Film Pendek Religi-Budaya · Film Selesai · 2016
Film berdurasi 30 menit tentang Sampel, seorang mahasiswa Minahasa yang
bekerja membuat Cap Tikus dan hampir berhenti kuliah karena tidak memiliki
cukup biaya untuk menyelesaikan pendidikannya.
Tentang Film
Cerita tentang Kerja, Pendidikan, dan Pemberian yang Tulus
Upus merupakan film pendek religi-budaya yang berakar pada
kehidupan sehari-hari Tou Minahasa.
Film ini mempertemukan gagasan tentang pendidikan, kerja keras,
kesederhanaan, kearifan Minahasa, pelayanan Kristen, suka memberi, dan
kasih dalam kehidupan sebuah komunitas kampung.
Cerita berpusat pada Sampel, seorang mahasiswa muda, dan Kostor Alo,
pamannya yang bekerja sebagai kostor gereja. Sebuah pemberian yang
dilakukan Kostor Alo secara diam-diam kemudian mengubah masa depan
Sampel.
Logline
Seorang mahasiswa yang bekerja membuat Cap Tikus hampir berhenti kuliah
karena kesulitan biaya, sampai sebuah pemberian tanpa nama dari pamannya
yang menjadi kostor gereja memberinya kesempatan untuk menyelesaikan
pendidikan.
Sinopsis
Pemberian yang Hanya Perlu Diketahui Tuhan
Sampel adalah seorang mahasiswa muda Minahasa. Kehidupannya terbagi
antara kuliah, tanggung jawab keluarga, dan pekerjaan membuat Cap Tikus.
Ketika biaya untuk menyelesaikan pendidikan semakin sulit dipenuhi, ia
hampir berhenti kuliah.
Kostor Alo, paman Sampel, juga hidup dalam keadaan ekonomi yang terbatas.
Ia bekerja keras, melayani sebagai kostor gereja, dan memahami beratnya
perjuangan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Walaupun sama-sama hidup susah, Kostor Alo diam-diam memberikan uang
kepada Sampel agar ia dapat melanjutkan kuliah. Ia sengaja tidak ingin
Sampel mengetahui dari siapa bantuan tersebut berasal.
Bagi Kostor Alo, persembahan yang tulus tidak perlu diumumkan atau
digembar-gemborkan. Cukup Tuhan yang mengetahui siapa pemberinya dan
alasan pemberian tersebut dilakukan.
Uang itu akhirnya membantu Sampel melanjutkan dan menyelesaikan
pendidikannya.
Gagasan Utama
Pemberian yang tulus tidak membutuhkan pengakuan.
Maknanya tidak berada pada pujian orang lain, melainkan pada
kesediaan membantu tanpa mengharapkan balasan, kedudukan, atau ucapan
terima kasih.
Kostor Alo
Tokoh yang Tumbuh dari Kehidupan Nyata
Kostor Alo dikenal oleh pemuda-remaja dan jemaat KGPM Imanuel Wuwuk
sebagai orang yang suka bercanda, mudah tersenyum, rajin, dan pekerja
keras.
Ia melayani sebagai kostor gereja dan juga merupakan seorang pemanjat
kelapa yang ulung. Kehidupan sehari-hari, karakter, kerja,
kesederhanaan, dan pelayanannya menjadi sumber inspirasi penting bagi
film ini.
Dalam Upus, Kostor Alo menjadi paman Sampel sekaligus salah
satu tokoh utama yang menentukan arah cerita.
Film ini tidak banyak mengubah kualitas yang dikenal orang dari
kehidupan nyata Kostor Alo. Sifat suka bercanda, kegigihan, kerja keras,
dan ketekunannya dalam pelayanan gereja dipindahkan langsung ke dalam
karakter film.
Kekristenan Minahasa
Iman yang Dipraktikkan dalam Kehidupan Sehari-hari
Film ini tidak hanya menampilkan iman Kristen melalui ibadah, khotbah,
atau kegiatan formal gereja.
Iman juga diperlihatkan melalui kerja keras, pendidikan, kepedulian
terhadap keluarga, kemurahan hati, kerendahan hati, dan kesediaan
membantu orang lain dalam diam.
Kostor Alo menjadi gambaran seorang Kristen Minahasa hari ini yang
pelayanannya terlihat melalui tindakan sehari-hari, bukan melalui
pencarian pengakuan publik.
Cap Tikus dan Kehidupan Mahasiswa
Bekerja untuk Melanjutkan Pendidikan
Pekerjaan Sampel membuat Cap Tikus menjadi bagian dari kenyataan sosial
dan ekonomi yang menopang pendidikannya.
Film ini tidak memisahkan kehidupan mahasiswa dari bentuk pekerjaan
yang terdapat di kampung. Pendidikannya bergantung pada kerja,
pengetahuan, dan keadaan ekonomi yang tersedia dalam komunitasnya
sendiri.
Melalui pengalaman Sampel, film ini merefleksikan kesulitan yang
dihadapi orang muda ketika harus mempertahankan pendidikan sambil
memikul tanggung jawab keluarga dan ekonomi.
Nilai Kehidupan Komunitas
Kesederhanaan, Kerja Keras, dan Kasih
Upus mempertemukan sejumlah nilai yang berakar dalam kehidupan
komunitas Minahasa: ketekunan, pendidikan, kesederhanaan, suka memberi,
pelayanan, dan kasih kepada sesama.
Nilai-nilai tersebut tidak hadir sebagai pernyataan moral yang
abstrak. Semuanya terlihat melalui pekerjaan sehari-hari, hubungan
keluarga, kehidupan gereja, serta sebuah keputusan diam-diam yang
mengubah masa depan orang lain.
Proses Produksi
Film yang Dibuat dengan Peralatan Terbatas
Film ini diproduksi pada akhir 2016 melalui kerja sama Wuwuk Film,
KGPM Imanuel Wuwuk, dan Wuisan Felem.
Produksi tidak menggunakan peralatan besar seperti rumah produksi
komersial. Film dibuat melalui keterbatasan alat, kreativitas orang muda,
dan kerja bersama di dalam komunitas gereja serta kampung.
Kalfein Wuisan bekerja sebagai penulis skenario, sutradara, kamerawan,
dan editor.
Selama proses produksi, tim menghabiskan dua malam berturut-turut untuk
mengambil gambar di rumah Kostor Alo. Ia dan istrinya juga menerima
serta menjamu kru selama proses tersebut.
Pemutaran Perdana
Perayaan Natal di Wuwuk
Upus dipratayangkan pada 17 Desember 2016 di Wuwuk dalam
Perayaan Natal Komisi Pemuda Remaja KGPM.
Pemutaran tersebut membawa film langsung kepada jemaat dan komunitas
yang pengalaman sehari-hari, nilai kebudayaan, serta kehidupan
gerejanya membentuk cerita film ini.
Informasi Proyek
Detail Film
Judul
Upus
Format
Film cerita pendek religi-budaya
Tahun
2016
Durasi
30 menit
Tokoh utama
Sampel
Tokoh pendukung penting
Kostor Alo
Lokasi
Wuwuk, Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia
Produksi
Wuwuk Film · KGPM Imanuel Wuwuk · Wuisan Felem
Penulis skenario, sutradara, kamerawan, dan editor
Kalfein Wuisan
Pemutaran perdana
17 Desember 2016 · Wuwuk
Konteks pemutaran
Perayaan Natal Komisi Pemuda Remaja KGPM
Penutup
Tou Tumou. Tou Mamuali Tou. Tumou Tou.
