Dokumenter · 2024 · Indonesia · 15 menit 29 detik
Bahasa: Manado dan Tontemboan · Takarir: Bahasa Inggris
Tonton Trailer ·
Minta Akses Screener Privat ·
Undang Film untuk Pemutaran
Tentang Film
Pada usia 73 tahun, Rolly Wuisan, seorang anggota Masyarakat Adat Minahasa dari Sulawesi Utara, telah bekerja selama lebih dari 50 tahun sebagai pembuat cap tikus tradisional sekaligus penjaga tanahnya. Film ini mengikuti perjalanan hariannya dari rumah menuju kebun, tempat ia memanjat pohon-pohon seho yang menjulang tinggi untuk mengambil nira, mencari kayu bakar, dan menyuling cap tikus, minuman beralkohol tradisional Minahasa yang dihasilkan melalui penyulingan nira seho.
Pekerjaan Rolly berakar pada pengetahuan leluhur yang memandang manusia dan alam sebagai kerabat dekat yang memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga. Di tengah pekerjaannya yang berat, ia menanam dan merawat pohon serta menjaga hutan, sungai, dan tanah di sekitarnya agar terus menopang kehidupan generasi berikutnya.
Rolly: A Story of My Father adalah potret meditatif tentang kerja, ketangguhan, dan hubungan seorang ayah dengan tanah yang telah dijaganya sepanjang hidup. Diceritakan oleh anaknya sendiri, film ini merefleksikan peran penting pengetahuan Masyarakat Adat dalam menghadapi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan kehidupan.
Trailer
Pernyataan Sutradara
Saya selalu tertarik menonton film tentang orang-orang yang menjaga bumi. Namun, banyak cerita itu berasal dari tempat yang jauh dari tempat saya hidup. Kemudian saya menyadari bahwa kisah-kisah serupa sebenarnya ada di sekitar saya—termasuk kisah seseorang yang sangat dekat dengan saya: ayah saya, Rolly Wuisan.
Bagi banyak orang, ayah saya mungkin hanya terlihat sebagai seorang pembuat cap tikus tradisional. Bagi saya, ia adalah orang yang luar biasa. Dari dirinya, saya belajar bagaimana manusia berhubungan dengan alam, dengan sesama manusia, dan dengan Sang Pencipta. Pekerjaan sehari-harinya tidak terpisah dari tanggung jawabnya menjaga tanah. Ia mengambil nira dari pohon seho, mencari kayu bakar, menyuling cap tikus, menanam pohon, mengawasi hutan, dan menjaga sungai yang menopang kehidupan masyarakat kami.
Merekam dirinya bukanlah hal yang mudah secara emosional. Melalui kamera, saya semakin menyadari bagaimana usia telah mengubah tubuhnya. Saya mendengar napasnya ketika berjalan melewati perbukitan sambil membawa wadah-wadah yang berat. Saya melihat keringat di tubuhnya dan kesulitan yang semakin terasa ketika mengerjakan pekerjaan yang telah dilakukannya selama lebih dari lima dekade. Ada saat-saat ketika saya terlalu tersentuh untuk menekan tombol rekam.
Berada di dekatnya selama pembuatan film ini menjadi pengalaman yang sangat personal dan spiritual bagi saya. Pengetahuan tentang bagaimana hidup dan menjadi seorang Minahasa—pengetahuan yang semakin langka—saya terima langsung dari orang yang darahnya mengalir dalam tubuh saya. Karena itu, film ini bukan hanya potret tentang ayah saya. Film ini juga menjadi perjumpaan dengan identitas, warisan, dan tanggung jawab saya sendiri.
Rolly: A Story of My Father semakin menguatkan keyakinan saya bahwa Masyarakat Adat harus dapat menceritakan kisahnya sendiri. Menceritakan kisah dari dalam keluarga dan komunitas merupakan salah satu bentuk dekolonisasi pengetahuan. Melalui film, kami dapat berbicara dengan suara sendiri, menggambarkan kehidupan berdasarkan cara pandang sendiri, dan meneruskan pengetahuan yang mungkin perlahan menghilang.
Saya percaya bahwa film adalah mantra audiovisual. Film dapat menggugat, menggerakkan, memprovokasi, dan mengubah manusia. Ketika sebuah film dapat mengubah orang yang membuatnya, mungkin film itu juga dapat mengubah orang yang menontonnya.
Festival dan Pemutaran
2026
Ahmedabad International Film Festival — India
Nominasi Resmi
FICNOVA – Festival Film Internasional Nonkekerasan Aktif — Spanyol
Seleksi Resmi
2025
Sydney Film Festival — Australia
Seleksi Resmi
Finalis First Nations Award
Finalis Sustainable Future Award
Frome International Climate Film Festival — Britania Raya
Seleksi Resmi
EcoFrames Environmental Film Festival
Seleksi Resmi
Antares Film Festival
Seleksi Resmi
FINCALI — Kolombia
Seleksi Internasional
IndiFest — Barcelona, Spanyol
Seleksi Resmi
Jogja-NETPAC Asian Film Festival — Indonesia
Seleksi Resmi
International Festival of Ethnological Film — Beograd, Serbia
Seleksi Resmi
Kredit
Sutradara, Penulis, dan Produser
Kalfein Maikel Wuisan
Sinematografi, Penyuntingan, dan Suara
Kalfein Maikel Wuisan
Menampilkan
Rolly Wuisan
Spesifikasi
Jenis Film: Dokumenter
Durasi: 15 menit 29 detik
Tanggal Selesai: 9 Desember 2024
Negara Asal: Indonesia
Lokasi Produksi: Indonesia
Bahasa: Manado dan Tontemboan
Takarir: Bahasa Inggris
Format Pengambilan Gambar: Digital
Rasio Gambar: 16:9
Warna: Berwarna
Biografi Sutradara
Kalfein Maikel Wuisan adalah pembuat film, penulis, dan pencerita dari Masyarakat Adat Minahasa yang berasal dari Wuwuk, Sulawesi Utara, Indonesia. Sejak 2009, ia menggunakan fotografi dan film untuk memperkuat identitas Masyarakat Adat, mendokumentasikan pengetahuan budaya, dan mendukung komunitas dalam menceritakan kisah mereka sendiri.
Ia menggagas Smartphone Movement, sebuah inisiatif yang dipimpin oleh pemuda Masyarakat Adat untuk membantu masyarakat menggunakan perangkat digital yang mudah diakses dalam fotografi, pembuatan film, desain grafis, serta perjuangan melindungi Masyarakat Adat dan wilayah adatnya.
Karya Kalfein berakar di Minahasa dan berfokus pada pengetahuan Masyarakat Adat, keberlanjutan budaya, keadilan lingkungan, serta hubungan manusia dengan tanah leluhurnya. Film dan karya audiovisual berbasis komunitas yang ia kerjakan telah dipresentasikan di Indonesia dan berbagai ruang internasional. Ia juga terlibat sebagai fasilitator, pelatih, pembicara, dan juri film dalam berbagai program kebudayaan, lingkungan, dan media Masyarakat Adat.
Foto Film






Pemutaran dan Materi Film
Screener privat dan materi film tersedia bagi festival film, programmer, kurator, peneliti, organisasi media, dan mitra pemutaran komunitas.
Minta Akses Screener Privat
Minta Materi Film
Undang Film untuk Pemutaran
