkan
kembali syair, gerakan, cerita sejarah, dan berbagai kepingan
pengetahuan yang berkaitan dengan Kawasaran Sumonder.
Usaha tersebut melibatkan almarhum Manguni Carlos Rednos, Septian
Lolowang, sejarawan kebudayaan Minahasa Fredy Sreudeman Wowor, serta
anggota komunitas kebudayaan lainnya di Sonder.
Kerja panjang itu akhirnya memungkinkan terbentuknya satu kelompok
Kawasaran yang sebagian besar anggotanya merupakan generasi muda dari
Kauneran, Talikuran, Sendangan, Tincep, dan Leilem.
Pada 2017, Kawasaran Sumonder kembali tampil di hadapan publik dalam
acara pentahbisan gedung gereja Katolik di Sonder. Film ini memuat
dokumentasi pentas perdana tersebut serta menjelaskan alasan di balik
kemunculan kembali tradisi ini.
Kawasaran dengan Ciri Tersendiri
Sembilan Babak dan Dua Puluh Tujuh Syair serta Gerakan
Kawasaran Sumonder memiliki perbedaan dengan bentuk Kawasaran yang
umumnya dipentaskan di Minahasa. Tradisi yang berhasil disusun kembali
ini memiliki sembilan babak pertunjukan dan dua puluh tujuh syair serta
gerakan.
Kawasaran Sumonder tidak berpusat pada aksi unjuk kekebalan. Tradisi ini
dipahami sebagai tarian syukur kepada Tuhan atas perlindungan-Nya dalam
peperangan dan dalam kehidupan komunitas.
Di antara syair pentingnya terdapat Mapokey asi Casuruan,
yaitu permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Mahakuasa, serta
Masembong, yang mengandung nilai saling membantu.
Kebudayaan dan Kekristenan
Pertunjukan di dalam Kehidupan Gereja
Pentas perdana Kawasaran Sumonder pada 2017 berlangsung dalam acara
pentahbisan gedung gereja Katolik di Sonder.
Peristiwa tersebut menunjukkan hubungan penting antara praktik
kebudayaan Minahasa dan Kekristenan dalam kehidupan orang Sonder.
Kembalinya Kawasaran Sumonder tidak ditempatkan sebagai penolakan
terhadap iman Kristen, melainkan sebagai usaha mengenali pengetahuan
budaya, ingatan bersama, dan identitas lokal dalam kehidupan komunitas
masa kini.
Penyusunan Kembali oleh Komunitas
Generasi Muda Menghidupkan Kembali Tradisi
Kembalinya Kawasaran Sumonder dimungkinkan melalui riset bersama,
sejarah lisan, ingatan kebudayaan, serta kemauan generasi baru untuk
mempelajari gerakan dan syair yang hampir hilang.
Film ini memperlihatkan bahwa kebangkitan kebudayaan bukan sekadar
mengulang masa lalu. Ia merupakan proses aktif untuk mencari kepingan
pengetahuan, mempelajarinya, melatihnya, lalu mengembalikannya kepada
komunitas.
Tentang Wale Papendangan
Rumah untuk Belajar dan Bekerja bagi Kebudayaan
Film ini diproduksi oleh Wale Papendangan, sebuah rumah bersama yang
berfokus pada pengkajian sastra dan kebudayaan Minahasa.
Nama Wale Papendangan secara harfiah dapat dipahami sebagai rumah atau
pusat tempat belajar. Ruang ini berlokasi di rumah budayawan Minahasa
Fredy Sreudeman Wowor di Sonder, Minahasa.
Peluncuran Film
Empat Kali Pemutaran dalam Satu Malam
Kawasaran Sumonder Reborn diluncurkan pada 18 Januari 2018 di
Wale Papendangan, Sonder.
Walaupun undangan baru disebarkan beberapa jam sebelum kegiatan, rumah
tersebut dipenuhi anggota komunitas Kawasaran, seniman, pekerja
kebudayaan, dan warga yang datang untuk menonton.
Karena banyaknya orang yang hadir, film ini diputar sebanyak empat kali
untuk empat kelompok penonton. Setiap pemutaran dilanjutkan dengan
percakapan dan diskusi yang berlangsung hingga larut malam.
Pertemuan itu juga disertai jamuan yang disiapkan anggota Kawasaran
Sumonder, antara lain ubi bete rebus, dabu-dabu, dan pinaraci.
Informasi Proyek
Detail Film
Judul
Kawasaran Sumonder Reborn
Format
Dokumenter
Tahun
2018
Lokasi
Sonder, Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia
Subjek utama
Kemunculan kembali Kawasaran Sumonder
Produksi
Wale Papendangan
Peluncuran film
18 Januari 2018 · Wale Papendangan, Sonder
Asal anggota kelompok Kawasaran
Kauneran · Talikuran · Sendangan · Tincep · Leilem
